ISTRI SITAAN

ISTRI SITAAN
AIR MATA


__ADS_3

Ruangan tempat Serena dirawat begitu megah. Terdiri dari kamar pasien, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur. Dilengkapi dengan view balkon yang menampilkan keindahan pusat kota di sisi kanan, serta lapangan golf dan danau di sisi kiri.


Serena, gadis itu masih terbaring lemas. Oksigen, monitor, dan dua jalur infus terpasang di tubuhnya. Satu jalur berisi cairan elektrolit, jalur lainnya adalah transfusi darah.


Marvin duduk termenung di samping Serena. Apa yang baru saja disampaikan oleh dokter yang menangani Serena, membuat hatinya hancur-lebur dan sakit. Penyesalan yang menggunung, serta terus merasa bersalah. Buku-buku tangan kanan pria itu tampak dibalut verban. Ya, tadi Marvin sempat meninju tembok setelah mendengar kabar tesebut.


Untung saja ia berhasil ditenangkan oleh Hendrik dan beberapa orang dokter.


Apa yang terjadi?


Ternyata, kandungan Serena tidak dapat diselamatkan. Namun, Serena belum mengetahui kabar tersebut. Marvin akan merahasiakannya sampai Serena benar-benar pulih.


Serena tidak melewati proses kuretase. Janin yang dikandungnya keluar secara spontan karena masih berbentuk jaringan kecil. Dokter menduga jika keguguran yang dialami Serena akibat trauma, kelelahan dan faktor lain. Namun setelah Marvin menjelaskan kalau Serena sempat jatuh dari sepeda, dokter menyimpulkan jika jatuh dari sepeda adalah penyebabnya.


"P-Pak Bos!" Tiba-tiba Hendrik datang dengan wajah memucat.


"Kenapa?" tanya Marvin dengan suara pelan agar tidak menganggu Serena.


"Ada yang datang Pak Bos." Hendrik menunduk.


"Siapa?"


"Pak Bos temui saja. A-aku tidak berani mengatakannya."


"Ya ampun Hendrik. Ya sudah, kamu jaga Serena ya."


Melihat Hendrik yang ketakutan, Marvin jadi tidak tega memaksanya untuk menjawab. Marvin bergegas keluar.


...***...


"BUGH!"


Saat Marvin keluar dari kamar perawatan, sebuah tangan besar tiba-tiba meninjunya. Tangan-tangan lain memegangi Marvin di kiri dan kanan. Sementara si peninju, terus membabi-buta menyerang Marvin yang tidak melakukan perlawanan.


"Kurang ajar! Kamu nyaris membunuh putriku! Kau apakan Serena, hahh?!" teriaknya. Wajahnya memerah, menunjukkan jika amarah pria itu sedang menggebu-gebu.


"Aku sudah mengatakan dari awal agar kamu menyerahkan Serena! Dasar pria tidak tahu diri! Kamu sudah tahu 'kan kalau kamu dan Serena bukan suami-istri lagi?!"


Sekarang tangannya menjambak rambut Marvin dan bersiap membenturkan kepala Marvin ke tembok, namun pengawalnya mencegahnya.


"Mister Wandira, cukup. Kalau dia terluka parah, kita akan menghadapi masalah besar." Ia menahan tangan pak Wandira.


"Aku tidak peduli! Biarkan dia merasakan sakit seperti yang dirasakan putriku?! Kamu apakan putriku, hahh?! Kenapa dia bisa sampai keguguran?! Apa kamu sengaja menggugurkannya?! Atau kamu merudapaksanya tiap malam agar putriku melayani kenakalan kamu?!"


Pak Wandira benar-benar marah besar. Ia memang tidak jadi membenturkan kepala Marvin ke tembok, namun ia sekarang mencengkram rahang Marvin dan meninju bibir Marvin hingga pecah dan meneteskan darah.


"Silahkan siksa saya sampai Anda puas! Tapi tolong jangan pisahkan saya dengan Serena!"


"Sombong! Kamu pikir kamu siapa, hahh?! Kamu berani seperti ini karena merasa berkuasa?! Jangan mimpi!" Pak Wandira kemudian menendang Marvin hingga tersungkur ke lantai.


Marvin sebenarnya masih bisa berdiri, namun ia tetap memilih tersungkur dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Lalu air mata pria itu menetes membasahi lantai rumah sakit. Marvin tidak menangis karena kesakitan akibat serangan dari pak Wandira, namun ia menangis lantaran merasa sedih atas nasib dirinya. Ia merasa jika harta yang dimilikinya, sama sekali tidak berguna.


"Bangun kamu! Bangun!" Pak Wandira menarik kerah baju Marvin hingga koyak.


"Pecundang! Apa yang kamu tangisi, hahh?!"


"Pak Wandira, baiklah. Saya mengakui kesalahan saya. Saya akan bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi pada Serena. Tapi tolong, biarkan saya tetap bersama Serena. Saya mencintai Serena, Pak. Ini bukan tentang bisnis dan hutang piutang lagi. Ini tentang cinta tulus saya pada Serena." Marvin berusaha meraih tangan pak Wandira. Namun pak Wandira menepisya.


"Marviiiin!"


Teriakan dari seorang wanita mengagetkan semuanya. Ia berlari dan memeluk Marvin sambil menangis. Lalu kedatangan beberapa orang pria di belakang wanita itu, membuat suasana di selasar rumah sakit tersebut berubah menjadi menegangkan.

__ADS_1


"Tega sekali Anda melukai putraku! Mana hati nuranimu sebagai seorang ayah dan mertua! Dasar licik!" rutuknya sambil mengelap darah yang merembes dari bibir Marvin.


"Selamat datang."


Alih-alih memedulilan wanita itu, pak Wandira malah berdiri dan menghadap pada pak Jacob dan pengawalnya. Ya, benar. Wanita yang memeluk Marvin adalah mama Syakilla.


Orang-orang pak Wandira berdiri di belakang pak Wandira, pun dengan orang-orang pak Jacob. Mereka bersiaga di belakang pak Jacob sambil memantau sekitaran dan memastikan agar area tersebut steril dari pengujung lain. Hendrik yang awalnya penasaran dan ingin mengetahui apa yang terjadi, hanya bisa mengintip keadaan tersebut dari balik tirai dengan jantung berdegup.


"Ya Tuhan, ini seperti mau perang," gumam Hendrik. Lalu ia mengendap-endap dan kembali ke kamar Serena.


"Dengan menyakiti anak saya, kamu telah menabuh genderang perang, Wandira!" Pak Jacob melangkah mendekati pak Wandira.


"Aku bertindak seperti ini karena anak kamu kurang ajar! Dia hampir membunuh putriku! Apa kamu tahu, gara-gara kecerobohan dia, Serena keguguran!" tegas pak Wandira.


"Keguguran?! Ada baiknya putrimu keguguran! Lagi pula, anak itu belum tentu anaknya Marvin!"


"Papa!" sela Marvin. Ia tidak terima dengan ucapan papanya. Jelas-jelas, dirinya adalah orang pertama yang menyentuh mahkota suci milik Serena.


"Kamu kurang ajar! Anakku masih suci saat aku menyerahkannya pada anak kamu!"


Pak Wandira marah. Ia hendak menyerang pak Jacob, namun dicegah oleh anak buahnya.


"Mister Wandira, ini rumah sakit. Kalau kita ribut di sini, akan menimbulkan kegaduhan."


"Benar! Saya juga tidak mau ribut! Ini rumah sakit saya! Saya tidak mau nama baik rumah sakit saya tercemar gara-gara kamu! Saya datang ke sini karena ingin mengambil anak saya! Bawa dia!" titah pak Jacob pada anak buahnya.


"Papa! Saya tidak mau pergi! Lepas!" Marvin berontak, namun ia kalah jumlah.


"Silahkan bawa anakmu! Aku menyesal telah memberikan putriku pada dia! Bisa-bisanya dulu aku memberikan putriku pada buaya!"


"Anakku bukan buaya!" bela mama Syakilla.


"Hallah, aku tahu kehidupan seperti apa yang dijalani anak kamu! Dia pasti sering bermain dengan wanita j a l a n g dan baru menemukan kesenangan yang sesungguhnya setelah menikmati tubuh putriku!"


"Saya tidak pernah tidur dengan wanita manapun kecuali dengan Serena!" teriak Marvin.


Lalu sebuah tonjokan kuat tanpa diduga oleh siapapun mendarat di pipi pak Wandira.


"Rasakan! Beraninya kamu memfitnah putra saya! Anak saya pria bermoral!"


Ternyata, yang menonjok pak Wandira adalah pak Jacob. Pak Wandira ingin membalas, namun lagi-lagi anak buahnya menghalanginya.


Lalu Marvin diseret paksa.


"Papa! Saya tidak mau pergi! Jangan memisahkan saya dari Serena! Serenaaa! Serenaaa!" teriak Marvin. Pemandangan itu terlihat memilukan.


"Kamu bukan suami dia lagi," tegas pak Wandira.


"Itu secara hukum, Pa. Tapi secara agama Marvin masih suaminya! Marvin tidak pernah mengucapkan talak pada Serena, Pa! Dan itu tidak akan pernah terjadi!" Marvin kembali berontak.


"Dokter!" teriak pak Jacob. Lalu seorang dokter mendekat dan menyuntikkan sesuatu pada Marvin. Marvin berusaha menghindar, namun ia kalah.


"Papa ...."


Marvin lemas, ia tidak menyangka jika papanya tega membiusnya. Kesadaran Marvin perlahan menghilang. Namun di alam bawah sadarnya, bibirnya terus memanggil nama Serena. Lalu mata pria itu terpejam dan tubuhnya segera diboyong oleh para pengawal sebelum ambruk dan menyentuh lantai.


Dalam ketidaksadarannya, air mata Marvin terus meleleh. Itu membuktikan jika batin pria itu benar-benar sedih dan sangat terluka.


Pak Wandira menghela napas. Ia menatap kepergian rombongan pak Jacob dengan tatapan tidak terbaca. Benarkah Marvin mencintai Serena dengan tulus? Ia masih ragu.


...***...

__ADS_1


"Kamu boleh pergi, silahkan susul majikan kamu. Eren tidak membutuhkan kamu lagi," usir pak Wandira pada Hendrik.


Hendrik mengangguk lemah, ia tidak berani mengatakan hal apapun. Segera berkemas dan pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menatap lama pada Serena.


"Nona Serena, aku pergi ya. Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku akan berdoa untuk kebaikan Anda," gumamnya. Lalu membungkuk dan pergi.


"Serena ..., maafkan Papa, sayang."


Setelah Hendrik pergi, pak Wandira menciumi tangan Serena. Mata pria itu berkaca-kaca. Ia menyesal telah menjadikan Serena terlibat dalam masalah ini.


"Semuanya akan segera berakhir, sayang. Kamu akan menjalani hidup yang baru dan bahagia."


Kemudian ia mencium kening Serena dan mengusap pipinya. Lalu tangannya mengepal kuat saat melihat tanda cinta di leher Serena. Tanda cinta itu nyaris berwarna hitam. Itu membuktikan jika Marvin memperlakukan tubuh Serena dengan kasar dan semena-mena.


"Ma-Marvin ...." Serena membuka matanya perlahan.


"Eren, kamu sudah sadar? Ini Papa, Nak? Ini Papa, sayang."


"Pa-Papa?"


Serena terkejut. Matanya berputar ke sekitaran.


"Iya, ini Papa, sayang. Papa sudah tidak bangkrut. Kita bisa berkumpul seperti dulu lagi."


"Papa, Marvin mana Pa? Suamiku kemana? Pak Bos, Pak Bos," panggilnya.


Serena seolah tidak peduli dengan keberadaan papanya. Ia berusaha bangun dan terus memanggil-manggil Marvin.


"Sayang, kamu harus istirahat. Sebentar lagi mama dan adik-adik kamu akan datang ke sini."


"Tapi Marvin mana Pa? Marvin mana?"


"Marvin bukan suami kamu lagi. Dia sudah pergi."


"Apa? Marvin tidak mungkin pergi tanpa mengabariku, Pa."


"Eren, sudah sayang. Dia bukan pria yang bisa diandalkan. Dia sudah mencelakai kamu. Apa kamu sudah tahu kalau kamu keguguran?"


"A-apa?" Serena memegang perutnya tidak percaya.


"Ya sayang, kamu keguguran."


"Huuu. Ti-tidak mungkin, Pa! Huuu. Bayiku masih hidup! Papa pasti bohong!" sangkal Serena.


"Eren, sudah sayang. Kamu harus sabar." Pak Wandira memeluk Serena.


"Lupakan pria itu, dan bersiaplah untuk memulai kehidupan baru kamu. Besok, kamu akan akan menjalani operasi. Setelah pulih, kamu harus mempersiapkan diri untuk menikah."


"A-apa?! Operasi apa, Pa?! Menikah dengan siapa?!" teriak Serena.


"Operasi untuk memulihkan bagian intim kamu. Calon suami kamu sebenarnya tidak meminta agar tubuh kamu dipulihkan, namun papa inisiatif melakukannya sebagai hadiah karena dia telah menolong papa dan mau menerima kamu apa adanya."


"Papa! Aku menolak menikah dengan siapapun! Aku istrinya Marvin, Pa! Aku juga tidak mau dioperasi! Papa! Aku manusia! Aku bukan barang komoditi yang bisa Papa perjualbelikan seenaknya saja! Aku benci Papa! Pergiii!"


Serena mendorong bahu pak Wandira dan melanjutkan tangisnya. Ia memeluk lututnya dan terisak-isak. Ia kecewa karena papanya belum berubah. Pria yang bergelar sebagai papanya itu, ternyata tega menjadikan tubuhnya sebagai komoditi untuk mendapatkan keuntungan.


"Eren. Kamu tenang dulu. Biar Papa jelaskan pelan-pelan ya."


"Aku tidak mau bicara sama Papa lagi! Kenapa Papa tidak membunuh aku saja?!"


Serena meronta-ronta, ia bahkan berusaha melepas infusan. Pak Wandira menahan tangan Serena dan segera menekan bel untuk meminta bantuan suster. Lalu suster tiba dan menyuntikkan obat penenang pada Serena. Sama halnya seperti Marvin, di alam bawah sadarnya, Serenapun terus memanggil nama Marvin.

__ADS_1


...~Next~...


__ADS_2