Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
SIUMAN MERTUA


__ADS_3

Esok Harinya.


Alea telah berada dalam mobil. Ia masih menunggu Sinta yang pergi menuju parkiran. Alea termangu, ketika supir itu melajukan mobilnya.


"Tunggu Pak. Teman saya belum naik, dia masih di loby, mohon menunggu sebentar!"


"Maaf. Tapi perintah bos anda harus lebih dulu. Ini perintahnya."


Alea terkejut, ia memegang ponselnya dan berkata dalam voice note. Hingga berkali - kali ia mengirim. Tapi belum juga ada balasan, bahkan di baca pun belum.


"Sin. Kamu dimana, please jawab pesan aku. Kamu di mana?"


Alea memegang gagang pintu mobil. Suasana dalam mobil membuatnya takut dengan orang asing. Sehingga supir pribadi itu melirik dalam spion dan membalas rasa khawatir Alea.


"Sudah sampai Nona!"


Alea yang tadinya gugup, ia membuka hordeng kaca. Lalu menatap gedung yang tak asing. Gedung yang selalu ia hampiri.


"Owh. Terimakasih, saya sudah boleh turun. Sampaikan pada bos anda. Meski saya tidak mengenalnya. Terimakasih atas bantuan nya!"


Alea pun berlari menuju ruangan tujuh kosong tujuh. Di mana ia yang masih memakai piyama, ia tak membawa apapun untuk menjenguk ruangan sang mama. Hingga di mana mobil itu baru berjalan, ketika ia telah masuk kedalam rumah sakit.


"Aneh. Kenapa bantuan itu tepat, aku baru sampai. Dia baru pergi, sungguh aneh. Sinta kemana sih? kenapa dia belum balas juga." benak Alea.


TLING! PESAN SUARA.


Alea berfikir itu adalah balasan dari Sinta. Tapi itu adalah email dari perusahaan ia bekerja.


"Haaah. Apaa, ini ga adil. Kenapa, a-aku di rumahkan sementara?" Gugup.


Alea menjatuhkan ponselnya, sungguh ia lemas dan duduk di kursi kamar pasein. Ia menatap Mama Riris yang masih mengenakan infus di beberapa titik tubuhnya. Lalu menatap nakas meja, terdapat parcel buah.


Sepertinya banyak sekali buah, tapi kalau di lihat. Ada yang baru menjenguk, Alea pun berlalu keluar menanyakan pada receptionist, apa ada seseorang yang menjenguknya sebelum ia tiba.


Beberapa menit Alea tiba dengan nafas yang terengah - engah.


"Sus, apa ada yang menjenguk selain saya. Kamar tujuh Nyonya Anggara, ibu dari Haris Anggara?"

__ADS_1


"Sebentar ya bu. Saya cek dulu."


Selama lima menit lebih, suster itu mengatakan. Jika seorang pria belum lama menjenguk dan dia bicara masih kerabat keluarga Anggara.


"Apa anaknya. Sus, Mas Haris datang?'


"Sepertinya saya baru pertama kali melihatnya. Karena saya baru bertukar sift."


Mendengar penjelasan itu. Alea berterimakasih lalu kembali ke ruangan kamar Mama Riris. Alea pun menatap sebuah destop untuk mengecas. Alea yakin, dia dan Haris tak pernah mempunyai model pengisi daya ponsel seperti itu.


Tak lama perutnya berbunyi, ia pun membelah parsel itu dan mencuci, memotong buah untuk pengganjal rasa laparnya. Jelas dari sore, ia belum sempat makan sesuatu karena wawancara Irene yang membuatnya kesal.


TRIIIING. VOICE NOTE MASUK.


"Al. Lo udah sampe di rumah sakit, gue baru tau kalau kediaman lo sekarang ga aman. Banyak wartawan, juga rumah gue. Untuk saat ini rumah sakit adalah yang teraman. Lo jangan keluar dari sana. Pagi dan sore gue bakal anter beberapa pakaian ganti ya!"


Alea yang memakan apel merah. Ia tersedak kala mendengar pesan suara Sinta. Ia memutar mata dan kesal, hingga rasa laparnya tertunda. Tubuhnya menjadi tak berdaya kala mengingat satu indonesia yang menjadi bahan perbincangan tentang dirinya.


"Irene. Kamu seleb terkenal, tapi piciknya kamu. Kembali naik dengan cara menindasku. Apa belum cukup untuk bermain denganku setelah merebut suamiku, kamu mempunyai anak dari suamiku. Jelas kamulah pelakor sebenarnya." lirihnya.


Alea pun duduk tertidur di pangkuan lengan sang mertua. Ia bercerita banyak dan mengelus lengan mama mertua sambil bercerita.


Mama, apa saat ini mama mendengar. Mama tau, jika Alea saat ini sedang sulit mencari bukti. Mama tau, jika Mas Haris tak pernah mencintai Alea lagi karena wanita itu. Apa kurangnya Alea, haah .. Ya. Alea sadar, Alea tau diri siapa Alea. Hanya karena Mama menyukai Alea, Hanya karena almrahum papa Angga menyukai Alea yang membuat Haris tersenyum. Dan lebih parah, memang Alea mandul.


Tapi sayang. Mas Haris hanya menganggap Alea teman asing. Sekedar teman di kala waktu ia menatap langit dan mengerjakan pekerjaanya. Begitu Alea mendengar perkataan Mas Haris tidak suka jika kita terus melanjutakan pernikahan. Alea sangat kecewa, tapi Alea berusaha sabar dan menerima. Berharap Mas Haris bisa membuka hati karena ia gila kerja.


Tapi Lambat laun, Alea mengerti. Mas Haris bukan gila kerja. Mas Haris mencintai seseorang, seseorang yang lebih sepadan untuknya. Alea terlalu serakah mah, hingga kesulitan ini, Alea bingung untuk mencari bukti bahwa Alea tidak bersalah karena ulah wanita itu.


Apa Mama disana menyetujui, jika Alea berpisah. Alea mempertahankan meski belum sempurna menjadi istri Mas Haris.


"Alea harap mama memaafkan, ketidak berdayaan Alea. Alea minta maaf Mah!"


Alea masih bercerita, hingga di mana ia tidur dengan posisi duduk, sambil menangis tak biasa. Ia melupakan gerakan jari yang bergerak tanpa ia sadar.


"Maafkan Mama nak. Semua salah kami yang memaksamu. Kamu terbaik dan sepadan, tidak ada yang lebih baik. Mama menginginkan kamu menjadi menantu mama, bertahanlah Rebut hati Haris lagi Nak!" deru batin Mama Riris dalam alam bawah sadarnya.


Ia mulai bisa menggerakan jari, tapi matanya sulit untuk ia buka dan gerakan untuk menoleh. Hanya sebuah pendengaran yang masih jelas ia tau. Sehingga ia mengeluarkan air mata dan kembali lemas.

__ADS_1


DI PAGI HARINYA.


Alea terkejut akan aroma mie instan yang panas. Ia mengerjapkan matanya, lalu menoleh kesampingnya.


Terlihat suster sedang merawat mama Riris. Dan Sinta sahabatnya telah tersenyum duduk di sampingnya.


"Sin. Di sini, dari kapan. Kok gue .. ?"


"Ia gue pindahin lo ke sofa. Gue udah bawain makanan kecil, gue taro beberapa di kulkas Ya!"


"Lo mau kemana?"


"Kerja." menatap dengan penyesalan.


"Owh. Ya, oke Sin. Gue lupa, kalau gue sekarang udah di berhentiin." lemas.


Sinta pun memeluk Alea. Lalu memintanya bersabar. Lalu ia berjanji akan kembali sore menjenguknya.


"See you. Baik - baik ya. Gue ga mau lo sedih teus Al!" ucap Sinta.


"Thanks Ya, Sin."


Setelah beberapa saat. Alea membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu ia makan beberapa makanan kecil dan menatap suster masuk, tiba saja meminta dirinya keruangan dokter Celine.


"Nona Alea. Dokter meminta anda keruangannya!"


Tak menunggu lama, Alea pun mengetuk pintu ruangan dokter. Setelah beberapa saat berjalan menuju ruangannya. Hingga di mana dokter Celine mempersilahkannya duduk.


"Silahkan duduk Nona Alea!"


"Ya. Apa ada perkembangan lagi dokter?" tanya Alea. Hingga beberapa saat dokter celine mengungkap kejelasan dengan detail perkembangan mama Riris.


"Apa dok?" cemas Alea.


Tbc.


Delay Up! maafkan, karena sedang merevisi on going tiga karya.

__ADS_1


Bukan Istri Simpanan, masih tahap revisi.


Yuk mampir Bad Wife , Dady Danzel. ( end )


__ADS_2