
Di Rumah.
Alea sedikit pusing dan mual entah kenapa rasanya seperti orang yang belum makan, saat itu juga Theo langsung meminta Alea masuk ke kamar dan beristirahat.
"Mas temani aku tidur ya! Jangan pergi kemana mana!" genggam Alea pada lengan mas Theo.
"Ya mas janji." senyum Theo, yang kala itu ingin sekali membeli sesuatu karena keadaan Alea terus saja muntah muntah lemas.
Beberapa jam kemudian, Alea sedikit terbangun, ia menatap mas Theo tak ada. Ia memanggil manggil, tetap saja tak ada suara pria yang mengiringi suara hatinya.
"Mas, mas kamu di mana mas?" teriak Alea.
Alea segera bangun dari ranjang tidurnya, hingga di mana ia menatap jelas jika mantel sang suami tak ada. Hanya secarik kertas yang ia dapat ketika sang suami meninggalkan pesan.
"Mas ke apotik sebentar. Mas janji tak akan lama, jaga bayi kita dan dirimu selalu sehat ya. Mas akan suruh handle Erik untuk mengurus survey toko baru dan yang lainnya!" pesan Theo.
"Mas, semoga kamu belum jauh. Aku bisa saja hanya maag, apa mas pikir aku sedang hamil?" lirihnya.
Namun tak sengaja, perutnya semakin sakit. Ia mencoba menghubungi Erik. Dengan cepat Erik mengangkat panggilan dari Alea.
[ Erik, tolong kejar mas Theo. Aku mohon, aku merasa tak enak akan hari ini. Aku telah mencegahnya, tapi aku awkh ... ] Alea berteriak kesakitan memegang perut.
"Bu, bu anda tidak apa apa bu. Bertahanlah saya akan tiba!"
__ADS_1
Erik menutup ponselnya, ia segera berlalu pergi meninggalkan pekerjaan. Menata laptop dan segera pergi ke apartement Theo. Karena ia yakin, telah terjadi sesuatu pada bu Alea, Jika dari suara nya terlihat bu Alea telah di ikuti seseorang tapi tak bilang, di saat ada yang ia curigai.
BERBEDA HAL DENGAN IRENE.
Irene cukup senang, kala Theo si biang penghambat dirinya yang akan hancur. Telah masuk kedalam mobil, yang di mana rem itu telah di putus oleh seseorang.
'Good, semoga kau pergi membusuk Theo Anggara. Harusnya sih, kau pergi bersama si anak haram itu. Tapi, dengan begini aku bisa mudah menyingkirkan Alea. Haaahaaa.' batin Irene kala melihat Theo keluar dari sebuah apotek.
Senyum puas tawa irene saat ini, ia mencoba menjalankan mobilnya dan mengikuti arah mobil Theo dengan jarak sedikit jauh, mengawasi agar tak terlihat oleh target.
***
Theo yang telah membeli vitamin dan obat untuk Alea. Ia cukup tau, kala Alea tak bisa lelah karena pengobatan obat penenang pink yang membuat ia candu jika tak minum. Bagusnya ia telah berhenti secara bertahap dengan banyak pengobatan akan phobia darah beberapa waktu. Mungkin hal itu juga ia sangat sayang dan berharap ia bisa melihat di dalam kandungan Alea yang saat ini benar benar kuat ada janin yang ia nantikan. Ia yakin saat ini Alea sedang hamil.
"Sayang, andai saja. Semoga kamu baik baik saja tanpa mas." lirihnya tanpa sengaja berfikir tak baik, menyetir Theo.
Kleek! Kleek!
Kecepatan yang semakin tinggi dan Theo mencoba menghentakan kaki pada pedal rem. Tak di sangka jika akan berakhir lost menerobos lampu merah, di saat mobil berlawanan melaju.
Aaaaaakgh!! Minggir ... Teriak Theo kala sebuah truk bensin menghampiri dari arah kanan menabrak mobil sedan putih yang di kendarai Theo.
BRAAAAAAGKH. PRAAAANG!!!
__ADS_1
Kaca pintu itu hancur, sebuah mobil terpental berkali kali membuat mobil Theo terbalik dua kali. Menembus serpihan kaca pada wajah dan tubuh Theo. Sebuah truk bensin juga membelok dan menabrak tiang listrik. Hal itu memicu koslet dan padam aliran listrik mati hingga seibu kota.
Aaaaaggggkh!!
Teriakan Theo kesakitan. 'Alea mas mencintaimu, maafkan mas yang menghiraukan kecemasanmu. Andai mas bisa memutar waktu beberapa jam sebelumnya.' Lirihnya, mata itu tertutup dan awak tubuh mobil itu terpental kala sebuah api menyambar membuat mobil meledak.
BOOOOM!! LEDAKAN API SANGAT DAHSYAT.
Di luar tak di sangka, seseorang wanita bernama Irene bersorak tepuk tangan. Tugas dan misinya selesai. Yang ia harus singkirkan adalah, menghabisi dua orang suruhannya agar tak bocor suatu saat dengan caranya sendiri.
"Hei, gue udah kirim semua uang yang lo minta!" pesan Irene dengan senyuman ceria.
'Haahaa. Dua tiga pulau, semuanya terlampaui dan beres dengan satu masa. Pria itu ga akan lagi halangi gue buat dendam dengan Alea.' meski suasana gelap, irene semakin tertawa puas tak bisa menahan akan dirinya yang akan menang. Baik itu tuduhan media, dan pria yang ia takuti sebagai suami Alea sudah pasti tidak selamat.
KE ESOKAN HARINYA.
"Erik, ada apa. Kenapa kalian ramai di sini?" tanya Alea bangun dari sofa.
"Saya menemukan ibu tergeletak di luar, dan .." Erik terdiam.
Tiba saja Sinta memeluk Alea dan menyabarkan punggung Alea dengan tangisan tak terbendung.
"Sin, ada apa. Ada apa dengan semua ini. Kalian kenapa diam, tolong jawab!" ketus Alea, teriak nada tinggi satu oktaf saat seluruh karyawan mas Theo hadir.
__ADS_1
Sinta ikut melumer air mata, bibirnya gugup tak sanggung berkata pada sahabatnya itu yang sedang di peluk.
Tbc.