Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
BERTEMU HARIS


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, selesai dengan segala perdebatan mereka kembali pulang. Alea dan Sinta kembali bekerja seperti tak terjadi apapun. Jika dalam bisnis, Theo akan menjadi atasan Alea, sang sekretaris akan tetapi di rumah, ia akan menyiapkan segala hal layaknya seorang istri, meski hati mereka bertolak belakang.


Alea menatap langit mendung, suasana yang semakin gelap. Di isi dengan suara gundah gemuruh hatinya, saat ini.


Mengisi relungan dalam pikiran yang berandai andai. Dalam hatinya bertentangan dengan sikap dua pria yang hadir di hidupnya.


"Andai aku membuang nama mas Haris. Tapi bertentangan dengan sikapnya."


"Andai aku memperlakukan Theo, tapi bertentangan dengan hatiku dan sikap yang baiknya. Tidak ada satu rasa yang menyentuh seperti aku mencintai mas Haris. Sungguh tidak adil bukan. Jika aku membiarkan ini semakin dalam?"


Benak Alea, masih berfikir dan menatap langit dari balkon kantor. Ia menghapus kesedihan, lalu mencoba menerima takdir. Meski tidak mudah, melupakan dan mengisi nama seseorang. Tidaklah sama dengan membuka bungkusan coklat dan merapihkan kembali.


"Maafkan aku mas Theo. Aku harus tau, seberapa mas Haris menghindar dariku. Aku sedang berusaha melupakannya jika ia mempunyai alasan jelas. Jika mas Theo masih ingin aku tidak menjauh, tapi aku belum bisa membalasnya. Aku takut akan menyakitimu lebih dalam Mas." lirih Alea.


Tak sadar Sinta menghampiri, menepuk pundak Alea.


"Al. Maaf mengejutkan, gue rasa lo harus memilih salah satu. Gue gak paham arti cinta lo sama si Haris. Tapi kalau lo tetap membiarkan pak Theo tetap di samping lo. Gue yakin, bakal jadi boomerang yang akan meledak sewaktu - waktu." senyum Sinta menyabarkan.


"Sin. Thanks ya, lo selalu ngertiin gue. Andai waktu bisa di putar. Mungkin gue selalu berharap, pak Theo ga pernah muncul. Mungkin gue berharap Mas Haris ga pernah datang dan gue gak pernah liat dia. Andai dulu gue, ga menerima bantuan Almarhum Tuan Anggara. Mungkin gue ga akan jatuh cinta sama mas Haris." menoleh dan memeluk Sinta.


"Sabar ya Al. Gue ngerti, karena semua ini pertama bagi lo mencintai. Dan pertama juga berakhir dengan cara menyakitkan." mengelus pundak Alea.


"Gue ke ruangan dulu ya." ujar Sinta, dianggukan Alea yang pergi juga, setelah menerima pesan.


Di satu sisi, Theo yang ingin memberikan sebuah sarapan spesial. Ia membeli dari sebuah cafe terenak untuk Alea. Namun tak sadar ia tak melanjutkan langkahnya, melirik Sinta dan Alea yang sedang berbicara.


Theo mendengar arti semua percakapan yang di bicarakan Alea dan Sinta. Meski ia kesal, tapi ia sudah berjanji untuk bersabar. Ia tak mau menyerah, ia akan terus membuat Alea sadar, jika ia sangat tulus.


"Bagaimana, cara untuk membuat hati Alea tersentuh?" batin.


'Bagaimana caranya, agar nama pria brengsek itu terlempar tak tersisa. Apalagi kembali dengan cara penuh intrik? Andai kecelakaan itu tak datang padaku, harusnya pernikahan itu aku, bukan Haris. Papa andai kau masih hidup, harusnya kau pertanggung jawabkan semua ini.' batin Theo berteriak tanpa suara, ia meninju tembok saat itu juga dengan keras.


Theo pun mencoba mengambil ponselnya melangkah kembali ke ruangannya. Lalu mengirim sebuah pesan suara pada seseorang. Lalu ia mencoba membuka blog situs cara untuk merebut hati wanita yang ia perjuangkan saat ini.

__ADS_1


[ LIMA CARA MEREBUT WANITA JATUH HATI. ]


"Wah, tepat sekali. Aku harus baca ini." lirih Theo di ruang kerja, menatap layar dalam ponselnya.


Erik yang mengetuk pintu, tiba saja merasa aneh. Akan sikap sang bos saat ini.


"Bos, meeting untuk jam satu siang. Saya akan mem ..."


"Pergilah. Bawa sarapan itu, jangan ganggu saya tiga jam kedepan!"


"Heuuump. Tapi bos .."


"Ccceeh .. keluar. Bawa kotak itu!" teriaknya.


Erik terdiam, lalu kotak makan itu ia bawa dan menutup kembali pintu ruang kerjanya. Dengan menggeleng - geleng rasa tak percaya saat ini.


THEO SERIUS MEMBACA BLOG SPOT.


Nomor satu. Beri selalu makanan istimewa, yang tak pernah membekas. Misalkan sarapan, makan siang atau makan malam yang sempurna sesering mungkin.


Theo menghubungi Erik. Lalu meminta dirinya mengembalikan kotak sarapan yang ia beli tadi. Meski ia tadi sempat kesal, terhambat karena pembicaraan Alea dan Sinta. Akhirnya ia menemukan ide untuk menerobos kala hati wanita yang rapuh. Untuk tidak menghindarinya lagi.


"Erik. Kotak tadi, kau kembalikan!"


"Eeuuum. Yang tadi bos, ta- tapi.. " gugup.


"Kembalikan cepat. Taruh di meja saya!"


Erik yang baru saja membuka kotak makan, ia langsung menutup kembali. Lalu dengan sigap, ia kembali keruangan bos dan meletakkannya di meja.


Tanpa sadar, Theo melirik dan menatap dua box kotak yang ia beli tadi.


"Kau tidak memakannya kan?"

__ADS_1


Gleuuuk.


"Tidak bos. Saya hanya membuka, tapi belum sempat saya makan." ucap Erik.


"Jangan macam macam dengan kotak ini!"


Gleuuk! Erik terdiam.


Theo mencoba menghias makanan yang ia beli, lalu memanggang sosis dengan balutan mentega di pantry. Hingga di mana ia merubah makanan itu, dengan piring teristimewa.


Erik yang tak membantu, karena tak ingin mencampuri. Memberi isyarat agar karyawan lain pergi tak mengintip sang big boss.


Hingga di mana, makanan yang ia beli. Kembali ia racik dan hias dengan ketulusannya. Lalu ia menatanya di piring, dan kembali keluar menuju ruangan kerja Alea.


Alea yang telah bersiap ingin menemui seseorang di lantai berbeda. Ia tak sadar ketika dari arah berlawanan Theo di belakangnya.


Theo cukup terkejut kala Alea pergi dengan terburu - buru. Ingin sekali ia berteriak, namun ia mengikuti di mana langkah Alea pergi.


Tak sadar jika Erik pun mengikuti sang bos yang menuju lantai tangga loby atas.


"Tidak biasanya Alea pergi menggunakan lift."


Theo terus menaiki lift, hingga tepat di ujung pintu rooftop. Ia hanya menatap di balik celah pintu tanpa Alea sadar.


"Jadi pria brengsek itu menemui Alea?" benak Theo, melihat hal yang menyakitkan.


Sementara Erik, ia baru kali ini iba, akan sikap bos yang mengejar cinta Alea.


Erik yang menghampiri Theo sang bos. Langkahnya di hentikan untuk tetap diam di tempat. Erik merasa bersalah, andai saja ia tak melihat Alea keluar. Mungkin saja bosnya, tak akan melihat rasa sakit yang ia rasakan kini.


Andai juga ia tau Alea akan menemui Haris di loby parkiran atas. Mungkin Erik akan menahan sang atasan tetap berlama di ruangan kerjanya atau pantry kala itu. Sungguh malang kisah sang atasan, harusnya ia sebagai pria sukses tidak perlu memusingkan rasa cinta bertepuk sebelah tangan. Bukankah jika ada dalam posisi Alea akan serba salah. Lalu untuk apa di perjuangkan. Bahkan bosnya itu tampan, kaya untuk apa memusingkan cinta yang mana setiap wanita cantik bisa ia tunjuk. Benak Erik.


Tbc.

__ADS_1


Yuks mampir lagi ke judul litersi temen Author sambil tunggu Up Alea.



__ADS_2