
Alea dalam balutan bahagia, ia menatap aksi sebuah villa. Yang terbilang cukup ramai dan berdempetan, seperti perumahan kompleks yang berada di luar negeri.
Hanya saja di batas, dengan pohon beringin kecil dan lampu manik dekat gerbang.
Mata Alea tertuju di nomor tujuh belas, sehingga menanyakan. Mengapa selalu nomor tujuh belas Mas? Tapi jawaban Theo hanya senyuman, dan alibi dengan penuh rahasia.
"Mas hanya dapat nomor sisa. Sekarang kita istrihatlah dulu sayang. Sini dekat mas!"
Theo menepuk sofa besar. Alea pun di buat malu, kala ia bingung akan sikap suaminya yang terang- terangan.
Padahal jelas mereka baru sampai, hingga di mana ia mengekor masuk menatap seisi ruangan.
"Mas, ini masih siang. Apa kamu lapar?" tanya Alea sedikit gugup.
"Ya. Mas lapar, ingin memakanmu." bisik Theo, kala ia menarik lengan Alea.
"Mas, kamu nakal. Pintu masih terbuka, kamu ga lihat ada orang di luar?"
"Ini negeri tetangga sayang, mereka sudah tidak asing."
"Tapi kita bukan bagian dari itu." menatap seru.
Theo memeluk dan memutar tubuh Alea bagai anak kecil. Karena ia begitu gemas pada istrinya. Terlihat manik cinta yang terbalas dari mata indahnya.
Hingga di mana mereka saling memangku. Dan aksi gercap tangan Theo. Memegang remot untuk menyalakan televisi.
"Mas sudah pesan makan. Kita bersantai dulu, sebab nanti sore dan Esok. Kita gunakan liburan dengan sebaik mungkin. Kalau perlu kita kelilingi kota ini!" titah Theo.
"Mas. Kamu ini, aneh saja. Negeri tetangga, mana bisa kamu buat seperti itu. Bukannya akan musim salju?"
"Belum tentu, tapi jika ya. Kita bisa melakukan kegiatan indah di kamar ini. Satu hari penuh. Bagaimana?"
"Mas, kamu bisa - bisanya." malu merona.
__ADS_1
Alea menatap Theo. Theo pun merasa terobsesi dan candu akan ranum Alea yang semanis jambu.
Hingga pandangan mereka kembali saling beradu, Alea di buat bingung. Ketika Theo memiringkan kepala dan ingin menyentuhnya, tiba saja ketukan bell di pintu datang.
Kriiing!!
"Excuse me, the order came!" permisi order pesanan datang. Kurang lebih begitulah artinya mungkin.
"Hello. Excuse me the order came!!!" teriak pria asing pengantar makanan.
"Oke .. Wait!" balas Theo, sedikit kesal.
Theo menepuk pipi Alea dengan halus, ia memintanya untuk menunggu. Wajah Alea benar sangat malu, ketika sang suami sudah terang - terangan membuat dirinya merasakan cinta yang terbalas.
Theo membuka pintu, Hingga di mana ia memberikan beberapa lembar uang kertas asing. Lalu menutup kembali pintu, terlihat sebuah makanan saji dan dessert. Ia tak ingin Alea lelah, mengatur dan memasak untuk nya saat ini.
"Sudah datang mas. Kamu pesen apa aja emangnya?" tanya Alea.
Alea mengangguk, ia menatap dua paperbag besar dan kecil. Tersenyum tak menyangka, kala semuanya adalah makanan siap saji.
Dari mulai, makanan kaleng, desert buah dari kaleng. Dan buah yang mungkin yang ia suka. Semangka dan jeruk manis, tak lupa kue tart yang selalu menemaninya setiap hari.
"Mas, kamu beli kue tart?"
"Ya. Tapi kecil, mas sedang tak berselera makan manis. Hanya saja istriku ini harus bertambah berat, agar mas menyukai jika kamu bahagia bersama mas." senyum Theo.
"Mas Theo, apaan sih. Kamu bener - bener deh. Kamu mau aku gendut ya, terus kalau aku ga cantik lagi gimana?"
"Gendut atau tidak. Mas akan tetap mencintaimu Alea sayang. Suer beneran deh. Percaya sama mas!" kala Alea menepuk wajah Theo, mengusel di anggap bohong, mereka layaknya anak kecil bercanda.
"Heuuumph. Gombal banget." Alea kembali menepuk, namun cekatan tangan Theo. Ia menarik tubuh istrinya itu.
Alea terdiam kala tubuhnya berputar, suaminya telah berada di atas tubuhnya. Aksi mereka pun di mulai dari lembut, Alea hanya menutup wajah, membuka bibirnya dan segalanya telah masuk dalam saling bertautan.
__ADS_1
Seperti sedang menari nari, sedang hangat hangatnya. Aksi mereka saat ini.
Alea berusaha tenang, ia tak ingin merusak mood kala suaminya sedang meminta haknya padanya. Meski ia memejamkan mata, kala itu ia cukup membuka mata, mencoba menatap wajah dan mata Theo yang sedang memuncak.
Kini mereka sedang berada dalam surganya cinta. Menyatukan keindahan dan segala yang semestinya di lakukan oleh pasangan sah di mata agama dan hukum. Yakni suami dan istri bahagia yang saling mencintai.
"Mas berterimakasih padamu. Alea Trihapsari." bisiknya.
"Mas, ini sudah menjadi tugasku sebagai istri. Kapanpun kamu mau, aku akan ikhlas dan ridho."
"Semoga sampai akhir tua. Kamu manis tak berubah seperti ini Mas!" bisik Alea menatap suaminya berbalik badan.
"Ya. Jangan pernah tinggalkan mas ataupun bohong pada mas. Jika terjadi sesuatu katakan sama mas ya. Mas berhak melindungi kamu!"
Alea masih mode dalam pelukan tak memakai sehelai benang di tubuhnya.
Begitupun Theo, hanya dalam selimut untuk menutupi bawah tubuhnya. Theo yang bersandar dalam bilik dipan kasur. Alea mencoba bersandar pada tubuh Theo dan menggelitik roti sobek suaminya.
"Sayang. Kamu jangan memancing, mas takut kamu lelah!"
"Heuumph. Aku atau mas?" goda Alea.
"Kamu berani sama Mas. Kamu mau mas melakukan sampai pagi. Tanpa makan dan apapun?"
Theo membalik tubuh Alea, mereka kembali bercanda seolah menolak dengan candaan yang sangat jarang, para pasangan sah mengawali di kegiatan sebelum ritual. Hingga beberapa saat aksi mereka merebut remot pun terjadi.
Tlith!! Nada pesan.
Theo meraih ponselnya, wajahnya tiba tiba serius ketika membaca pesan itu. Alea sedikit takut, wajah suaminya yang tadinya happy berubah menakutkan.
Theo memakai pakaian lengkap, dengan warna kaos cream polos, ia menoleh ke arah istrinya itu. "Mas tinggal sebentar ya! tetaplah disini Alea sayang." kecup kening, dan meninggalkan Alea sendiri.
Tbc.
__ADS_1