
Esok paginya. Alea menatap jam dalam cahaya yang telah masuk dari bilik jendela, yang sedikit terbuka.
Tubuhnya merasa lelah saat ini, bahkan ia merasa ada sesuatu yang aneh padanya. Ia merasakan bagai mimpi, kecupan nikmat tapi ia seperti terlelap, menyempitkan matanya yang silau masuk ke celah kamar.
"Aku terlalu bermimpi jauh." benak Alea.
Hingga di mana ia bersiap mandi dalam beberapa jam, lalu setelah itu ia keluar dengan baju minim yang sangat terbuka. Hal itu karena ia masih belum membawa baju dari rumah lamanya.
Alea telah membuat sarapan, lalu ia sedikit mengisi perutnya, dengan sandwich dan teh. Lalu memegang remot dan mencari acara yang seru di televisi layar besar.
Alea serius berpuluh menit, tak lama Theo bergabung karena hari yang libur. Ia ikut sarapan dan bernonton televisi.
"Apa acaranya saat ini bagus?" tanya Theo. Ikut duduk satu sofa di ruangan tamu.
Seolah Alea canggung ia bergeser, menyesuaikan diri, bagaimanapun rasa cintanya pada Haris akan terkikis hanya saja belum terbiasa bagi Alea untuk melupakan penuh.
"Entahlah. Aku sudah menonton nya, seru tapi sedang iklan saat ini." jawab Alea dengan senyum.
Hingga di mana Theo membuka perment mint dari toples bening terbuat dari kaca, dan tiba saja saat film telah mulai. Dalam waktu beberapa menit, adegan kiss pertama pada pasangan terpampang di layar televisi. Lalu melakukan adegan intim membuat mata mereka berdua tegang fokus menatap layar, seolah malu untuk menoleh.
Hal itu membuat mata Alea dan Theo membulat. Pasalnya ia sedikit canggung, lalu melirik dan menggaruk rambut yang tak gatal.
"Akan aku ganti, boleh?" ijin Theo.
"Heeehuuum. Ya silahkan mas." membuang wajah karena malu.
Tapi remot itu macet, sehingga time tidak tepat. Alea ikut membantu, saling menarik dan benar saja macet. Tak lama Alea yang berdiri. Kakinya terkilir dan jatuh dalam pelukan Theo yang sedikit maju, bahkan menduduki burung sangkar Theo yang tertidur membelakangi.
Sehingga Alea bangun memutar pangkuan mereka saling menatap dalam sofa. Lalu Alea menutup matanya, meski bibirnya sedikit terbuka.
__ADS_1
"Wanita ini. Apa dia sedang menggodaku, apa dia tak sadar. Melakukan hal bodoh seperti ini, membuat aku ingin lebih seperti semalam?" batin Theo.
"Mas. Apa kamu mau membantuku?" tanya Alea. Masih mode dalam dekapan dan saling menatap. Wajah mereka sangat dekat hingga nafas mereka berdetak rasa bercampur.
"Apa. Apapun aku akan membantumu."
"Aku ingin mencoba kiss. Mungkin rasa itu bisa membuat aku berbunga, dan aku bisa melupakan Mas Haris sepenuhnya."
"Apa kamu yakin. Alea .. kamu sadar dengan perkataanmu?"
"Heuuumph. Aku tidak tau, apa sikapku benar. Hanya saja, aku selalu nyaman saat ini. Tapi aku tak ingin kamu melakukan kita seperti suami istri. Sampai aku benar benar paham. Jika aku mencintaimu, jujur aku hanya belum bisa melupakan bayangan kebersamaan selama lima belas tahun mengenal dan berpisah, lalu di depanku orang yang asing, tapi aku kira kita pernah dekat sebelumnya. Ah! Entahlah racauan macam apa ini." menutup mulut.
Tanpa mendengar aba - aba, Theo menyentuh ranum Alea. Meski ia tak melakukan hal lebih.
Hingga eratan ritme halus. Membuat Alea terbakar candu, ia kini merasakan rasanya kecupan. Ia sadar, jika melakukan ini dengan Theo adalah hal wajar dan telah resmi. Seolah melupakan perjanjian istri pura puranya.
Hingga di mana bantal dan segalanya telah berjatuhan, Theo memutar tubuhnya dan mengangkat tubuh Alea, hingga di mana Alea berada diatasnya.
"Stop mas! Sudah cukup, kita hanya suami istri pura pura kan. Bodoh! Kenapa rasa sedihku! Aku seperti wanita murahan yang meminta melakukan ini, hanya latah tontonan tadi."
"Aku tidak pernah menikahimu dengan pura pura Alea. Hanya saja aku takut kamu akan menolakku?" bisiknya, membuat mata Alea membulat tak percaya.
"Apa maksud kamu Mas. Kenapa ...?"
"Aku boleh menyentuh dan ini. Kecuali aku tidak akan merusak itu sampai kamu mencintai dan kamu merelakannya. Sesuai pintamu, aku berjanji?"
"Mas. Tapi aku, aku akan berdosa jika aku tak melayanimu."
"Aku tidak ingin paksaan, aku ingin murni mengalir begitu saja. Aku akan sabar sampai kamu benar benar mencintai aku Alea. Aku minta maaf terlambat menemuimu!"
__ADS_1
Entah dasar apa, Alea terbuai, meski kata akhir ia penasaran. Hingga di mana gesekan itu membuat Alea menginginkan lebih. Hingga di mana, Alea membuka sesuatu di balik jeans pendek Theo.
"Mas. Jika kamu tak berani menyentuhku. Karena aku takut dan belum siap, maka aku siap membantumu untuk menuntaskan saat ini juga, dengan cara lain." senyum Alea.
Theo tak percaya Alea menarik miliknya bagai tarik tambang, matanya terpejam terbuka dan menahan suara, hingga di mana ia menutup matanya dan membiarkan Alea berlaku semaunya. Meski sedikit kaku, Theo merebahkan Alea, lalu mengecup kening Alea setelah berpuluh puluh menit aksi manja mereka.
"Oooaaahch!" nafas Theo menderu, seluruh cairan itu bergumul dimulut dan leher Alea dengan senyum.
Alea awalnya sedikit tidak yakin, tapi ia ingat sakitnya dulu, dan belum pernah ia konsultasi lagi, ia tak berani melakukan hal lebih layaknya pasangan suami istri sah. Hanya saja cara lain yang bisa membuat pria lega, dan mungkin tekanan dosanya berkurang karena tidak melayani suami, karena hal tertentu.
"Terimakasih. Percayalah, aku akan melindungimu Alea." bisik lelahnya.
Alea sedikit nyaman, entah hal bodoh apa. Ia mulai terpedaya, ingin sekali ia merutug kesalahannya saat ini. Karena ia terbawa suasana, hanya sebuah acara di televisi, bahkan angin dan hujan seolah membuat mereka ikut mendorong lebih jauh.
"Aku mandi dulu mas." pergi, sementara Theo di kamar kecil sebelahnya tersenyum.
Menjelang sore, Theo memasak hidangan istimewa. Tapi ia menatap Alea yang masih tertidur, sehingga ia menutup kembali rapat pintu. Agar Alea melanjutkan istirahatnya.
"Maafkan Aku, Mas. Aku telah membuat kesalahan tadi. Tidak seharusnya tadi kita .. meski kamu belum menghancurkan. Tapi aku malu, dan seolah aku wanita yang tidak tau diri karena merusak perjanjian." tangis Alea pecah menutupi wajahnya dengan selimut tebal.
Theo yang peka, ia mendekat dan membelai rambut Alea sambil berbisik.
"Percayalah! Kamu tidak mandul Alea sayang. Hanya saja belum di beri rejeki, rejeki itu sudah diaturnya, mas sudah membuat janji besok kita cek ke doker kandungan. Mas letakkan herbal mint, karena mas yakin penyakit miom itu tidak akan kembali. Apapun itu, tanpa anak dari rahimmu! Mas bersedia mendampingimu dengan tulus. Mas berharap, kita bersama tidak tersakiti apalagi saling menyakiti!" kecup Theo pada pucuk rambut Alea.
Tanpa sadar, setelah Theo menutup pintu. Alea menangis sejadi jadinya, ini adalah pertama kali pria yang ia kenal tidak lama, begitu perhatian dan lembut sabar padanya.
'Jika dibandingkan dengan mas Haris, kamu lebih unggul mas Theo. Kenapa takdir kita telat bertemu?' batin Alea menutup wajahnya, agar tangis sesunggukannya tak terdengar ke luar.
Tbc.
__ADS_1
Sambil tunggu Up! Yuks Author kenalin temen litersi Author yang berjudul :