Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
SENYUM SENDIRI


__ADS_3

Tidak kenapa, saat terbangun ia melihat secarik kertas. Itu adalah surat dari Theo, yang pergi pamit tanpa Alea tahu, mungkin efek obat yang ia konsumsi sehingga tidurnya pulas begitu saja.


Tiga minggu kemudian, Alea yang sepi tanpa kehadiran wajah suara pria. Kini ia sedikit bisa berjalan, kakinya sudah lancar untuk melangkah tanpa bantuan. Aktifitas pun bisa untuk Alea bergerak saat ini, meski tidak lebih dari dua jam berjalan kaki dalam sehari.


Hal itu karena cidera kejadian lalu tak membuat kakinya sakit berbulan - bulan. Atau memang Theo mengirim perawatan khusus untuk dirinya.


Alea pun menerima pesan dari Irene, ia ingin sekali bertemu secara pribadi. Hal itu membuat Alea bingung, ia memang ingin keluar rumah tak jauh. Ia ingin bertemu Sinta setelah ia pulih.


Tapi ia tak bisa pergi, karena Theo hanya mengijinkan untuk bertemu Sinta, itu pun di dekat rumah yang ia tinggal.


Hingga ia bersiap siap. Lalu ia mengambil tas dan pakaian yang senada, kemeja bergaris hingga di bawah lutut ia kenakan saat ini.


Hal tak terduga saat di pintu lift terbuka. Alea menatap jelas, siapa pria yang akan masuk naik ke lantai atas. Sementara dia ingin pergi telah berada di lantai bawah. Pada saat di bawah lift.


"Alea?"


"Mas Theo, su - sudah pulang?" gugup Alea.


"Kemana? Owh. Jadi kerumah Sinta sekarang?"


"Ya. Tapi, bukankah mas, baru sampai. Bagaimana jika saat ini aku batalkan."


Theo pun menarik Alea, ia menggandeng Alea ke mobilnya. Memerintahkan Erik untuk pulang lebih awal.


"Masuklah. Aku akan mengantarmu!"


"Tapi mas kamu, pasti lelah. Bagaimana ..?"


Alea terdiam, kala Theo telah masuk ke dalam mobil dan saling sejajar menatap. Tapi bahu tubuh Alea sangat turun dan tak nyaman.


Alea melirik, jika sudah tidak ada asisten Theo. Sehingga ia lebih tak canggung saat sedang berdua. Alea pun duduk dan menatap seisi dalam ruangan mobil.


"Kenapa. Kursi nya terlalu turun?" tanya Theo.


"Ya. Kursinya sangat terbaring, aku tak biasa."


"Pegang dari bawah. Naikan ke atas!" titahnya.


Alea berkali kali sulit, hingga ia pasrah dan menarik nafas. Theo yang ingin menyetir cukup tersenyum, hingga di mana ia turun dan berlalu membuka pintu mobil di posisi Alea sangat dekat.


Alea cukup terkejut, perhatian Theo sangat sabar dan berbeda dari pria yang ia cintai.

__ADS_1


"Mengapa bukan Mas Haris. Andai saja mas Haris seperti ini, mungkin aku akan sangat bahagia?" batin Alea.


Theo menatap Alea, ia merogoh dan menarik gagang kursi, lalu sedikit macet. Theo menariknya dengan seluruh tenaga. Hingga tak sengaja sangat kencang dan posisi Alea yang duduk terkaget akan terlalu depan kursinya.


"Aarrrgh."


Alea sangat tersentuh, kala Theo keluar dari mobil. Hanya untuk membantunya membenarkan posisi kursi.


CEGLEEEGK ... HEUUUUPH.


Theo yang sedikit miring tubuhnya, terkejut akan kursi yang terlalu maju. Hingga di mana menatap wajah Alea yang menatapnya karena kesulitan.


"Susah ya? Kalau ga bisa aku gak apa kok. Kita jalan lagi aja!" ucap Alea menatap sangat dekat.


"Sedikit lagi."


Heuuuumph. Uuuupss!!


Alea sedikit terkaget saat kursi itu terlalu maju. Hingga wajah dan bibirnya menyentuh pipi Theo. Theo pun terdiam, hingga beberapa saat mereka saling diam, lalu menoleh ke arah Alea.


"Aku mundurkan sedikit!" bisik Theo.


Perlahan, Alea merasa tersedak dan menahan. Karena posisi Alea seperti terhimpit oleh tubuh dan wajah suami pura puranya itu.


"Ke rumah Sinta atau tempat bertemu di ... ?" melirik Alea.


Alea masih terpana akan sikap lelucon tadi, bagaimana bisa ia menyentuh pipi Theo lebih dulu. Jika bukan karena kursi yang terlalu maju. Kejadian tadi mungkin tak akan terjadi. Entah kenapa, sudah berminggu minggu Alea menatap wajah Theo dari samping seolah candu. Tapi ia malu untuk mengaku, apalagi menatapnya. Sehingga hanya sesekali melirik lirik.


"Al. Aleaa .. kok diam. Kita kemana?"


"Haaah. Ya pak, eh Mas. Owh kita ke... cafe Starca." senyum Alea.


"Panggil hal lain saja, kita bukan di kantor. Biasakanlah!"


Theo mengusap rambut Alea. Alea sedikit hanyut, perlakuan yang tak pernah ia dapatkan, bahkan Haris saja tak seperhatian begini setelah menikahpun. Hingga di mana ia kembali fokus dan bergerutu dalam hati.


'Al. Jangan terpedaya, saat ini tidak ada kata perasaan. Jangan sampai perasaan Haris kedua hadir.' benak Alea dengan mengrenyitkan alis.


Namun tatapan masih datar menatap jalan. Theo hanya melirik senyum, ia menatap Alea sangat lucu. Hingga di mana, ia memegang earphone dan menerima panggilan.


"Baik. Satu jam lagi saya akan sampai!"

__ADS_1


Alea masih diam, berdiri dan memangku tasnya. Tapi jelas, gugup itu masih ada. Rasa tak percaya, akan khilaf Alea yang tak sengaja menyentuh lebih dulu.


"Kita sudah sampai."


"Haah. Ia, baiklah. Aku akan turun di sini Mas." tak sengaja Alea.


"Cukup sopan. Baiklah, panggil itu terus ketika kita berdua! Atau di tambah sayang."


"Tapi..?" gugup Alea.


"Lihatlah. Sinta sudah menunggu." menunjuk.


Theo menatap sisi kanan, jelas terlihat dari kaca mobil. Sinta telah memesan dua minuman.


"Baiklah. Aku pamit, tapi bisakah esok saya mulai bekerja kembali?" tanya Alea.


Dangan kilat, Theo memajukan pandangannya. Membuat Alea mundur cukup terkejut. Lalu ia memperhatikan Theo yang menyentuh kakinya dengan lembut.


"Apa sudah tak apa. Kalau begitu jangan pakai heels!"


Alea cukup terkejut, ketika Theo mencopot heelsnya. Ia menatap siku pergelangan kaki nya dan mengetuk ngetuk. Lalu memberikan sandal teplek yang baru ia beli, di simpan di kursi belakang.


"Aduuh .. jangan seperti ini, sudah cukup. Aku sudah membaik kok!"


"Pakai sandal tipis ini ya! Lebih aman untuk kakimu!"


Theo kembali duduk dengan semula, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Sehingga Alea yang membuka kunci mobil ingin keluar tidak jadi. Alea kembali duduk tegap menatap Theo, kala ia dengar ucapan suami pura puranya itu.


"Di mana, baiklah Frans. Sore ini periksa Alea. Jika terlambat, aku pecat kau jadi dokter!"


Theo menutup ponsel. Lalu Alea dengan sontag ingin tersenyum. Kala pria di sampingnya membuat lucu, mana bisa begitu saja mencopot jabatan dokter.


"Kenapa senyum Alea, sayang?" lirih Theo, menatap wajah Alea yang terdiam senyum melebar, tapi menyempit kala ketahuan.


Tbc.


Yuks mampir tap favorite atau love.


Judul "Pengantar Box Jutawan."

__ADS_1


End " Dady Danzel." mohon maaf penulisan masih retak!


" Bad Wife. "


__ADS_2