
Beberapa Hari Kemudian.
Theo yang berada di kediaman barunya, ia meminta Erik datang! Hal itu juga, Alea bicara pada suaminya, jika ia memanggil Sinta karena ada sesuatu masalah di pantry yang ingin dibicarakan karena bagian dapur bermasalah.
Hingga bersamaan tak disangka, mereka datang dan menunggu Alea turun. Sinta yang memang menghindar merasa kaget.
'Untuk apa Erik datang?" Sinta menarik nafas. Lalu membuang wajah dan mengambil sebuah majalah berpura pura sibuk membaca.
Erik yang melirik tapi seolah acuh, ia hanya bersikap biasa saja. Ingin tertawa karena majalah itu terbalik. Tak lama, Alea telah datang dengan pakaian rapih seperti habis mandi.
"Sin, akhirnya jadi datang juga, sungguh waktu yang sangat tepat!" senyum Alea.
Alea melihat perhatian Erik terpusat ke arah Sinta dan melonggarkan kewaspadaannya. Dia pun menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri dari cengkraman Erik.
Siapa sangka, tampaknya Erik juga memiliki mata di samping wajahnya. Dia menahan Sinta dengan pandangannya yang penuh arti.
Alea mengerti apa yang harus dilakukan dan berkata, "Ternyata kalian ada di sini. Kalau begitu, aku pergi dulu memanggil mas Theo."
"Tunggu Sebentar, bu!"
Sinta memanggil Alea. Berusaha menghindar jika sedang berdua saja dengan Erik di ruang tunggu.
"Al, gue numpang toilet ya." bisiknya dan Alea mempersilahkan.
Erik melirik sinis ke arah Sinta dan bergumam, "Permainan apa lagi ini, wanita penuh intrik."
Erik memandang bayangan Sinta dengan perasaan tertarik. Apakah wanita ini berpikir kalau dia sangat buruk dan mengancamnya?
Theo dari arah samping datang, tersenyum tersipu dan berbisik pada istrinya.
"Wah, jarang sekali Erik bisa tertarik dengan seorang wanita. Tampaknya Sinta itu lumayan, kenapa tidak kamu jodohkan saja sayang?"
"Mas, Sinta tidak mudah." jelasnya.
"Lalu, bagaimana agar mereka cocok?" kepo Theo.
"Mas, mari ikut aku. Biarkan kita menunggu mereka setengah jam lagi. Kita akan lihat dari cctv, apakah mereka akan cocok. Aku rasa, jika Erik menyukai. Ia akan menghampiri bukan?"
Mendengar hal itu, Theo menurut pada istrinya. Sementara Erik, ia menunggu telah dari lima belas menit, tidak tahan ia pun ikut mencari toilet tak jauh dari keberadaan Sinta. Karena toilet khusus tamu memang berada di sana. Hingga di mana, Sinta yang baru keluar dari pintu kamar mandi, terkejut di lorong mendapati Erik yang berjalan ke arahnya.
Satu langkah, dua langkah hingga tepat delapan langkah mereka berdiri pandangan.
"Apa yang lo inginkan dari gue Erik, menguntit?"
__ADS_1
"Menguntit .. mustahil,"
Erik memandang wajah mungil Sinta. Dia merasakan kekesalan di dalam hatinya. Sinta rela melakukan apapun demi Vero, jelas jelas ia telah membuat sinyal untuk berkomitmen?
"Bicara sekali lagi, jika aku bukan pria itu, maka aku akan mengembalikanmu padanya. Tak akan mengganggu."
"Apa .., dasar atasan sinting. Dia pikir gue apa?" lirih Sinta acuh. Sinta berusaha melewati tubuh Erik, namun pria itu menyangga tangan hingga membentur halus tubuh Sinta ke arah tembok, dengan berputar seolah sedang menarik.
"Aaach. Lepasin gak!" sinis Sinta menatap.
"Jaga sikap! Erik dasar atasan gak tahu malu! Lupa ini kediaman bos besar?”
Erik mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum jahat, "Jika kamu ingin melakukan transaksi bisnis, maka tunjukkan ketulusanmu!"
Sinta merasa sangat marah. Dia tidak memperdulikan semuanya dan bersiap untuk pergi. Tapi, Erik berkata dengan suara dingin.
"Kamu yakin sudah tidak mau penjelasan ini?"
Sinta mengepalkan tangannya dan berhenti di tempat. Hatinya terasa sangat marah dan serba salah. Sinta menolehkan kepalanya dan berkata.
"Erik, kamu sudah keterlaluan."
"Ok! Aku akan lakukan seperti yang kamu inginkan."
"Eeiiits. Tidak sopan sayang, aku akan melihat apakah dirimu kembali mual denganku. Nak, jika kamu ada dan hamil. Katakan ya!!" mengelus perut Sinta, meski ia sedang bergusar melepaskan diri dari cengkraman tangan kokoh Erik.
Anak kucing yang marah ini menggigit bibir Erik. Dia menggigit dan menggerogoti seperti sedang melampiaskan amarahnya.
Erik tertegun sejenak. Dia tampak terkejut dengan tindakan Sinta. Tapi, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali fokus. Erik merangkul pinggang Sinta mendekapnya, dan menempel kilat ranum dengan erat.
Mereka seperti sedang bertarung. Erik dan Sinta saling menyerang satu sama lain. Tapi, Sinta segera menunduknya.
Paru parunya kekurangan oksigen. Dia perlahan menyandarkan diri di tembok dengan lemas. Sinta sudah kehilangan tenaga untuk memberontak.
Maka Erik pun menggoda Sinta dengan perlahan dan agresif. Dia menyentuh pipi, tetapi malah menemukan bahwa Sinta sedang meneteskan air mata tak sengaja jatuh.
"Heiy, kenapa menangis. Apa aku berlebihan menyentuhmu?" tanya Erik sok lugu.
Jangan lagi berlaga bodoh Erik! Aku membencimu. Kita tak pernah saling mengenal, ini terakhir kita bertemu!!! teriak Sinta dan menjatuhkan tubuh Erik namun tertahan.
Erik begitu pias, ia merapihkan dasi dan berlalu bingung. Ingin mengekor Sinta tapi ia sedikit ingin ke toilet. Menarik nafas, mencoba membuyarkan apa yang Sinta katakan tak pernah terjadi.
***
__ADS_1
BERBEDA HAL DENGAN ALEA.
"Mas, kamu masih kepo menatap layar cctv itu? Apa kamu seorang petinggi yang sibuk mencari jodoh untuk bawahannya?" tanya Alea sambil bertolak pinggang.
"Sayang, menurutmu apa mereka jatuh cinta atau mereka cinta bertolak sebelah?"
Alea memijit kening, ia tak habis pikir. Apa sebenarnya kecelakaan itu membuat otak suaminya tergeser. Entah angin apa, Theo berusaha sekali menjodohkan Erik dan Sinta.
"Mas, ayo kita keluar. Lupakan soal perjodohan, mereka tidak cocok!"
"Sayang, jika tidak jodoh. Maka seharusnya kita harus membuat mereka cocok." senyum melebar Theo. Alea menatap tajam, dan menggenggam tangan suaminya dengan keras.
Hal itu membuat mereka terdiam, lalu dengan spontan mereka keluar. Tetap saja saat mereka keluar, terlihat suaminya masih penasaran dan berbisik untuk bertanya.
"Sayang, aku pikir Erik telah berbeda. Dia itu tak seperti dulu, baru mencoba dan percaya akan cinta. Menurutmu, apa penyebab Sinta tak menyukai Erik. Tidak membalas, apa mereka mempunyai masalah?"
Perkataan mas Theo, membuat Alea terlihat memikirkan masalah serius. Jika Erik ingin mempertanggung jawabkan masalahnya.
Untuk apa, Sinta menghindar dan memilih Vero. Bahkan aku tak melihat lagi Sinta di jemput Vero. Apa mereka punya masalah juga, benak Alea berkecamuk.
"Mas, lupakan. Jika mas ingin membuat mereka bersatu. Kita pikirkan nanti, aku ingin mas kembali ke semula. Bukankah mas ingin meminta Erik menyelesaikan proyek penting ini?"
Alea dan Theo kembali keruang tamu. Lalu telah ada Sinta dengan tatapan senyum menyambut. Tak lama, Erik dari arah belakang hadir membuat suasana itu tegang.
"Heiy. Sinta, ayo gue ajak ke room halaman belakang, gue mau bicara sesuatu yang sensitif!"
"Aah, ya bu Al. Saya juga kebetulan maunya gitu."
Sinta dan Alea pergi ke ruang berbeda, sementara Erik melanjutkan pekerjaan yang ia harus berikan pada sang bos. Tapi Erik curiga akan tatapan Theo yang saat ia menjelaskan senyum senyum berlaga menertawakannya.
"Sekian, apa cukup jelas pak?" Erik bertanya namun bingung setelah menjelaskan proposal.
"Baiklah pekerjaanmu tak akan di ragukan lagi, tapi aku mau dengar. Kau tertarik dengan Sinta karena cinta atau tanggung jawab?"
DEUUGH. ERIK TERDIAM, IA BINGUNG UNTUK MENJAWAB.
"Maksud anda ...?" tanya Erik.
"Bantu aku pergi, kita ke club sekarang!"
Erik terlihat terdiam pucat, kala Theo berdiri dan melayangkan jas mantel dan terpaksa mengekor. Ia bukan terkejut akan pertanyaan, tetapi suatu masalah jika sang bos pergi ke sebuah Club.
Astaga apa yang harus aku lakukan dan jelaskan pada paman Roby dan Nyonya Alea?? batin Erik. Tak lama, ia menatap sebuah pesan misterius melebihi masalah cinta rumitnya.
__ADS_1
Tbc.