
Setelah, keberadaan Sinta pergi. Alea masuk dan memastikan semuanya telah terkunci. Menderu nafas, lalu kembali ke kamar untuk merapihkan seisi kamarnya. Apartement mas Theo, hanya ada satu kamar yang cukup luas bagi dua orang tinggal.
Haaaaciiih. Haaaciih!
Kreeek! Braaaagh!
Alea menoleh, ia menatap mas Theo bersin bersin, dan terdengar suara barang jatuh.
"Mas, kamu di dalam?" menatap panik ke arah kamar kecil.
Dengan sigap, Alea lalu masuk begitu saja. Mematikan keran air yang menyala, hingga di mana ia terkejut kala mas Theo menatapnya dengan tajam.
"Ooh .. Mas. Maaf a-aku?" menutup mata
"Kamu menggodaku Alea. Kamu berani masuk di saat aku bulat seperti ini?" lirik goda Theo.
"Mas. Itu tadi kesalahan, aku ga bermaksud. Tapi saat kamu tadi .. eeemmh, itu pas kamu bersin. Aku refleks masuk. Apalagi tadi bunyi seperti orang jatuh."
Alea menjelaskan dengan wajah pipi yang merah jambu. Sikapnya yang ceroboh membuat dirinya malu, hingga di mana ia mencoba membuat kesan. Jika tak terjadi apa pun.
Theo melingkarkan handuk ke arah pinggang Alea. Lalu ketika Alea keluar, tubuh nya kembali di tarik dan di pangku, sontag Alea terkejut ketika posisinya duduk membelakangi suaminya.
"Apa kita tidak akan kedatangan tamu lagi?" bisik Theo.
"Haah, aku ti- tidak tau, soal itu. Aku coba lihat ponsel ya mas!"
__ADS_1
"Tidak perlu, aku hanya ingin seperti ini. Nomor ponsel mu hanya Sinta saja yang tau kan, dia pasti tidak akan kembali." membisik dan menggigit telinga Alea.
Alea cukup gemetar, tubuhnya berkeringat dan aroma harum sabun masih menyengat dari badan mas Theo, bagi Theo yang memeluk remas dekapan tubuh area depan Alea. Alea cukup takut, ia memang telah merasakan sesuatu yang tiba saja bangun.
Hingga di mana, Alea memejamkan matanya. Namun aksi kilat jahil Theo menggendong Alea. Lalu membuka semua bungkus pakaian di tubuh Alea yang menempel. Tanpa sadar, Alea melirik Theo menyalakan air keran pada bath up hingga penuh.
Perlahan Alea tau, ia cukup berani untuk mengatakan. Jika ia telah siap, tapi entah mengapa bibirnya berat untuk ia ucapkan. entah gengsi atau juga malu didepan pria yang selalu melindunginya.
"Alea ..." serak Theo dengan nada lembut.
"Ya, ada apa Mas?" membuka mata perlahan.
Theo mengecup kilat kening Alea. Lalu berbisik dan menggigit telinga Alea. Entah ingin sekali Alea mendorong pria satu ini, mengapa dia selalu membuat dirinya di gigit dengan cara aneh. Apa itu adalah hobinya.
"Mandilah. Mas sudah siapkan semua! mas akan tunggu di luar ya!"
Alea terdiam, ia menunduk tak berani menatap Theo, kala semuanya tak sanggup Alea bicara lagi.
"Mas akan ada banyak pekerjaan, kita lakukan tidak dengan time seperti ini ya. Mas rasa kamu belum siap." senyum Theo.
Alea jelas menatap nanar, ketika Mas Theo pergi. Ia merasa sangat menyesal kala membuat suaminya telah berburuk sangka. Andai saja ia tak menolak dan diam saja, mungkin ia tidak akan berdosa. Karena hal mas Theo inginkan, tidak aku berikan.
"Mas, bukan itu aku minta maaf! Bukan maksud menyinggung. Aku tahu, kejadian di rooftop kantor, aku menemui Haris karena ingin dia datang menemui mamanya. Aku tahu, itu mas yang menjatuhkan makanan dengan tulisan namaku. Aku minta maaf, tolong jangan marah lagi dan tinggalkan aku!"
Alea mendekap punggung Theo, ketika semuanya benar benar bulat. Alea meyakini, jika ia telah menjadi istri terbaik untuk suaminya saja. Sudah cukup baginya untuk tidak durhaka, dengan demikian mungkin rasa kesusahan hatinya bertemu Haris, akan biasa biasa saja setelah adegan manis, perlakuan manis dan sikap manis mereka bersama sama setiap hari.
__ADS_1
Theo, terdiam kala Alea sudah berada dibawah pusarannya dan memainkan segala hal kewajiban sebagai istri. Menolak sudah terlanjur di ujung puncak, yang tak mungkin Theo lewati saat ini. Dan mereka berdua memulai kehidupan baru layaknya pasangan bahagia.
***
Terik matahari, di bangun tidur membuat mata Alea terbuka dan menyapu. Lingkaran tangan Theo ke pinggang rampingnya, membuat Alea sadar untuk bisa membalas cintanya yang tulus.
"Kamu udah bangun, sayang?"
"Mas, aku buat sarapan dulu ya?"
"Kamu lapar? Mas hubungi Erik untuk mengantar makanan. Kamu cukup temani mas, makasih untuk semalam dan selamanya."
"Mas, aku yang minta maaf! Biar aku aja yang masak, kasian Erik. Ini hari libur loh, karyawan kamu apa ga kasian terganggu."
"Hemph! Kalau gitu, kita masak bersama setelah .. Ini." senyum riak Theo, kala membuntal aksi mereka dibuntalan selimut cream tebal.
Canda pasangan suami istri, sudah tidak bisa di pungkiri. Hal menguntungkan bagi pria akan terbayar saat itu juga.
Hayo! Siang menjelang sore, kalian mikir apa?!
Adegan Manis Dah Author Buat Ya All.
~ Happy Reading ~
Tbc.
__ADS_1
Sambil tunggu Up! Yuks mampir ya all.