Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
MALU KE UBUN UBUN


__ADS_3

Ke esokan harinya. Alea terbangun, ia kembali menyadarkan dirinya. Tubuhnya sangat sakit, dan tak terasa perih di dalam bawah bibirnya.


"Kenapa sakit sekali, perih sekali bibir bawah ku. Apa aku terjatuh semalam... Aku. Hah?"


Alea mengingat kejadian akhir, ia sedang mandi. Lalu menatap seluruh tubuhnya telah rapih dengan piyama hangat. Lalu menatap ruangan kamarnya, ia melihat bi ila.


"Bibi, apa yang terjadi semalam. Pakaian aku siapa yang... ?" tanya Alea sedikit takut.


"Owh. Nona tertidur, dan pingsan di dalam bath up, Tuan yang menolong. Dan bibi yang memakaikan semuanya."


"Owh begitu, tu- tunggu. Tuan, maksud bibi pak Theo?"


"Iya non." senyum bi ila.


Alea terdiam, mulutnya tak bergerak saat ingin berkata. Hal yang tak bisa di bayangkan, dirinya di tolong tanpa busana.


"Tidak. Itu berarti, aku sedang polos semalam."


'Arrgh, bagaimana ini. Dia sudah melihatku?'


"Tapi Tuan membawa nona dengan selimut tirai, lalu memanggil saya untuk memakaikan baju."


Penjelasan itu membuat Alea sedikit tenang, tapi tetap saja ia amat takut dan malu sampai ke ubun ubun jika sebentar lagi mereka bertemu.


Beberapa Jam Kemudian.


Alea telah siap di dandani. Tubuhnya bergetar hebat karena malu. Kejadian semalam ia yang terlalu lelah menangis.

__ADS_1


Memikiran Mas Haris. Membuat ia terlelap dan tenggelam tak sadarkan diri. Hingga ia sadar mengingat ke esokan harinya.


[ Bisakah kita bertemu Pak? ] pesan Alea.


[ Anda di mana Pak? ]saya mohon beri tau saya!"


Theo yang melirik ponselnya, ia melihat mendapat pesan dari nama Alea. Hanya tersenyum miring. "Dasar bodoh, apa kau malu saat ini, Atau bertanya apa aku sudah melihatnya?" gelak Theo.


[ Theo. Sebelum akad, bisa kita bicara. Ku mohon ]" Masih mode pesan.


Alea masih memegang ponselnya, meski ia telah berhias. Namun ia masih memikirkan hal tak biasa, pikirannya kacau. Apa jadinya, pernikahan pura - pura. Tapi ia harus malu karena bos gila itu telah melihatnya.


"Kenapa harus bos gila, andai bibi ila saja yang menemukan aku semalam?" lirihnya, memegang ponsel ke kening.


"Memang kenapa jika bukan aku, apa kau niat bunuh diri?" tanya Theo.


Alea menoleh, ia tak sadar jika pria yang akan menikahinya. Telah ada dan mendengar pembicaraannya saat ini.


"Apa kamu takut?"


"A-aku. Aku semalam hanya memikirkan ..?" mengigit bibir.


"Aku tidak bicara tentang kamu memikirkan pria yang menyia -nyiakanmu. Yang aku tanya, apa kamu gelisah?"


CETEEG .. KENING ALEA DI SENTIL.


"Auuw." meringis Alea, memegang kening.

__ADS_1


Alea kembali menunduk, namun Theo mengangkat dagu Alea kala itu. Hingga di mana, ia meminta Alea untuk bicara padanya dengan terbuka.


"Aku tidak suka wanita yang memikirkan masa lalunya, apalagi dia akan menikah!"


"Tapi. Kita hanya pura- pura. Bagaimana mungkin?"


"Ehueueueum .. baiklah, apa yang kau inginkan tanyakan. Waktu kita setengah jam lagi!"


"Aku. A-aku ingin bertanya. Apa kamu melihatnya?"


"Pak. Kamu tidak melihat aku saat itu kan?"


Alea menelan saliva. Ia memang melihat Theo di hari pernikahannya sangat tampan. Bulu kumis dan cambangnya telah di pangkas habis. Namun benaknya bertolak belakang, ketika Theo masih berbisik menatap amat dekat.


Wajah mereka yang saling menatap dan miring, erat tangan Theo yang semakin dekat dan hampir menyentuh bibirnya. Nafasnya semakin terasa saat berbisik.


"Apa aku terlihat berpura - pura menikahimu. Alea Trihapsari, bisakah setelah akad kita bertanya lebih ..?"


Alea mendorong. Tubuhnya menjauh tiga langkah mundur. Hal itu membuat Theo tertawa kala menggoda Alea.


"Tidak. Jangan lakukan itu, karena aku ... " Alea menunduk, ia malas menjelaskan dengan hal sensitif.


"Baiklah. Aku mengerti, lagi pula aku tidak tau. Setelah akad tergoda atau tidak. Mengingat aku telah melihat semua, dan merasakan ranum mu saat membuat nafas buat .. an."


"Cukup. Anda benar -benar bos gila. Saya anggap itu tak pernah terjadi!"


Alea melangkah pergi dari kamar utama. Theo hanya melirik senyum dan mengikuti kemana Alea melangkah. Ia sadar, gadis pilihan papa adalah wanita briliant. Hanya saja, ia harus bersabar untuk memulihkan luka dari hati yang dikecewakan oleh nama Haris dihatinya.

__ADS_1


"Hey, ingat mantanmu itu sudah bahagia. Lima bulan apa tidak cukup untuk melupakannya? Kau tidak sakit hatikah?" teriak Theo, mengikuti langkah Alea yang wajah semu malu malu menghindar.


Tbc.


__ADS_2