Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
TERLUKA


__ADS_3

Theo mengepal kedua tangan, ia meremas dengan rahang yang sedikit keras. Matanya telah tertuju pada seorang yang ingin ia hancurkan. Entah titik kelemahan, setiap tau dia pelakunya. Semua masalah, begitu saja tertutup tanpa apapun.


BRUUUGH.


Pukulan mendarat membuat Leo sang sepupu menjadi gemetar. Kala melihat Haris di pukul.


"Paman. Kita bicarakan baik - baik, jangan seperti ini!" Leo berusaha melerai.


"Siiiiaa-lan. Lo pukul gue apa alasannya?!" teriak Haris berdiri kembali.


Lalu meneriaki sahabatnya Leo. "Lo boongin gue, maksudnya apa. Kita ketemu tapi bawa pria tua ini!" menatap kesal, dengan menunjuk Theo.


Erik dan dua pengawal ingin melerai, pasalnya ia tidak ingin. Pak Theo mengalami luka, demi wanita. Ia berusaha membuat perhitungan, meski Erik melerai dua bodyguard Haris. Mereka saling berjaga dan melingkar. Seolah tatapan Haris dan Theo saling berhadapan. Sementara Leo anak muda yang menjalani bisnis terbilang awal. Ia hanya memegang kepalanya karena penat.


Hingga beberapa jam. Theo dan Haris masih saling menatap dan saling menepis. Haris tetap bersikukuh tidak pernah datang ketempat itu.


"Gue bilang. Gue ga ada hubungannya dengan terjadinya Alea, paham lo."


"Mana ada maling ngaku. Model pria brengsek kaya loe! harus di beri pelajaran!" Theo menarik kembali jas kerah namun menahan untuk memukul.


"Lepas Bung. Jangan bikin gue gak sopan. Gue tau kita masih satu darah. Apa alasannya lo berlaku gila, cuma demi Alea? Dia wanita malang bukan?" Hahaaa .. senyum picik Haris.


"Berani lo bilang sebutan kaya tadi. Gue gak segan buat hancurin semuanya hingga ada di nol. Dan kita bukan keluarga satu darah!"


Hahahhahha!! Seriuskah? Coba aja. Lagi pula, sia - sia. "Udah ada buktinya bung?" ungkap Haris menertawakan Theo dan mengelilingi tubuhnya.

__ADS_1


Theo menderu nafas. Ia berharap, menemukan titik di mana dirinya akan hancurkan Haris sampai berada di titik bawah.


"Gue pastiin bakal bikin lo hancur! Satu hal, lo berani sentuh dan nemuin Alea. Gue orang yang maju buat bunuh lo. Haris!" ketus Theo.


Hingga di mana, ia pergi ketika Erik mempersilahkannya. Lalu dengan kilat melewati sang pemilik club baru dengan wajah kebingungan. Panas dingin, ia menatap ruangan vvip sudah hancur lebur.


BRAAAGH. ERIK MELETAK KAN SEGEPOK UANG DAN KARTU NAMA.


"Ini ganti rugi hari ini, jika kurang hubungi!" Erik mengetuk ketuk kartu nama di atas uang yang berwarna dengan senyum miring.


***


Rumah Sakit.


Alea yang telah membaik. Ia ingin sekali pulang, hingga di mana. Dokter mengecek keseluruhan kondisi Alea kala itu. Sinta yang menemani cukup senang, ia happy pasalnya Alea telah membaik.


"Thanks ya Sin. Gue aja yang ga sabar, harusnya tunggu mas Theo." senyum Alea, karena ia sudah tahu siapa yang datang.


Eheeeuuum. Suara deheuman, dan tatapan serak maskulin datang. Aura sedikit pekat membuat sinta bergidik ngeri dan horor.


"Kalau ga ada Sinta mungkin, tapi saya akan ada dan menjadi sayap pelindung kamu. Alea sayang." senyum Theo dan duduk menatap Alea begitu saja.


'Astaaagaa. Gue berasa jadi nyamuk goreng sekarang. Meski auranya horor, kalau udah di depan Alea kenapa jadi kaya hello kitty ya ni ruangan.' batin Sinta.


Sinta pun saat itu juga pamit, setelah Alea ada yang menjaga. Menyisakan tatapan dua orang yang saling memandang.

__ADS_1


"Mas bantu ya?!" Alea pun mengangguk.


Hari ini tepat tiga hari, Alea akan pulang. Kesehatannya semakin normal. Setelah Theo mengemas barang Alea, ia menggendong Alea ke kursi roda. Hingga di mana, Alea cukup terkejut dan malu.


'Kenapa aku nyaman. Perlakuan baik mas Theo. Membuat aku rindu, rindu jika perlakukaan ini adalah sikap mas Haris. Tapi sayang .. itu tidak mungkin terjadi. Tapi, aku tahu dia adalah kakak dari Haris, namun aku terus berusaha memberi kesempatan untuk tidak menyamaratakan. Tapi, jika aku tetap saja mandul, apakah mas Theo akan meninggalkan aku juga? Jujur aku wanita yang banyak kekurangan.' batin Alea.


Theo pun mendorong kursi roda, meminggirkan roda itu depan meja kasir, lalu meraih Alea dengan sendiri. Gaya gentle, dan semua para suster sungguh terkejut. Akan pria yang bermantel kerah coklat. Dan celana jeans yang benar benar harum mewangi ketika melewatinya.


Hingga di mana tatapan Alea cukup risih dan menoleh ke atas rambutnya. Ia menoleh wajah Theo yang maskulin dan terlihat gagah.


"Mas. Kamu bikin semua suster terpesona tuh. Seneng ya?"


"Heuuumph .. apa sayang?"


"Kamu jadi perhatian para suster." bisik kembali.


"Coba katakan lagi. Aku ga denger!" senyum goda.


"Mas. Kamu iikh ... , bikin aaku malu deh. Ya udah kalau ga mau jawab juga." nada kesal Alea, wajahnya ia sumputkan kala dibelakangnya Erik membawa tas dan barang barang Alea. Sementara Theo, malah membawanya bukan dengan kursi roda, melainkan ala bride style di rumah sakit menuju loby.


Setelah di dalam mobil, Alea terpana kala suaminya itu ikut masuk. Ia menatap bidang tubuh yang tebal sekitar lima centi, perban dengan sedikit noda merah dibagian depan bidak lebar itu.


"Mas, boleh aku lihat! Kamu kenapa..?!" terhenti tangan Alea, saat tangannya ingin meraih kemeja miring terlihat perban, tapi ditepis tahan oleh tangan Theo, Cukup senyum dan ia merapihkan kemejanya yang hampir miring.


"Kau lihat apa Erik? Cepatlah jalan!" serak tajam mata bagai pisau, kala Theo menoleh.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2