Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
TRAGEDI KANEBO


__ADS_3

Beberapa puluh menit, Alea tiba menatap mobil Theo yang datang. Saat hampir sejajar di mana ia berdiri. Kaca mobil itu terbuka, Theo menunduk dan meminta Alea masuk.


Dengan saling senyum, Alea pun Tersipu. Lalu masuk dan memakai seat belt. Tapi cekatan tangan Theo kembali sigap, sebelum Alea menarik memakai sendiri.


"Sudah siap?"


"Ya. Mas makasih, sudah ini." senyum Alea menunjuk seat belt.


"Sudah seharusnya bukan. Bagaimana, apa tadi seru bersama Sinta?"


"Ya. Cukup, membuat rindu terobati. Owh ya, apa besok aku boleh masuk kerja mas?"


"Besok kita harus pergi ke suatu tempat. Lebih dari pekerjaan."


"Benarkah, memang kita akan kemana?"


"Besok kamu tau Al."


Tak lama, Theo mendadak rem. Karena sebuah motor yang tiba saja menyalip. Menghadang dan melemparkan beberapa telur ke kaca mobilnya.


"Haaah. Astaga .. apa yang mereka lakukan? Punya masalah apa dia, bisa bisanya..?" panik Alea.


"Bukan apa - apa. Hanya hal kecil, mereka tidak salah. Karena hanya uang receh beberapa lembar. Ia mengirimkan teror kecil seperti ini. Dia tidak tau, berurusan dengan siapa. Membangunkan singa dari kandangnya." senyum miring Theo.


"Singa, dari kandang..? Kamu punya singa mas?" menatap loading.


Eheeum!! Berdeheum. "Ada! singaku akan aku tunjukan nanti malam. Biasanya dia keluar di tengah malam." menatap Alea.


"Haah! Jangan harap." sebal Alea.


Hingga Alea yang panik, sedikit gemetar kala menatap wajah Theo.


Theo menarik dasi, lalu membuka kancing dan meregangkan kerah baju kemejanya, membuka seluruh kancing hingga terlihat bidang area terlarang roti sobek. Alea cukup panik dan melirik akan sikap pria di sampingnya.

__ADS_1


"A-apa kamu punya musuh mas?" tanya Alea.


"Heeh, tidak apa. Bukankah dirimu yang lebih terang terangan mempunyai musuh?"


Gleuuk! "Tapi musuhku siapa ... Aku ga punya."


Alea terdiam, ia membuang wajahnya kala kemeja itu dibuka dua kancing semakin terbuka. Ia semakin tidak biasa, duduk berdua namun pria itu membuka bajunya.


"Tu-tunggu. Kamu mau apa buka baju mas?"


"Aku .., kenapa menutup mata. Aku akan menepi, hal yang seharusnya di lakukan."


Alea membuka mata, ia menatap beberapa menit aksi Theo yang telah menepikan mobilnya di pinggir. Lalu melirik, pria di sebelahnya hanya memakai singlet putih dan celana kantor yang masih rapih. Ia turun, dengan santai dan mengambil beberapa kanebo yang tersimpan di balik jok mobil.


"Tunggulah. Aku akan kembali!"


Beberapa puluh menit, Alea cukup tersipu akan aksi Theo yang menyiram air untuk kaca mobilnya.


Lalu menyemprotkan berkali kali pembersih untuk noda kuning telur. Hingga di mana, perhatian yang sedikit berhenti menatap aksi pria macho sedang membersihkan kaca mobil.


Alea ingin sekali keluar mobil, membantu Theo. Tapi ia takut beberapa orang karyawan, akan melintas. Sehingga akan terjadi bahan gosip dan yang tak mungkin Theo suka, pasalnya jika di kantor banyak orang yang belum tahu, jika ia istri Theo. Tapi jika tahu pun, akan rumit karena bagi Alea ia adalah istri pura pura.


Alhasil ia sebal, kala di dalam mobil tak berbuat apa - apa.


"Aaakh. Kenapa aku jadi serba salah, harusnya aku membantu membersihkan. Agar tidak ada wanita dan ibu muda yang berhenti di depan mobil. Sungguh ini bukan lelucon, atau sebuah Atraksi yang harus di pertontonkan." sebal Alea.


Theo yang sedikit lagi hampir selesai, ia ingin memeras kanebo dari tangannya, namun di hentikan oleh tangan indah Alea. Hingga di mana Theo terkejut. Karena Alea membantunya.


"Kenapa kamu turun?"


"Haah, agar cepat selesai pastinya. Memang apalagi, aku di dalam saja membuat sakit mata. Lihatlah! Terlalu banyak orang mengeliligi bukan?" menatap Theo.


Theo tersenyum, bahkan ia tak sadar jika banyak orang yang melihat dan senyum - senyum melambaikan tangan. Baru tahu, di mana ia menatap wajah Alea yang sedikit lucu.

__ADS_1


"Apa kamu cemburu?"


"Wuaah, mana mungkin aku cemburu. Sudahlah, ini hampir selesai, setelah ini kita mampir ke tempat cuci mobil gimana?"


"Baiklah. Aku juga ingin mengajakmu ke butik. Makan sore, dan pertemuan nanti malam."


"Pertemuan ..?" Alea menohok kaget, kala beberapa mobil bus karyawan melintas.


Astaga .. teriak Alea. Dengan sadar Theo melirik tatapan di mana Alea melihat, hingga di mana ia menutup wajah Alea dengan kanebo dan menarik nya untuk masuk ke dalam mobil.


Reflek Theo, menarik Alea masuk ke dalam mobil, masih menutupi wajahnya dengan kanebo.


"Aaaakh. Bau sekali, Uuuuuuueeek." melempar kanebo ke sembarang.


Theo masuk, menatap Alea yang mual mual.


"Kenapa. Kamu hamil?"


"Uuuueeek .. uuuuueek, dasar pria jahat."


"Auuuw. Kenapa memukulku?" tanya Theo.


"Pake tanya kenapa, bukankah kamu sengaja. Kamu tau aku hampir mati dan muntah muntah mas. Kamu tutupi wajahku dengan kanebo bekas lap kuning telur?"


"Owh. Aku tidak bermasud .. hanya saja tadi kamu yang mengageti aku duluan, aku refleks Alea."


"Cciih. Dasar bos gila, bagaimana bisa ia menutupi seorang wanita dengan kanebo kotor." gerutu Alea.


Theo pun membuka singlet, lalu memakai kembali kemejanya. Hingga di mana ia kembali menyetir ke suatu tempat. Meski dalam perjalanan ia sempat meminta maaf berkali kali. Tapi Alea hanya diam tak menanggapi.


"Semua pria hanya butuhnya saja."


"Aku. Heeuh .. mana mungkin. Aku benar benar minta maaf, Hey! Maafin aku ya. Setelah ini aku minta kamu bersiap, pertemuan kali ini berhubungan dengan mantan suami bodohmu itu Al." jelas Theo, sedikit kesal jika harus memanggil Haris.

__ADS_1


"Maksud mas .. ?"


Tbc.


__ADS_2