Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
GAGAL UWUW


__ADS_3

Sesampai di rumah, Ia segera mengganti baju dalam beberapa saat. Alea memegang kepalanya, rasa sakit dan bingung kenapa ia bisa di rawat di rumah sakit. Seolah ia hilang ingatan tragedi yang menimpa dirinya terakhir kali.


"Kamu kenapa, ada yang sakit?"


"Mas, benar aku sakit karena pingsan kelelahan di kantor, kok aku ga ingat ya. Aaacch."


"Jangan dipaksa sayang, cukup untuk mengingat hal menyakitkan. Ada hal yang lebih penting, kamu harus memikirkan hati, jiwa nan bahagia."


Alea duduk, lalu teringat akan bidak tubuh Theo. Alea melepas tiga kancing baju suaminya dengan berkata. "Mas, luka apa ini? Aku mohon jangan berbohong!"


"Ini saat mas mengendarai karena tidak hati hati, tabrakan kecil. Kamu ga perlu khawatir."


"Mas, jangan berbohong! Apa kamu berbohong soal ke Jerman meeting, tapi berobat?"


Theo memeluk Alea, terlihat ada rasa khawatir Alea. Dimana ia tak ingin pria baik di depannya ini mempunyai luka serius.


"Sudah mas bilang, ini bukan hal serius. Ada yang lebih serius, dari hubungan kita saat ini."


"Mas, aku ganti perbannya ya?" di anggukan oleh Theo dengan senyuman.


Beberapa saat Alea mengganti perban, memar merah kebiruan itu membuat Alea ngilu. Pelan dengan hati hati, ia membuka dan membubuhkan obat pereda nyeri yang ditaburkan obat merah. Lalu kembali menutup luka itu. Tangan Alea pun di genggam dengan tatapan senyuman. Ada rasa khawatir bagi Alea, gugup bercampur penuh keringat dingin, kala angin dan petir membuat tirai jendela balkon tersapu angin.


Alea dengan segera mungkin refleks menutup tirai, sementara Theo senyum, tahu jika Alea gugup ketika keadaan mereka berdua saja.


"Mas, aku tutup dulu ya."


"Heuumph.."

__ADS_1


Dingin menyeruak kulit pori pori Alea. Sadar diri, ingin sekali menanyakan terakhir kalinya apakah mas Theo melihatnya bertemu Haris, dan ia terluka kecelakaan melihatnya. Tapi tiba saja pria itu telah berdiri amat dekat dan menempel dibagian punggung Alea, sambil memegang jemarinya untuk menutup tirai balkon bersama.


Eeehmp! Seperti ini, mas bantu Alea sayang! Desiran bisikan Theo, membungkam Alea yang buyar ingin bertanya.


Lalu Theo dengan gugupnya melihat Alea, ia berjalan ke arah pintu lain.


Alea menatap sendu, ketika mas Theo membukakan pintu kamar dengan perlahan dan lembut. Hal yang tidak mungkin ia takuti adalah, di mana ia menatap langit ruangan doop seperti pria yang lajang.


Alea berusaha menatap seluruh kamar, ruangan dapur dan ruang tamu untuk bersantai dengan banyak ide.


"Kamu lihat apa?"


"Mas. Kalau aku merubah warna dan seluruh beberapa barang. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Alea.


Theo hanya mendapat senyuman saja, membuat hatinya meleleh. Rasa sesak di luka yang amat sakit, ia tahan. Membuat dirinya menahan, ketika menatap wajah indah Alea yang menyejukan. Jujur ia tidak ingin membuat Alea kepikiran tentang dirinya saat ini.


Dalam pandangan senyuman pria di depannya. Entah Alea sadar atau setengah sadar, ia merasakan sosok pria yang ia cintai. Senyuman lembut itu, mirip mas Haris yang pertama kali menyambut dirinya dan menjadi teman sekedar membaca buku.


'Astaga Al! Jangan seperti ini, jangan lagi wajah dia yang hadir. Ingat di depanmu adalah Theo yang lebih baik dari masa lalu.' batin.


"Alea. Pernikahan kita sudah masuk enam bulan. Apa kamu bahagia?"


Alea mendekati Theo. Dalam pikirannya memang mas Theo yang sedang berbicara, tapi entah mengapa ia seperti melihat Haris. Alea megerjapkan matanya. Berusaha sadar untuk tidak merubah suasana yang kacau.


"Mas. Aku tak pernah sedikit terluka dan sakit. Jika itu kamu." lirih Alea.


Dalam batin Alea. Ia sangat sedih dan bingung akan perasaannya. Jika ia bertemu Haris, ia sangat benar - benar ingin tetap lama menatap dan di dekatnya. Tapi sikap acuhnya, ia sangat kecewa dan semua itu ia dapatkan dari sosok Mas Theo yang teramat baik padanya.

__ADS_1


"Semoga aku tidak pernah melukai dirimu mas Theo. Jika aku salah, katakanlah agar kita selesaikan!" bisik Alea.


"Apa kamu sedang menggodaku. Alea Trihapsari?"


Eeeupph .. Alea menutup bibirnya, ia mencoba untuk membuka hatinya. Meski begitu, Theo berhak atas dirinya. Sudah saatnya ia menunaikan kewajibannya.


Theo perlahan mendekat ke arah Alea yang berdiri, kaki Alea terpentog sofa dan duduk. Kemeja kancing Theo, itu telah terbuka sempurna sejak kapan entahlah. Alea dengan sengatan mata suaminya yang dalam, ia hanyut kala pinggangnya telah di raih dan duduk diatas pangkuannya.


"Mas, kita ...Uhm."


Theo sudah menegang, memangku terasa bagi Alea yang telah duduk diatas pusarannya. Ranumnya telah tertutup dan saling menempel, setengah terbuka Alea memejamkan mata dan terlihat Theo semakin dekat dan erat semakin dalam memainkan lidah. Alea yang duduk dipangkuan Theo, berdesir kala tangan kokoh itu meraba arah sensitifnya.


Namun tiba saja seseorang memencet bel rumahnya.


Ting Nong!


Theo dan Alea membuka mata, terlihat jelas tangan Theo mengepal, seolah kesal.


"Mas, aku lihat dulu siapa yang datang ya?" gugup Alea mencari ikat rambut, dan merapihkan bajunya yang terbuka.


"Tetaplah disini sayang! Biar mas yang lihat, jika itu Erik. Gajinya akan hilang setahun detik ini juga."


Gleuuk!!


Terdiam Alea, ia mencari remot tv dan satu tangannya menyentuh bibirnya, menggigit bibir bawahnya, ingatan jelas itu terasa beberapa saat lalu, apa yang mereka baru saja lakukan.


Kreeek!

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2