Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
BERUSAHA BANGKIT


__ADS_3

Mama Riris terlihat kaget, saat ia ingin mengecek nota rumah sakit hasil kemo untuk Haris yang kecelakaan, bagusnya ia telah sadar dari koma berkat bantuan Theo, anak tirinya itu. Ia cukup terkejut karena melihat Alea ternyata dalam keadaan trauma berat.


Sinta meminta Erik untuk mengizinkan Mama Riris masuk, hal itu membuat dirinya segera masuk dan melihat keadaan Alea.


"Sayang, apa yang kamu alami. Apa tidak bisakah mama melihatmu tersenyum. Jangan sedih nak, masih ada mama. Kamu pernah merawat mama dengan setia. Jika kamu mau, mama akan bagi waktu untuk merawatmu nak. Huhuuu." mode tangisan mama Riris mengusap telapak tangan Alea.


Alea masih sadar, air mata sangat kering baginya saat ini. Meski perih rasa sakit itu membuat dirinya semakin hancur. Hingga beberapa jam kemudian, mama Riris pamit dan akan menjenguk Alea lagi jika di izinkan.


Sinta dan Erik berkompromi. Mereka bergantian berjaga selama satu minggu lebih. Kini pelupuk indah cahaya telah amat menyentuh dan menusuk di pori pori kulit Alea. Alea masih berharap mas Theo ada.


Ia membuka mata, melepas segala hal. Seolah nyawa kembali hidup baginya. Alea memegang perutnya seolah ada kehidupan yang harus ia jalani saat ini dan seterusnya.


"Nak. Maafin bunda, ga seharunya bunda larut dan semakin larut bersedih. Bunda akan kuat dan kita pasti akan menemukan keberadaan dady. Dady pasti masih ada bersama kita." senyum Alea mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


***


SINTA YANG MENJALANI RUTINITAS.


Ia berada di kantor, ia cukup terkejut ketika menatap pesan dari Erik. Lalu menutup mulutnya kala ia tak percaya, Alea sudah pulang dan ada di rumah menuju kediaman mertua. Menjalani rutinitas seperti biasanya.


Sinta mengucap rasa syukur yang luar biasa, tak henti hentinya ia merasa sangat senang akan Alea yang sudah normal kembali. Menatap layar video akan sebuah aktifitas Alea seperti sebelum kejadian suaminya pergi.


[ Syukur Al. Hidup haruslah berjalan dengan sebaik mungkin. Jika gue ga sibuk, gue pasti akan temui lo secepatnya.] senyum Sinta menatap layar ponselnya.


BERBEDA HAL DENGAN ALEA.


Alea sedang melakukan perjalanan menuju rumah paman Brian yang berada di ibu kota tak jauh, semenjak itu pula mengajak Alea tinggal di kediaman rumahnya yang sedikit besar serta mengurus perusahaan menggantikan Theo Anggara.

__ADS_1


[ Jika aku tiada, maka posisi terkuat adalah istri dan anakku! ] pesan Wasiat yang membuat Alea menatap sedih.


Perjalanan itu memakan beberapa jam saja, Alea pun telah tiba. Mereka turun dan berjalan lebih dahulu. Reno sang asisten dari paman Brian mendampingi dan menjaga Alea kemanapun ia pergi.


"Al, lo tunggu disini ya, biar gue antri ambil koper kita dibagasi mobil. Duduk lah disini!"


"Iy, aku juga mau ke toilet."


Selama beberapa saat, membuat Alea terdiam kala seorang wanita, meraih tangannya dan meminta bantuan.


"Mbak! Maaf saya Merlin. Bantu saya!"


"Anda sedang hamil?" melengok apalah Alea menemukan seorang dokter yang berada di bandara tersebut.


"Apa ada yang saya bisa lakukan, ada apa dengan wanita ini? Kenalkan saya dokter Airin." ujar wanita lewat menyambar.


"Saya Alea. Bisakah membantu saya! wanita ini kesakitan, sepertinya ia sedang hamil!'


"Owh. Astaga biar aku bantu pertolongan!"


Alea mundur membiarkan Merlin di tangani seseorang dokter. Entah dari mana ini sebuah keajaiban dan malaikat penolong.


Alea bingung dengan spontan, Merlin tersenyum pada Alea berterimakasih, keadaan membaik di tangani dokter. Merlin dan mereka pun bercakap cakap sebentar.


"Kalau begitu saya pamit! kawan anda hanya kelelahan, usahakan kehamilan muda jangan dipaksa untuk lelah berpergian!" tutur dokter.


Alea dan Merlin berterimakasih pada dokter. Kini hanya mereka berdua tinggal. Merlin, memegang tangan Alea.

__ADS_1


"Alea apakah kamu ingat aku? Merlin pria yang mencintai Theo. Wanita yang mengaku menjadi kekasihnya dan merubah namaku menjadi Sena. Aku adalah Merlin, maafkan aku ya. Kamu telah baik baik saja kan? Aku turut berduka."


Alea terhenti, ia jadi ingat wanita di parkir loby vvip. Hingga di mana ia cukup terkejut masa lama terulang, dan tak menyangka membantu wanita yang merusak rumah tangganya hingga kacau. Tapi sekarang mas Theo tak ada, untuk apa mengingatnya. Benak Alea.


"Maafkan hubungan kalian dulu terhenti, karena ulahku. Owh beiiybie."


"Beiiybie? Cukup panggil Alea saja Merlin!"


"Oke. Terimakasih sangat, jika tak ada kamu entahlah, Pria ku sangat dingin mungkin karena ia sangat mencintai masa lalunya.


"Sudahlah, aku harus pergi tidak ada waktu."


"Tapi Alea, aku hanya berusaha agar suamiku mencintaiku. Sama seperti Theo yang mencintaimu amat dalam. Kamu beruntung."


Alea terdiam, ia kesal jika di ingatkan mas Theo. Bahkan rasa sedih itu masih menjalar baginya. Hingga ia menjawab pada Merlin yang pernah mengaku dan merubah identitas menjadi Sena beberapa waktu, Alea baru menikah dan skandal di kantor membuat Alea sadar jika mas Theo jujur tak ada hubungan apapun.


"Meski kamu ingin menguntit, suamimu bukan tipe yang suka diatur. Beri saja ia ruang, dan tetap sabar perlahan ia pasti akan amat menyayangimu. Aku sibuk dan jika tak ada aku pasti ada orang lain. Satu lagi Merlin kita tidak akrab!" ketus Alea.


"Ya Alea, terimakasih."


Alea pun pergi, hingga ia meninggalkan wanita yang pernah membuat hidupnya hancur dalam kesalahpahaman karena ulah Irene juga. Entah hari apa, Alea berharap tak pernah bertemu orang bermasalah di masa lalu. Apalagi ia sedang merencanakan bukti kuat, agar kasus Irene terungkap masuk jeruji besi.


Tak lama, Alea terkejut saat berbelok arah.


"Astaga." syok Alea hampir jatuh duduk. Lalu tubuhnya di sangga seseorang.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2