
Seminggu Kemudian. Setelah banyak masalah akan berita tentang kejahatan publik selebriti bernama Ines Tv, atau di sapa dengan irene. Alea disibukkan berbagai layangan yang di sebut kurang bukti, untuk memboikot segala hal atas nama Irene. Alea adalah korban, sehingga seorang publik figur ini sering berkelit karena kekuatan nitizen.
Ada hal yang Alea tahu, yakni rumah sakit di saat Irene menyuntikan cairan kelumpuhan pada mama Riris. Alea harus mencari saksi suster yang bekerja sama dengan Irene saat itu.
DI RUANG KERJA MAS THEO.
Saat mas Theo dan Erik. Hampir selesai dalam pekerjaan nya. Alea menghampiri dan bertanya pada Erik.
"Erik, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Alea.
Dengan wajah pucat, Erik menatap pak Theo lalu mengigit bibirnya seolah bingung harus menjawab apa.
"Maksud istri pak bos apa ya?" bisiknya pada Theo.
"Sayang, tidak kah terang terangan. Bagaimana jika Erik tak suka Sinta, kamu tak lihat Vero rekan ku saat itu, bagaimana ia menginginkan keingintauannya tentang Sinta?" bisik.
"Ahk. Ya, benar sekali mas. Aku lupa."
Alea dan Theo sengaja bersekongkol. Ingin melihat raut wajah Erik. Dengan spontan Erik berbicara seolah gugup ia hilangkan. Hal itu agar suasana cair, untuk menutup telinga yang panas di berbagai berita. Bahkan, yang Alea tahu kemungkinan Irene dapat hukuman wajib lapor saja, di kantor polisi.
"Pak, apa saya bisa tau tentang Sinta. Bagaimana ia bertemu dengan kekasihnya yang telah pergi itu?"
Alea tersenyum, meletakkan buble gum yang ia buat di gelas ramping. Hingga menghela nafas dan Alea bersandar pada bahu sang suami.
'Hadeuh, mengapa suasana manis romantis selalu saja tampil di hadapan jomblo sih?' batin Erik.
"Sayang, ceritakanlah tentang Sinta. Mungkin asistenku ingin mengejarnya. Agar hidupnya kelak berwarna!"
Alea pun menatap senyum, lalu ia menceritakan sepenggal dirinya dengan Sinta saat duduk di asrama panti dulu. Alea menatap langit, berusaha mengenang kisahnya dengan Sinta yang sulit dilupakan.
"Yah, begitulah awal pertemuan kami. Sinta dan dia saling menatap dan jatuh hati. Di supermarket." ungkap jelas Alea yang menceritakan masa lalu.
Mengisahkan mereka di saat bu Riris mengenalkan putranya. Dan Vero itu adalah anak dari pemilik panti, yang kini jadi bos pertama kami.
__ADS_1
"Sayang, kamu dan keluarga Haris sudah sedekat itu?" tanya Theo.
"Iya mas." senyum Alea dengan mudah, enteng.
Membuat Erik menelan saliva, karena jelas tersirat wajah Theo sangat kesal dan cemburu. Lupa, sadar Alea ingin menceritakan sepenggal kisahnya dengan Sinta, malah berbalik ada kaitan dengan mama Riris dan Haris.
"Eh .. kenapa kalian diam saja, mas kok diam?"
Alea menatap dua pria kaku dengan wajah pucat dan melihat mas Theo sedikit berbeda. Apa yang ia ucap cukup membuatnya merasa bersalah.
Hal itu membuat Alea pamit, ia meminta suaminya segera bersiap untuk meeting. Dan Alea akan belanja, berencana dengan sang supir dan pembantunya.
"Hati hati sayang!" kecup Theo, yang mengantar Alea ke dalam mobil.
***
Beberapa Jam Kemudian.
Tling! Nada Pesan.
"Alea. Setelah urusan mas di kantor selesai, mas akan temui kamu. Apa mau kamu, hingga bisa bisanya tersenyum genit pada Frans. Dari kapan kamu dekat dengannya, apa bukan Haris saja yang menyentuhmu. Tapi Frans juga?" benak Theo menatap cermin panjang.
Kala ia meregangkan dasi, lalu Erik memintanya telah bersiap dan selesai. Erik pun mengekor kala sang bos menyibak jas rompi dengan gentle. Ia keluar dengan gaya yang luar biasa.
Erik meski asisten setia dari keluarga Tuan Anggara. Ia cukup speechless kala sang bos menampilkan wajah tampan dan gagahnya seperti saat ini.
[ Mas, aku keluar dulu ya. Good Luck sayang ] pesan Alea.
[ Ya! Tunggu mas nanti di rumah ya! ] membalas pesan Alea.
Rasanya Theo tak sabar, ingin menghukum dan menanyakan langsung pada Alea, kenapa ia tidak langsung pulang setelah belanja bulanan. Melainkan pergi ke rumah sakit tanpanya.
Dan saat meeting kembali, dalam beberapa jam waktu ia bekerja, hingga sorenya Theo yang berencana pulang. Sebuah ponselnya bergetar begitu saja.
__ADS_1
Tling! Foto Alea kembali, dengan dokter Frans.
[ Kenapa istriku dengan dokter bejad ini, kenapa dia tidak bicara ingin ke dokter? ] batin Theo menatap pesan itu lagi.
Saat dalam perjalanan, Theo masih memikirkan sebuah beberapa foto dari seseorang misterius. Ia tak habis pikir, jika seseorang mengintai istrinya, dan lebih gila lagi mengirimkannya padanya.
"Erik bagaimana nanti rapat penting kita?"
"Sangat aman Bos. Saya telah mempersiapkannya dari kemarin sore dan telah selesai!"
"Erik, bagaimana menurutmu. Foto itu, apa kau yakin jika Frans mempunyai hubungan dengan Alea. Menurut mu apa pendapatmu?"
Erik terdiam, ia sungguh berat untuk mengatakan kesimpulan yang ia cerna.
Mengingat permasalah bosnya, ia sangat tau. Mengingat banyak kemungkinan masalah dan musuh ingin menjatuhkan nama Theo agar terguling. Erik berusaha keras, semampunya karena kesetiaan dan tak ingin banyak karyawan akan kehilangan pekerjaan secara masal. Termasuk dirinya yang takut itu terjadi.
"Erik. Kau bisu aku bicara padamu. Katakan jangan sungkan!"
"Ma-maaf bos. Menurut pendapat saya, Frans mendekati Nyonya Alea. Meskipun mungkin nyonya Alea tidak bermaksud, saya hanya risau jika Frans akan menyukai nyonya Alea. Terlebih saya khawatir dia seorang play girl. Atau bisa saja, nona Alea mencari bukti lebih soal kasusnya dengan irene, tanpa merepotkan anda." jelas Erik, karena media sosial saat ini penuh pro dan kontra saling beropini.
"Ceeuh. Dokter cabuul itu, memang harus ku peringatkan! Agar dia memproses kasus istriku dengan Irene tanpa mendekati lebih dalam. Harusnya Frans, bicara padaku langsung!" geram Theo.
Hingga di mana, ia telah sampai di depan kantor pertemuan. Ia berusaha menyingkirkan emosi yang menggebu gebu pada Alea.
Saat ini, Erik sudah memberikan beberapa lembar berkas, meeting akan di mulai dengan beberapa staff. Tapi pikirannya merasa kesal saat Alea dengan pria lain.
Bagaimana tidak, semalam Theo mencari Frans sangat lelah. Tapi begitu terkejut, kala ia menatap beberapa foto aksi istrinya tanpanya, dengan seorang pria yang ia cari.
Took! Took.
Sinta, segera masuk mendampingi pak Theo, guna mewakili pak Venzo. Ia juga cukup terkejut kala seseorang datang dengan pengawal yang supir big dan sangat memesona membuatnya sakit kala berjejer di setiap sudut.
'Astaga. Ini meeting penting, berasa ingin tempur di medan perang. Banyak sekali pria berbaju hitam.' gumam Sinta.
__ADS_1
Tbc.