
Alea menatap apartment lux. Jauh dari kota terpencil villa yang ia ingat. Hingga di mana, letak lokasi tempat tinggal saat ini. Lebih dekat dengan kantornya bekerja.
Namun meski begitu, ia tak akan pergi begitu saja tanpa ijin. Alea sangat berterimakasih karena saat kakinya di pukul tiga kali, saat tiga pria itu membuka pakaian hampir bulat Theo berhasil datang tepat waktu.
Alea menutupi wajahnya di kamar. Ia merasa malu menatap pria yang datang, ke arahnya saat ini. Bahkan kakinya saja di perban, sehingga ia bisa bergerak dengan kursi roda elektrik.
Perjalanan dari rumah sakit sangat memakan waktu yang lama. Ia juga melihat Theo yang sedikit lelah. Theo kini mengangkat Alea ke ranjang kasur, dengan posisi bantal yang tinggi.
"Theo. Terimakasih, aku janji akan menurut, dan tidak pergi begitu saja?"
"Apa. Aku akan menjawab?" sambil mengaduk sup buatannya.
Aaaaak! Theo meniup sup dan menyuapi Alea dengan lembut, perhatian itu membuat Alea sadar, tidak semua pria disamaratakan seperti mas Haris.
Perlahan Alea membuka mulut, mengunyah dan sup itu terasa enak. Hingga ia lupa akan menanyakan sesuatu.
"Harusnya aku yang menyiapkan. Maaf aku menyusahkanmu!"
"Sudah seharusnya bukan. Ayo buka mulutmu, habiskan sup ayam kampung ini. Semua agar kakimu cepat sembuh dan kuat! Setelah semua selesai, kita kontrol akan sakitmu yang telah lama tidak kamu cek. Aku sudah mempunyai janji, dr adrian tan dia terkenal dan aku yakin, luka bekas di kandunganmu yang retak bisa sembuh total."
"Kenapa kamu baik sekali? bukankah kita pura - pura?" tanya Alea.
Theo diam tak menjawab, baginya membuang waktu jika ia berterus terang. Ia hanya bisa menjawab nya dengan segala sikap. Agar Alea sadar, jika ia benar tulus dan ingin menghapus luka nama Haris musuhnya di hati Alea wanitanya kini.
"Kalau begitu Kenapa kamu kabur?"
"A- aku. Aku saat itu, hanya ingin ke rumah sakit. Astagaaa ... " teriak Alea, membuat Theo terkejut.
"Kenapa. Ada yang tertinggal barangmu?"
__ADS_1
"Bukan. Aku harusnya menjenguk Mama Riris. Dokter Celine memintaku, karena kondisinya,"
Alea sedikit terdiam. Kala Theo menyentil keningnya lagi dan lagi.
TIIING .. "Dasar bodoh, bukan memikirkan dirimu lebih dulu. Malah mengkhawatirkan yang lain. Bagus saja, kamu membawa ponsel. Jika tidak.. tau kenapa?"
"Jika tidak aku tidak bisa memesan taksi." balas Alea.
"TLIIING .. BODOH." menyentil kening.
"Auuuw sakit." ucap Alea.
"Jika tidak. Mana bisa aku temukan dirimu kemarin malam." tutur Theo.
Alea sedikit terdiam, lalu ia sadar jika ponselnya di taruh gps. Meski sedikit risih, tapi ia cukup mengerti di saat mendesak seperti kejadian semalam.
"Bagaimana. Apa kamu ternodai?" tanya Theo dengan enteng.
"Lalu aku harus bertanya apa?" Theo menatap, Alea pun menunduk.
"Sudah habis. Bagus, istirahatlah Jangan lagi banyak bergerak. Jika perlu sesuatu, panggil aku! Ponsel aku letakkan disana, jangan lagi pikirkan mama Riris, beliau sudah ditangani orangku dan satu perawat disana untuk berjaga!"
Theo menaruh ponsel. Ia mematikan lampu dan keluar begitu saja dari kamar. Setelah menyelimuti Alea.
Alea sedikit tersenyum. Tapi ia ingat akan perjanjian pernikahan pura - pura. Alea pun sedikit miring, ia membuka ponselnya sekedar mencari berita terkini. Agar ia bisa mengantuk dan terlelap tidur.
HINGGA MALAM TIBA.
Theo melirik jam sudah pukul sebelas malam. Ia mengambil piyama tidur, menaruh kacamata di nakas lemari. Setelah bekerja di meja kerja, yang letaknya disamping kasur king size, terlihat jelas Alea sesekali menatapnya meski berada di kasur empuk, sementara pandangan Theo fokus pada laptopnya beberapa saat.
__ADS_1
Menatap Alea yang mungkin terlelap tidur. Hingga di mana, ia mendengar sesuatu suara.
Ya, suara gemuruh Alea yang sedang bermimpi. Theo yang masih mengenakan celana tidur panjang dan singlet. Ia mendekat ke arah Alea.
Alea benar saja bermimpi, ia menyalakan satu lampu tidur di kamarnya. Lalu menatap jelas kening Alea yang berkeringat.
Theo ingin mengambil tissue, tapi benar saja. Keningnya sangat basah, mengelap dengan lembut. Namun tangannya terjerat oleh tangan Alea dengan sangat kencang.
Theo ingin melepas, hingga di mana. Alea berteriak dan kembali berteriak.
AAAAAAAKGH!!
Teriakan Alea, membuat matanya sedikit takut. Alea menoleh dan memeluk Theo dengan kilat. Entah dalam alam bawah sadarnya, ia meminta Theo tak meninggalkannya, dan tidur di kamar lain.
"Al. Alea, bangun .. jangan seperti ini!"
Theo menatap Alea yang tertidur kembali, namun masih memegang erat tangannya. Hingga di mana ia tidur satu ranjang. Karena lelahnya pekerjaan, Theo ikut tidur dan bersandar dalam satu kasur king size.
Theo sangat tak bisa tidur, jauh dari keinginan nya ingin menyentuh Alea. Namun kondisi yang tidak tepat, seolah Alea yang saat ini. Di mana ia bisa merasakan tidur dalam dekapan wanita yang ia cinta dan ia cari selama ini.
Wanita yang membuatnya jatuh dan mengenal arti banyak cerita. Ia sengaja membuat parasnya seolah tua, agar bisa menemukan wanita yang ia cari selama ini. Hingga di mana ia bertemu kali di club, karyawan paman Venzo milik salah satu paman Chiyo Ibrahim yang sering ia pakai, dalam mengenalkan dirinya pada Alea begitu saja.
Theo mencari data Alea Trihapsari, dengan bantuan dan di yakini sang papa. Akhirnya ia mencukur segala penampilan aslinya, agar Alea bisa melihat jika ia tidak menikahinya secara pura - pura.
Theo takut jika berterus terang, Alea akan menolak dan masih mempertahankan Haris yang masih ada di dalam hatinya saat ini. Sehingga pernikahan pura pura yang ia katakan, hanya alibi agar Alea tidak lagi disakiti Haris dan istri barunya itu yang aktif di sosial media.
Theo pun yakin, jika Alea selama ini sakit tapi tidak pernah mengecek kondisi aslinya. Terus terang, tidak ada yang namanya pernikahan tanpa kehadiran anak untuk mewarnai hidupnya, tapi jika itu menyangkut keselamatan istrinya kelak, Theo akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Alea. Kasih sayang cintanya tulus dan benar ada hingga nafas akhir.
'Semoga nama Haris, kamu buang dan melupakan semuanya Alea.' batin Theo, yang membelai rambut istrinya itu.
__ADS_1
Tbc.