
Saat ini Reno bersama anak dari paman Brian. Kakak dari Dimas Anggara mendiang papa dari Haris dan Theo yang menikah dua kali.
"Reno lo bikin gue kaget aja, ada apa sih kaya lari gitu?" melepas sanggaan tangan Reno.
"Gue kaget, dan syok. Gue udah hubungi Sinta dan Erik. Udah kita harus sampe dulu ke rumah papi Brian. Nanti juga tau!"
"Papi. Lo manggil papi, bukan ..?" kaget Alea.
"Gue emang anaknya, jangan salah. Mangkanya gue di percayain."
"Di percayain apa?" melirik alis sebelah.
"Jie ilah, ya apalagi kalau bukan di percayain menjaga wanita bunting. Gimanapun paman Theo, om." jelas Reno, membuat Alea kesal.
PRUUUGGGH.
"Ga sopan." sebal Alea.
"Auuwh sakit Al, ga usah mukul juga kali. Pukulan lo masih sama kaya zaman sekolah, gue sering di tindas terus." celotehnya.
Hingga mereka menepi dan masuk kedalam mobil. Alea dan Reno yang menyetir telah berjalan selama bepuluh menit, suasana itu hening membuat Reno merasa bersalah. Jika Alea diam saja, ia pasti akan memikirkan Theo yang bisa memicu hal ga bagus, buat perkembangan janinnya. Hal itu sudah tugas Reno untuk membuat Alea tidak sepi dan selalu menghibur perintah papi Brian, sampai om Theo kembali. Pasalnya ia juga masih yakin jika om Theo masih hidup.
__ADS_1
"Ada yang mau di ungkapin?" tanya Reno.
"Mas Theo, suami yang super sabar. Dia berkali kali nolongin dengan banyak penuh rintangan. Tau kan, sekarang lagi dalami kasus Irene, Aku yakin ada yang di sembunyiin dari dia. Kejadian berkali kali dia buat masalah serius, semua sekongkol ada yang masing masing dan ada juga bersama Haris. Haaah, ga sangka."
"Gila, gue sempet denger tuh. Kenapa mereka tega segitunya sih, padahal udah punya kehidupan masing masing juga." ketus Reno menanggapi.
"Entahlah, aku rasa dia dendam. Karena gue menikah sama Haris. Yang saat itu gue juga enggak tau, kalau mas Haris punya kekasih. Syok udah nikah selama bertahun tahun di acuhin, ternyata udah nikah lagi. Hancur hati. Seiringnya waktu mas Theo yang bikin aku kagum. Hingga akhirnya .."
"Akhirnya kecelakaan kan, gue paham. Lo yang sabar Al." Reno menepuk pundak Alea.
"Ga sampe di situ mulut ember, lo tau penjebakan zona steel dan gedung ceremony. Belum lagi wanita tadi yang gue ketemu, dia minta maaf. Meski gue memaafkan, tapi gue ga pernah lupa. Dan itu menurut gue fatal, kenapa dia bisa setega itu membuat hubungan gue sama mas Theo dulu hancur, aku sebagai istri selalu menyembunyikan demi nama mas Theo ga hancur." jelas Alea.
Reno terdiam, ia senyum menyempit. Kala melihat drama rumah tangga Alea yang menyulitkan. Terlalu banyak musuh buat hidup Alea. Hingga ia bingung dan curiga, ada apa dengan masa lalu Alea yang menginginkan kehidupannya semakin rumit dan sulit di artikan.
"Thanks ya Ren, cuma lo yang ngerti dan percaya. Yakin kalau mas Theo masih hidup, sampe kapanpun gue ga akan berhenti mencari."
Reno mengangguk, karena ia merasa curiga kala seseorang meminta dirinya menjadi asisten Alea. Di mana ia sempat mendengar telepon jika keberadaan di rumah saat ini, ada paviliun yang akan di huni orang sakit. Reno menerka nerka, tapi ia mengkesampingkan pikiran itu. Karena selama ia bekerja, ia tau aturan dan batas wilayah mana yang harus ia tapaki yang boleh dan tidak boleh ia pijak.
"Nah, udah sampe nih kita. Al, gue cuma mau ingetin ya. Di balik gedung ini, asal lo tau ya. Lo ga boleh nyebrang melampaui jembatan belakang yang menepi ke paviliun!"
"Lah, emang kenapa?" tanya Alea.
__ADS_1
"Udah deh, kalau gue bilang ga boleh. Ya ga boleh. Gue aja ga boleh, gak tau. Nanti lo tanya sama papi Brian. Lo aja lah tanya lansung. Ok aunty! Dahlah, turun pelan pelan. Gue angkat koper di belakang, oke."
Alea mengangguk, hingga di mana hati dan rasa tenang Alea tiba saja menyirami bagai air yang memupuk sebuah tanaman. Entah rasa apa, tapi yang jelas ia merasa dekat dan sedikit aman sampai waktunya tiba. Ia akan melahirkan dan memulihkan kondisinya, dan fokus pada perusahaan mas Theo demi mengurangi kesedihan dan masa depan anak dalam kandungannya kelak.
"Ren, kenapa hati gue ngerasa tenang ya. Di balik pohon besar itu, kenapa ada rumah lucu. Gue nanti mau kesana ya?"
"Eeh, Eehk. Di bilang ga boleh ya ga boleh, jangan bikin nyawa kerjaan gue melayang deh Alea. Apalagi sampe dipecat jadi anak kandung. Sekarang lo hubungi Sinta, doi mau bicara hal penting tuh. Mau bicara serius, lo mending telepon sekarang juga!"
Gerutu Reno, ia mengangkat dua koper dan berlalu masuk lebih dulu. Seluruh asisten menyambut dan mempersilahkan Alea untuk masuk.
"Nona Alea. Tuan sudah menunggu, selamat datang!"
"Terimakasih. Saya akan masuk nanti, saya mau hubungi seseorang dulu ya." namun tetap saja tiga asisten menunggu Alea untuk selesai, seolah mengawalnya.
"Hadeuh, Sinta susah amat sih di hubungi. Tadi gue di suruh cepet cepet hubungi dia pas udah sampe, bikin penasaran aja." sebal Alea menatap layar ponselnya.
Hingga di mana, Alea melihat aneh. Di balik pohon besar, terlihat seseorang di tutupi pakaian mumi yang duduk di temani seseorang. Alea berusaha maju, namun langkahnya di hentikan.
"Tunggu, jangan Nona. Jangan melewati batas menghampiri ke arah sana!"
Alea terdiam, semakin ia di larang. Entah mengapa ia semakin penasaran. Tak lama, seseorang pun datang memeluk Alea dengan kilat.
__ADS_1
Tbc.
Note : Dua Hari Ini Kisah Alea akan di revisi di rapihkan. Makasih ya all atas dukungan mengikuti kisah Alea.