Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
BERADU MULUT


__ADS_3

"Kamu pikir, kamu siapa. Bisa bisanya menuduh sahabat saya seperti itu!" ketus Sinta.


Sinta yang baru saja tiba, ia cukup terkejut akan keramaian. Hingga di mana, Sinta melindungi dari kerumunan orang lain yang mengelilingi Alea. Tepat, ia berbicara pada semua yang melemparkan kata kata tidak pantas.


"Apa kalian sadar. Menghakimi, jika begitu saya akan minta rekaman cctv. Siapa yang salah, maka harus di perpanjang masalah ini?"


"Hei, kamu mau pansos ya. Kamu ga kenal siapa saya, aku tantang kamu lihat cctv. Biar aku jebloskan kalian berdua, si benalu kehidupan dari pandangan memang harus di lenyapkan!" tunjuk Irene.


Alea pun berdiri, di bantu Sinta. Hingga di mana, kerubunan orang lain pergi dan meninggalkan lokasi karena telah di tangani dua security yang datang.


"Baiklah. Saya minta maaf pak, saya memang salah. Saya salah kamar, yang saya ingat tujuh kosong tujuh. Ternyata begitu sampai bawah, sinyal ku aktif, aku baru ingat jika reservasi temanku kosong tujuh kosong. Jadi semua salah saya pak. Saya akui." lirih Alea menunduk.


"Lo jangan nunduk Al. Lagian lo harus tuntut, atas pencemaran nama baik. Siapa yang nguntit pasangan maksa bahagia." ketus Sinta.


"Heiiy. Lo berani sama gue wanita jelek?" Irene mendorong tubuh Sinta.


"Bu. Ibuu .. ibu. Sudah, kita bahas di kantor dengan baik ya!" salah satu security mencoba menenangkan.


"Apa sih, ini lagi. Security muka ceper, ngapain panggil ibu- ibu. Panggil gue irene tv, lo ga tau siapa gue. Lihat baik - baik wajah gue!" ketus Irene.


Alea dan Sinta hanya geram. Ia lelah akan adu mulut yang tak berujung. Hingga di mana Haris datang dan menatap tiga wanita di depannya.


Haris melirik Alea, namun ia seolah tak mengenal, langsung menghampiri istrinya Irene.

__ADS_1


"Sayang. Kita akhiri saja, ini sudah larut. Kita bisa pesan di tempat lain!"


"Uuuch .. honey. Hatimu lembut, pantas saja kamu di ikuti wanita penguntit. Aku jadi kasihan, karena cintanya tak terbalas." sindir Irene.


Haris pamit, ia meminta dua security menyudahi kesalahpahaman di tempat yang seharusnya indah. Hanya sebuah kecemburuan irene, Alea harus menanggung malu lagi.


"Yo. Wiis, kami tadi juga maunya begitu. Tapi ibu ini .. " lirih Security menatap kesal pada wanita seleb sombong bernama Irene.


"Panggil bu lagi, gue potong gaji lo nih!" bisik Irene.


Security itu pun hanya menggeleng, tanpa sadar Alea dan Sinta telah pamit juga pada salah satu security di sebelahnya.


"Weleeeh. Itu kok artis klo marah jelek ya. Sampe ke ubun - ubun itu urat. Pake gaji kita di bawa lagi. Emang dia siapa sih Son?"


Hingga dua security kembali bekerja dan berghibang siapa Ines Irene tv itu. Pasalnya, ia seharian selalu bekerja, dan tak mengenal artis yang menantang siapa dirinya hingga tak kenal dia sangat marah.


DI BERBEDA TEMPAT.


Alea masih menangis, kala ia membicarakan hal bodoh. Sinta menyudahi, agar Alea melupakan. Tapi tangisan tersedu - sedu masih saja terus membuat Alea tak bisa berhenti.


"Sin, gue ga peduli sama ocehan orang. Lagian gue ga kenal. Tapi gue sedih aja, soalnya Mas Haris benar - benar acuh. Apa segitunya gue ga pernah ada di hatinya. Gue ngerasa, hidup gue terlalu bodoh. Kenapa gue ga bisa singkirin nama dia di hati gue. Setiap gue salah, kenapa tuhan mempertemukan mereka berdua di time yang gak tepat. Gue salah .. Gue salah Ta." teriak Alea.


"Udah ya. Gue yakin, semua bukan salah lo Al. Kita perlu refreshing, gue bakal ajuin cuti di kerjaan. Mungkin dengan itu lo bisa lupain semua perlahan!"

__ADS_1


"Thanks ya Ta. Gue selalu aja bikin lo susah."


"Enggak, kita sahabat. Udah seharusnya kan. Gue gak mau ada hal bodoh yang di tutupi lagi. Cerita sama gue nanti ya!"


Sinta mengajak Alea ke suatu tempat. Ia menyetir selama dua jam. Hingga mereka tiba di sebuah villa di tepi curug. Suasana yang asri dengan Alam. Membuat ia teringat sesuatu.


"Ta, kita ga seharusnya ke sini. Gue mau pulang! Please jangan ke tempat ini lagi!"


Teriak tangisan histeris Alea. Membuat sinta terkejut. Pasalnya ia tidak tau kenapa, Alea yang tak pernah takut tiba - tiba membuatnya terkejut.


"Al. Alea .. lo kenapa sih?" panik Sinta.


"Al, ini kan tempat kita dulu, ada apa sih sama lo Al?" Sinta membelok setir.


Masih menemani Alea di dalam mobil, lalu kembali menyetir dan menatap suasana yang larut. Ia bermaksud ingin mencari penginapan di kota keramaian, perlu waktu setengah jam turun dari ketinggian villa. Hingga di mana mobil Sinta mogok.


"Jujur sama gue, ada yang lo tutupin? Kenapa lo panik liat ke depan?" ujar Sinta kala itu.


Tbc.


Yuks sambil nunggu up! Mampir lagi ke judul temen litersi Author ya.


__ADS_1


__ADS_2