Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
TAK PERCAYA


__ADS_3

Jamuan Klien, di meja bundar. Theo memperkenalkan pada rekan bisnisnya. Lalu tak lama mereka saling berkomentar akan kecantikan sang sekretaris.


"Wah, luar biasa. Sekretaris pak Theo, memang luar biasa semua. Bukankah yang sebelumnya juga cantik dan pirang?" tanya Reza, sang rekan bisnis.


"Hahaha. Bisa saja, dia di mutasi ke negeri tetangga."


"Luar biasa, apa terlalu agresif. Apa pak Theo tidak menyukai salah satu sekretaris agresif itu. Haaha, bukan begitu?" lirik goda Reza pada Theo.


Alea sedikit tidak nyaman akan obrolan para bos. Lalu ia menyebrang mengambil sebuah minuman. Dan memberikan pada Theo yang telah haus, karena Alea belum melihat Theo minum.


"Hadeuh, pria menyusahkan. Terlalu sibuk menanggapi hal bodoh, apa dia tak ingin minum, atau ia sengaja membuat diriku menjadi pelayannya sehingga kita berpisah beda ruang saat ini." gerutu Alea, yang sebal harus bergabung pada semua wanita yakni kaki tangan bos atau para istri bos.


Tak lama, Alea di kejutkan dengan Irene yang sengaja menghampiri dan menumpahkan satu cangkir minuman berwarna merah menyala.


"Uuupsss. Sengaja, sory ya!"


Irene pergi begitu saja, sementara Theo yang serius akan perbincangan. Ia tak menatap Alea di sebuah jamuan dan masuk ke dalam ruangan private. Hingga di mana, Alea di buat malu oleh Irene.


Tak sedikit, beberapa rekan yang fans berat ke artisannya, dalam nama selebriti. Irene segera menanggapi dengan ramah, mengabadikan beberapa rekan yang ingin meminta foto bersama.


Tapi mata Irene masih sinis, senyum miring pada Alea. Seolah ia sedang merencanakan sesuatu.


"Tau kah kalian, menurut kalian. Hal yang pernah berurusan dengan merebut pasangan orang lain. Apa yang kalian inginkan ketika bertemu?" teriak dan sindir Irene.


"Wah. Jeng Irene, benar - benar mempunyai kisah seperti itu ya? Kalau aku, sebagai fans berat mbak Irene sih, aku udah tampar, beri perhitungan yang pantas pastinya." sambar seseorang mengompori.


Bahkan Alea melirik Irene, jika ia benar tak pernah ingin merebut mas Haris. Ia memang mempertahankan demi Mama Riris, dan rasa cintanya yang tulus. Tapi ia tak pernah tau jika mas Haris sebelumnya telah memiliki kekasih. Bukankah aku terlalu naif, bukankah aku terlalu tidak ingin mengatakan. Jika itu bukanlah aku?


Alea pun sedikit minggir, namun Irene menahannya. Memegang lengan kiri Alea, lalu saling menatap dengan sinis. Bahkan Alea cukup terkejut, ia tak ingin selalu dekat pada Irene, karena masalah sebelumnya ia sudah sulit untuk mengatasi.


"Ada apa Irene?" tanya Alea.

__ADS_1


"Apaaa .. kamu lupa, kamu benalu yang merebut suamiku?"


"Maksud kamu apa Irene?" tanya Alea menatap beberapa orang yang memperhatikannya.


"Alea .. Alea. Owh, kamu jangan berlaga polos. Aku tau, apa yang ada dalam benak kamu. Bukankah kamu sangat mencinta Haris Anggara. Apa karena kamu menyesal telah di sentuhnya, atau kamu tak pernah sama sekali di sentuhnya setelah ..?! Hahaaaa .. Alea, Alea kamu malang sekali. Hukuman yang pantas untuk pelakor seperti mu adalah, tak pernah di cintai dengan tulus." teriak Irene.


"Apa, aku pelakor... ?" menatap tidak etis Alea pada Irene.


Alea menelan saliva, ia ingin melepas eratan tangan irene. Tapi tak kuasa, Irene mengguyur wajah Alea dengan air minum berwarna. Hingga di mana, sorak wanita yang ada di lantai itu ikut mencecar dan melempar sesuatu pada Alea.


Dasar wanita murahan!


Dasar wanita tak tau diri, beraninya merebut. Semoga karma menimpamu!


Dasar wanita busuk, wajah dan hati tak sesuai. Kamu layak menderita heh, cantik tapi pelakor! Percuma, memalukan sekali.


Ceceran beberapa orang yang ikut mendukung Irene, sangat banyak hingga kata kata menyakitkan membuat Alea terdiam kaku.


Theo berada dalam lantai berbeda, setelah itu. Ia mencoba menghubungi Alea, jika ia telah selesai dan meminta Alea bersiap untuk segera pulang. Tapi tak ada panggilan yang terangkat sedikitpun dari ponselnya.


Theo pun menghiraukan Reza yang memanggilnya, mengajaknya untuk ke sebuah club setelah semua berakhir. Tapi kode tangan lima jari, ia memilih tak ikut dan pergi dengan sebuah ponsel dalam genggamannya yang menempel ketelinga.


Theo mencari Alea ke dalam ruangan di mana para staff khusus berkumpul, notabane sekretaris dan staff wanita yang sedang rehat mencicipi makanan ketika para bos berada di ruangan berbeda.


"Alea. Di mana kamu?" panik.


Hingga di mana, Theo terus mencari Alea, namun ia di kejutkan dengan pemandangan yang menyakitkan pada hatinya.


Sehingga Theo salah paham akan aksi Alea saat ini yang menatap seseorang.


Alea setelah mencuci wajahnya, lalu menghilangkan noda di pakaiannya. Ia menghapus sisa tangisan yang sembab, dan memoles concealer tipis, agar Theo melihatnya tak curiga.

__ADS_1


Alea sengaja tak ingin Theo tau, kejadian beberapa saat irene memperlakukannya dengan semena - mena. Semata karena Alea tak ingin Theo membantunya, lalu ia berhutang budi lagi.


Namun saat ia keluar dari toilet, ia melaju langkah dan membelok. Ia menatap Mas Haris yang membelok satu arah. Hingga di mana, Alea sedikit terhipnotis kala menatap wajah Haris.


"Mas Haris?" senyum Alea.


"Alea. Baju kamu kenapa, apa kamu?"


"Bukan. Bukan apa - apa, aku saja yang ceroboh. Mas, jika ada waktu sempatkan waktumu. Aku ingin bicara padamu, tolong sempatkan menjenguk mama. Bagaimanapun, ia pasti bahagia di jenguk putranya." jelas Alea.


Haris tak bisa berkata, ia melirik seisi lantai gedung ia berada. Berharap Irene tak melihat saat ini, semata agar tak salah paham. Haris tau, jika perbuatan Irene beberapa menit lalu membuat luka bertambah pada mantan istrinya itu, anehnya Alea selalu menyembunyikan luka.


Haris harusnya berterimakasih, karena pernikahannya dengan Alea. Membuat dirinya mempunyai segalanya, tapi ia tak bisa berbuat apa -apa. Kala semua nama kepemilikan telah di rubah atas nama Irene, Haris lebih memilih ada di pihak irene saat ini dan selamanya. Meskipun kenyataan kelak, Alea benar.


'Maafkan aku Alea. Andai saja Damian anak dari kita.' batin Haris. Ia pergi lalu mengabaikan Alea kembali.


Tak lama, Alea tak sadar jika Theo telah menghampirinya. Alea menoleh dan menghapus rasa sedih, lalu melirik ke arah kanan. Jelas mas Haris yang berjalan lurus mengabaikannya.


"Aku menghubungimu. Apa kamu masih berusaha menemui pria brengsek itu?" ketus Theo.


"A- aku... Tadi .."


"Baiklah. Toilet, ku rasa itu privasimu. Kita pulang sekarang! Aku tidak perlu penjelasanmu." jelasnya, terlihat raut wajah pria itu kesal, dan mengekor tak bergeming.


Tbc.


Hey! Sambil tunggu up, mampir ke temen litersi Author Yuks.


Terimakasih buat dukungan kalian, suport menunggu kisah istri yang tersakiti.


__ADS_1


__ADS_2