
Sampai di kamar, Alea mencari keberadaan Theo tapi tak ia temukan, tanda tanda kehidupan didalam sana, semua lampu gelap dan sunyi.
Tredeeth!
[ Alea, aku akan ada di jerman selama empat hari paling cepat. Aku harap, kamu tetap di rumah dan memberi kabar meski, Mungkin aku tak sempat membalas. Aku telah berada di bandara dan akan segera landing.] pesan di ponsel.
"Kenapa aku merasa sedih ya?" Aku merasa kesal jika pesan ini tampil, aku merasa ingin marah dan mood turun?" benak Alea, mencari keberadaan Theo tapi tak ia temukan.
Bahkan cake yang telah ia pesan, dan hias pun bagai sia sia. Ia telah menghias dan meletakannya di meja.
'Baiklah, cake nasibmu dimakan oleh para pengikut semut. Tak apa, aku berbaik hati pada kalian saat ini.' gemuruh batin Alea, membiarkan cake itu terbuka di meja dengan taburan hiasan nama Theo love Alea.
TLING, DERING NADA PESAN.
[ Ini adalah nafkah aku padamu, maaf aku lupa memberikan kartu black padamu Alea. Aku harap kamu di rumah dan beri kabar jika ingin pergi! ] isi pesan.
Alea di buat menohok, ia cukup terkejut karena nominal uang yang di transfer Theo cukup besar.
Hingga di mana, Alea kembali menuju kamar Theo. Ya, dimana apartement lux. Yang terbilang cukup untuk tinggal berdua. Dengan fasilitas wah. Bagi Alea adalah kehidupannya sunyi.
"Andai saja. Aku tau, siapa keluargaku. Siapa ayah, ibuku. Mungkin aku ga kesepian, Sinta selalu sibuk. Rasanya aneh, jika aku tak punya seseorang petua yang bawel. Aku rindu, mereka yang telah tiada." lirih Alea.
Alea memikirkan perasaan dan pikiran yang bercampur aduk. Hingga di mana, sesak tangisan di dalam hatinya. Membuat Alea rindu akan Mama Riris. Meski ia adalah ibu kandung Haris, sang mantan mama mertua. Bunda dari Haris yang ia kenal, ia cukup senang karena beliau memperlakukannya seperti anak sendiri.
__ADS_1
Alea bergegas mandi karena penat. Setelah selesai ia kembali mengeringkan tubuhnya, dari kelembapan air shower yang menetes di tiap lekukan indah tubuhnya. Alea segera mengganti pakaian piyama panjang berwarna maroon. Hingga menepi sebuah kulkas, ia membuat makanan siap saji dan menonton acara televisi.
Dari berita, dari iklan. Dari acara yang biasa ia ikuti. Rasanya hampa ketika penghuni dalam apartement ini, hanya ada dirinya seorang. Alea makan dengan tak bersemangat, ia menatap ponselnya. Tak ada sedikit pun pesan dari mas Theo.
"Aarrrgh. Kenapa sih, mas Theo bikin aku serba salah malam ini?" benak Alea.
"Owh. Tidak, tidak mungkin. Pasti ini semua karena aku terlalu takut. Jika kejadian di atas rooftop bersama mas Haris. Itu pasti bukan mas Theo, tapi OB. Yap, benar sekali itu pasti OB Dong." senyum picik memikirkan banyak hal.
"Aaakh. Bagaimana jika itu tadi Mas Theo, lalu dia mendengar percakapan kami tadi. Mas Theo pergi tanpa mendengar perkataan terakhirku yang menolak mentah - mentah Haris."
Alea masih berbicara sendiri. Ia menatap cermin, hingga melihat ujung pintu ruang kerja Mas Theo.
"Kalau aku keruang kerjanya. Apa boleh ya?" benak Alea.
Alea memainkan jari jarinya ke rak buku yang rapih itu, membukanya, lalu menatap jam pasir itu dengan alarm yang cantik. Tanda love bergaris chrome membuat Alea sangat menyukainya.
"Pantas saja couple. Jika ini di sambungkan, maka jam pasir di tengahnya akan jelas membentuk sebuah hati." senyum Alea.
Tak lama ia terpaut akan buku memori abu abu, tak sengaja ia buka dan menemukan hal yang menyakitkan.
Nama Theo Anggara. Usia tiga puluh empat tahun, asal belgia lahir di jerman berdarah turki. Hobi ketinggian, dan ketakutan adalah patah hati. Misi adalah mencari seseorang yang harus ia cari dan membuatnya ratu.
Alea pun membaca hingga kebawah, lalu sedikit menyimpulkan dengan diam dan lama.
__ADS_1
[ 12 Tahun Lalu. ]
'Tunggu, ini foto dua anak kecil. Foto keluarga, ada dua foto dimana Almarhum pak Anggara berdiri di tiap salah satu anak kecil dan perempuan dewasa seperti istrinya?' syok Alea.
Alea menyimpulkan, ia membaca dibelakang album tertera nama.
Riris Anggraini, Haris Anggara, Anggara Hartawan. ( foto sebelah kanan )
Mirna Arthaira, Theo Anggara, Anggara Hartawan. ( foto sebelah kiri )
"Mas Theo, aku ingin kamu menjelaskan semua ini. Jadi selama ini kamu dan Haris adalah kakak beradik, bagaimana bisa aku dalam lingkaran cinta adik dan kakak?" syok Alea melemas, matanya memerah dengan kesedihan, Kekecewaan amat dalam, serasa dunia mempermainkannya.
"Kenapa nasibku berada dalam keluarga menyakitkan, jika Haris saja seorang adik yang bisa menghancurkan istrinya, lalu aku kini menikah dengan seorang kakaknya. Bukankah ini permainan kalian berdua, kalian berdua benar benar membuat aku muak."
Alea memapah tubuhnya, ia segera berlari ke kamar dan mengambil sebuah koper. Ia selama ini tau, mendiang tuan Anggara mempunyai satu istri yakni mama Riris, ia mencoba tenang untuk menyimpulkan. Akan foto satu lagi, adalah istri pertama yakni ibu Theo, yang tak pernah bertemu.
Lantas jika kedua putra Anggara bisa menyakiti seorang wanita, akankah nasibku kelak akan dimadu setelah aku membuka hatiku pada mas Theo. Sesak Alea, saat itu juga ia keluar dari apartement dengan pakaian piyama.
"Maaf bu Alea! Perintah, ini sudah pukul jam dua belas malam. Bu Alea tidak bisa pergi malam malam seperti ini!" cegah seseorang dibalik pintu.
Tbc.
Yuks mampir litersi temen Author, sambil nunggu kisah Alea ya all.
__ADS_1