
"Kita sudah sampai! Mau ikut ke dalam, atau tunggu disini?"
"Aku disini aja mas. Jika tidak lama."
"Baiklah! tunggu sejenak, aku hanya ingin ambil data yang tertinggal di ruangan."
'Semua pria hanya butuhnya saja. Kenapa aku kesal, aku tau perjanjian itu pura - pura. Bahkan tak boleh siapapun yang tau jika di kantor kami telah menikah.' batin Alea berkecamuk.
Tak begitu lama, Theo pun kembali sehingga mereka kembali melakukan perjalanan, tanpa saling diam ada beberapa pertanyaan yang ingin dibicarakan, tapi melihat Theo berbicara melalui earphone sambil menyetir, Alea hanya menatap sampingnya yang memperlihatkan jalan.
SRIETH.
Alea terhenti kala di sebuah butik. Lalu ia ikut turun ketika Theo membuat kode untuk dirinya segera keluar. Hingga Alea terpaksa turun, namun menatap Theo memberikan kunci mobilnya pada Erik.
Ya, memang hanya Erik orang kepercayaan yang tau kami telah menikah. Meski begitu, keluarga Theo merestui, Alea tak bertanya lagi mengapa hanya dia sebagai kandidat pasangan pura pura.
Alea pun terpisah, kala Theo pergi ke sebuah ruangan. Sementara ia di hampiri beberapa pelayan butik dan memintanya untuk mandi dan akan berhias dengan sebuah gaun.
Satu jam kemudian, Alea hanya menurut. Ia bingung akan banyak pertanyaan. Ia harus kemana, tapi lelahnya menjadi penat saat sebuah ponsel berdering.
"Sinta. Hhaah, ada apa ini?"
Alea pun memanggil panggilan dari Sinta. Lalu dengan cekat ia menerima panggilan.
"Mas, aku terima telepon dulu." di anggukan Theo.
[ Ya Sin, ada apa? ]
[ Lo dimana Al. ]
[ Gue. Gue lagi di luar, ada kerjaan. ]
[ Yah, padahal gue ada di depan rumah lo nih. Masa ia, lo ga bisa pulang sebentar. ]
[ Sory ya Sin. Untuk saat ini, gue ada kerjaan dan ga tau mau kemana. Tugas kerjaan pastinya. Nanti gue kabarin, lo pulang dengan hati - hati ya! ]
[ Ya udah Al, klo gitu ... ! ] menutup panggilan.
Sinta merasa kesal, mengapa Alea sedikit aneh. Ia seperti menyembunyikan sesuatu darinya saat ini. Bukankah sahabat harus selalu terbuka.
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
__ADS_1
Alea pun telah cantik dengan gaun berwarna navy. Hingga di mana, ia menatap cermin apakah ini dirinya. Ia menatap dress code dengan kerlipan dan sedikit memanjang belahan itu hingga menepi di atas lututnya sebelah kanan.
"Astaga apa ini tidak berlebihan. Sebenarnya aku akan kemana. Apa bos gila itu akan meminta makan malam. Lalu seperti di film romansa dan menginap di hotel lalu .. Aaakh, melakukan .. uuups." Alea menutup wajahnya.
CEETEEEGH.
Alea terkejut saat keningnya di sentil oleh Theo.
"Apa yang kamu pikirkan. Cepatlah keluar!"
"Haaah. Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja saat tadi. Aku berfikir, jika kita akan double date."
Theo menertawai kepolosan Alea. Hingga di mana, ia meminta untuk Alea tersenyum dan tak befikir bukan - bukan.
Theo menarik tangan Alea. Meski seluruh pelayan menunduk hormat. Mengucapkan rasa terima kasih. Hal itu, membuat Alea sedikit malu untuk sikap manis pria yang sedang menggandengnya.
"Mas, apa kamu yakin. Aku takut, jika nanti?"
"Panggil Pak. Atau bos, saat kita di luar bertemu rekan. Kecuali saat kita berdua, dan di rumah!" bisik Theo.
"Kamu sekertarisku di kantor, di rumah sekertaris khusus pribadiku."
'Aku tidak tau, apakah sikap manis pria ini. Hanya untuk membuatku rapuh kelak. Alea kamu harus menjaga dan memagarkan hatimu!' batin Alea bergumam.
Masih menatap jalan yang lurus, tidak padat dan tidak juga terlalu lancar. Hingga mereka menepi di sebuah hotel berbintang yang mewah.
"Pak. Kita ke sini?"
"Ya. Di atas lantai sembilan puluh tujuh, adalah area aula rekan bisnis kita bertemu. Aku harap kamu tetap menahan rasa sedih, atau cemburumu pada seseorang yang mungkin kamu kenal!"
"Haaah. Apa maksudnya?" lirih Alea.
Tak sadar, Alea mengikuti gerakan Theo. Hingga naik lift dan menepi di sebuah lantai empat puluh lima berhenti.
Alea di kejutkan dengan mas Haris dan Irene yang datang ingin masuk lift. Meski posisi Alea bersejajar, Irene cukup terkejut akan penampilan Alea yang tak biasa.
Alea sedikit terdiam, namun Irene menggandeng mesra, memangku kepalanya di samping pundak Haris. Sementara tangan masih menggandeng manja pada Haris. Irene mengabaikan Alea yang di pinggir dekat tombol lift, dan berkata.
"Honey. Gerah sekali, aku rasa pertemuan klien. Akan sedikit sesak, karena sebuah benalu." ketus Irene melirik Alea.
Theo melirik, lalu menatap wajah Alea. Hanya saja, ia menahan amarah untuk tidak terpancing emosi.
__ADS_1
Alea hanya tertegun sakit, ia menutup wajahnya dan mengepal gaunnya. Untuk menutup dengan sabar. Aksi sorot mata Theo segera berdalih memencet tombol delapan puluh sembilan.
Tliith!!
Theo melingkarkan tangan Alea yang gemetar dan gugup ke arah tangannya. Lalu melewati di mana Irene dan Haris berdiri.
Theo sedikit menggeser tubuh Haris dan Irene yang terdorong.
Haris langsung menatap aksi sorot mata Theo. Lalu melirik tangan Alea yang di genggam Theo keluar dari lift.
Sementara Alea tersenyum menatap wajah Theo yang mencoba menenangkannya.
'Terimakasih. Karena kamu telah menyempurnakan suasana hatiku yang patah. Agar tidak terluka.' batin Alea.
"Aku harap kamu melupakan pria busuk itu Alea!" lirih Theo, masih saling menatap. Dan lebih dulu masuk ke sebuah pertemuan penting.
Acara pun berlangsung dalam beberapa jam, tak terasa Alea pamit ke toilet, meninggalkan Theo dengan klien lain.
Hingga tak sengaja Alea berpapasan di pintu lift terbuka tapi sudah terlambat tertutup, lalu menutup tombol dengan pelan. Irene terkejut akan aksi pandangan mereka yang tak biasa. Irene mendekat saat Alea menunggu lift arah turun.
"Alea, apa kamu mulai mendekati bos tajir. Hanya untuk membalas padaku, membalas hati Haris. Haris ku, tidak akan pernah jatuh cinta lagi padamu Alea. Jadi jangan bermimpi, bersaing denganku." ujar Irene.
"Kamu salah, bukankah kamu sudah bahagia bisa memiliki anak dari Haris. Sementara aku, tidak. Jadi untuk apa kamu merasa aku akan mengambil Haris."
"Bisa saja kan, kamu belum move on."
"Bukan belum move on! Tapi kamu takut suamimu di rebut pelakor. Yang notabane, kamu sendiri ketakutan kan?" jelas Alea sinis senyum miring.
Hal itu pun tak di sangka Haris mendekat menatap Alea dengan wajah tak biasa. Alea memang membutuhkan proses untuk menyembuhkan luka, selama belasan tahun mereka mengenal dan bersama, sakit itu amat dalam, kala perpisahan dengan hal menyakitkan.
Eheuum! Deeheuman seseorang, membuat Alea menoleh dan senyum mendekat.
"Alea, ayo kita pergi dari sini!"
"Iya." balas Alea lembut.
Tapi ada hati yang kesal, pasalnya Irene tahu saat ini mantan istri suaminya itu, mendekati pria tajir lebih kaya dari suaminya saat ini.
'Aku ga bisa biarin Alea bahagia, apalagi sampai bos itu menikahi Alea. Oh, tidak tidak mungkin.' batin Irene.
Tbc.
__ADS_1