
Aku harus bagaimana? Tidak ada satupun taksi yang mau melewati villa ini. Apa aku harus berjalan keluar diam - diam. Benak Alea.
Ia pun berganti pakaian, dengan memakai jeans dan sweater hitam. Lengkap dengan topi dan masker. Ia berlalu dengan tas kecil selempangnya. Lalu memikirkan cara keluar diam - diam.
"Maaf. Theo, aku tidak akan pernah menjadi wanita pria. Jika hal tadi terjadi, jika hal tadi aku biarkan. Aku pasti akan bergantung pada pria. Hal yang sama seperti aku akan mudah di buang begitu saja. Bukankah takdirku menikah hanya sebuah formalitas."
Di Luar Alea telah keluar dari villa Theo. Ia telah berjalan selama dua puluh menit. Tapi tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Hingga di mana petir dan hujan tiba saja dengan lebat turun begitu saja.
Alea cukup lelah berlari, ia mencari tempat berteduh. Namun, ia tak sengaja menunggu di sebuah halte sepi. Hingga di mana ia menunggu hujan reda hampir sepuluh menit lebih, tapi tak kunjung reda.
Langit pun semakin gelap, cuaca angin semakin menderu dengan percikan yang membasahi wajah dan tubuh Alea. 'Duh, kalau kaya gini cuacanya, gimana aku bisa kunjungi mama Riris di rumah sakit?' benak.
Rasa khawatirnya, ia menoleh di mana, Alea di kejutkan dengan tiga pria yang datang di depannya.
"Siapa kamu?" teriak Alea, mencari ranting untuk mengimbangi.
"Hahahhaahaaa... "
Hanya tawa seram. Membuat Alea berdiri dan berlari pergi begitu saja. Tak sadar Alea menjatuhkan ponselnya dan ia di tarik oleh seorang pria bertubuh besar.
Sementara Theo mencari Alea di kamar. Setelah mandi ia mengingat baju ganti yang baru saja ia beli. Namun tak sengaja, ia menghubungi Alea. Tapi tidak ada satupun jawaban dari Alea saat ini.
"Kemana dia?"
Theo menatap lokasi Alea. Ia begitu terkejut, saat Lokasi Alea tidak di villa nya.
Theo berteriak dan memanggil seluruh pengawalnya. Ia meminta untuk mencari Alea meskipun badai dan hujan yang sedang turun saat ini.
PERGI .. CARI SAMPAI KETEMU!!
KALIAN SANGAT BODOH!! TERIAKNYA.
Teriakan Theo bergema, karena penjagaan di vilanya minim kepekaan! Theo takut, Alea keluar karena lokasi villanya amat sepi dan jauh dari jalur angkutan, maka dari itu ia kilat mencari jas hujan dan payung untuk terjun mencari langsung.
Sementara di tempat gelap, baju Alea basah begitu saja. Salah satu kakinya di seret, sementara dua pria tertawa telah membuka sesuatu untuk di perlihatkan pada Alea yang menangis. Ia sempat melawan dengan ranting, tapi apa daya mereka bertiga dan membuat Alea terhimpit keadaan.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu aku mohon! Lepaskan aku, kalian mau apa tapi jangan lakukan itu!" tangis gemetar.
"Malam di tempat ini, kamu adalah makanan kami, hahaha. Tenang saja hanya sebentar!" bisik.
Aaaaaakh!! Toloooong.
Alea mengigit salah satu tangan pria, berteriak sekencang mungkin. Berharap ada seseorang yang menolongnya.
"Hujan besar, berteriak pun bodoh! hey cantik." bisik pria satunya menahan sakit karena gigitan.
Bruuugh!!
Pergelutan tiba saja dari belakang, membuat Alea terdiam. Setelah seseorang datang, di ikuti beberapa pengawal.
'Theo, apakah kau datang?' ringis Alea, tubuhnya sudah kedinginan dan ia pingsan begitu saja.
***
Rumah Sakit.
Theo, merasa menyesal membuat Alea tertekan kala insiden itu. Untung saja ia cepat tiba, jika tidak ia akan merasa bersalah. Jika Alea ternodai, ia akan menjadi pria yang bodoh.
Tubuh Alea sedikit memar di pergelangan kaki, pria itu memukul Alea dengan ranting besar. Sehingga ia tak bisa lari, ia mengingat saat Alea berteriak minta tolong.
"Tenanglah. Aku tidak akan pergi Alea!" bisiknya lembut, lalu berdiri menemui dokter.
Theo berbicara pada dokter tentang keadaan istrinya itu.
"Hanya luka memar pukulan saja, di kaki dan wajahnya. Tak ada luka apapun pada reaksi organ lainnya. Hanya saja kaki pergelangan sedikit retak, sehingga istrimu harus di rawat beberapa hari di rumah sakit." ujar dokter Frans sekaligus sahabat Theo.
"Thanks Frans."
Pernikahan yang baru terjadi beberapa jam. Theo terpaksa menunggu Alea yang terbaring. Trauma akan kejadian semalam, membuat Alea bemimpi dan berteriak. Ia sadar, jika Alea tak bisa sendiri untuk saat ini.
"Erik. Handle kantor beberapa hari ke depan!"
__ADS_1
"Baik bos!"
Jangan pergi .. jangan pergi!!
Tolooong aku .. tolong aku!!
Alea membuka matanya, lalu ia berteriak. Hingga ia terkejut akan Theo yang memeluk erat tangannya. Alea sedikit menarik tangannya, lalu ia menatap Theo yang kala itu juga masih ada dokter dengan sebuah benda kertas besar kaku, seolah menjelaskan.
"Hey, kamu sudah bangun?"
"Maaf. Aku minta maaf.. Sudah pergi tanpa Izinmu."
"Its ok! Jangan nangis, jangan lakukan itu lagi ya!" senyum Theo, menghapus air mata Alea.
Alea kembali menangis, ingin rasanya ia berteriak. Ingin rasanya ia tegar, tapi air mata itu tiba saja membasahi di pipinya begitu saja.
"Aku tidak ingin di rumah sakit. Aku mohon, aku janji padamu. Aku tidak akan keluar tanpa izin!"
Theo melirik, ia tak tega juga. Tapi mengingat ia bisa bekerja di rumah adalah suasana paling nyaman. Ia langsung meminta dokter Frans mengurus rawat jalan.
"Frans, aku minta pulang saja!"
"Tapi Theo. Itu akan ..?" ucap Dokter terhenti, yang kala itu masih memeriksa hasil scan tulang kaki Alea, masih menjelaskan pada Theo saat itu. Tapi mata Theo lebih tajam, dari pada peringatan dokter.
Dan tiba saja Alea siuman, sehingga Frans melihat adegan drama romance beberapa detik.
"Kau harus jadi dokter dua puluh empat jam! kirim suster kerumahku! Mudahkan." titah Theo berdiri.
Frans yang notabane hanya seorang dokter, ia tak bisa menahan sahabatnya itu. Hanya menghela nafas sebagai dokter turun temurun dari keluarga ternama.
"Dasar Theo gila. Jika sudah kemauan, membahayakan pasien. Sudah pasti mengancam akan mutasi ijin ku sebagai dokter ke tempat terpencil." lirih Frans, di iringi gelak tahan tawa Erik dari ujung tirai, yang melihat kebodohan atau kebucinan Theo saat ini.
"Kau jangan tertawa, aku yakin nasibmu juga menyedihkan kan? Bekerja dengannya selama bertahun tahun?!" bisik Frans, pada Erik yang langsung membeku.
Tbc.
__ADS_1