Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
INGATAN TIDAK LUPA


__ADS_3

"Kenapa agak kaku, kalian sedang ghibah di area kantor ini, ini tahu apa ...?"


"Ah! Kami berdua sedang diskusi naik tahta. Iya kan, Rik." senggol Reno.


"Tidak bos, maaf! Ini hasil data yang diminta." datar Erik, yang saat itu Reno menertawakan setelah pamit dari balik pintu.


"Ya sudah, kalian kerjalah kembali!"


Hingga beberapa saat, Alea hampir enam jam menemani suaminya bekerja. Setelah itu mereka bersiap pulang ke rumah.


Di Rumah.


Semua terlihat happy dan bahagia. Tak menapik beberapa jam lalu mereka menghabiskan waktu dengan menyatukan raga dan jiwa.


Sementara Theo kini telah asyik dengan memainkan remot untuk menonton acara. Dan si ceriwis Alea masih tetap dengan hobi ngemilnya yang bisa dibilang keterlaluan. Alea semakin bertambah berat, ketika ia sedang hamil.


"Ya ampun sayang. Kamu belum kenyang juga setelah sarapan tadi?"


"Mas, itu bukan sarapan. Tapi kamu membuat aku lemas, dan kamu sengaja membuat aku tak berdaya. Apalagi di saat tubuhku semakin terlihat melar." sebal Alea.


"Hahaaha, sayang maafkan semuanya karena mas. Beberapa bulan lagi, rumah kita akan penuh dengan tangisannya." membelai perut Alea.


Alea pun tidak menjawab, dia hanya tertawa kecil seraya memasukan beberapa potong keripik kentang ke mulut kecilnya.


Alea hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Theo. Beruntung kendati ia hobi makan, badan tidak terlalu gemuk parah. Bobot tubuhnya hanya bertambah puluhan.


Lalu tak terasa mereka terkejut akan sebuah berita, membuat Theo ikut duduk melihat dengan memiringkan senyuman.


BERITA PAGI INI, TRENDING BEBERAPA JAM LALU. PERUSAHAAN BEAR CP TEAN DENGAN PIMPINAN DRS. HARIS ANGGARA TERANCAM BANGKRUT!!


Hal itu membuat Alea yang minum, sedikit tersendat. Theo yang perhatian, segera membantu istrinya yang tersedak hati hati dan Theo menuangkan air mineral lagi.


Alea meletakkan remot, ketika bibi di rumah memanggilnya. Ya, saat ini Alea dan Theo tinggal di rumah khusus milik paman Brian. Tak jauh dengan lokasi perumahan Sinta sebagai aset kantor.


"Nyonya, ada tamu yang mencari dan sudah menunggu diruang tamu!"

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih. Biarkan dia menunggu sebentar ya bi, saya akan berganti baju!" pembantu itu pun pergi dan pamit


"Mas, aku lihat dulu ya!" bisik Alea.


"Ya sayang, mas akan menyusul. Jaga hati!"


"Mas,?" menatap sendu, Alea terkejut kala ia ingin bangun. Theo malah menahan dan memeluknya lagi.


Sluuurrph!! Sayang mas masih menginginkannya. Tunggulah sebentar, jangan mengabaikan mas!! bisik manja Theo.


"Mas, tunggulah. Kita tidak baik membiarkan tamu terlalu lama, Ayo mas bergegas cuci wajah!"


Sesampainya Alea memakai balutan piyama, dan membuntal rambutnya sedikit dengan bandana agar terlihat rapih. Alea segera keluar dari kamar menuju ruangan tamu.


Asisten pun menoleh, ke arah tangga juga Alea terkejut dan menatap diam berdiri karena kaget pria yang ia lihat.


"Siapa ya dia?" benak Alea.


Ia terkejut dan menatap, Theo menyusul berjalan memeluknya dari belakang. Alea saat ini pun duduk disamping istrinya dan tersenyum. Karena saat ini, Theo sudah tak mengenakan kursi roda lagi, tidak kesulitan berjalan.


"Siapa ya?" tanya Alea, mempersilahkan duduk.


"Kenalkan saya Deri. Pak, Bu bos."


"Duduklah. Apa kamu mengenal saya?" tanya Theo menaikan alis, karena ia merasa tak kenal.


Ia saya mengenal tuan bos, saya adik kelas sekolah favorite keadilan paripurna. Tapi tidak setenar tuan pak bos.


"Owh, kamu alumni disana ya?" Alea memegang erat tangan mas Theo.


"Aah, apa kau orang suruhan dari Erik?"


"Ya pak bos, benar sekali." senyum ramah menunduk.


Theo pun bicara pada Alea. Ia lupa, jika tadi meminta Erik untuk mengirim salah satu karyawan. Untuk mengirim beberapa dokumen ke BE.

__ADS_1


"Nah, kebetulan sekali. Kamu besok datang dan mulailah kemari setiap pukul dua siang ya. Setelah beres dari kantor!" titahnya.


Theo tak lupa mengambil benda tipis dari sakunya. Dan memencet tombol itu dengan nama Erik. Setelah tersambung, Alea mendengarkan beberapa pembicaraan suaminya.


"Bisa saya lihat cv nya?" tanya Alea menarik map merah.


Lalu setelah Theo selesai menghubungi, ia bicara pada suaminya dan memperlihatkan cv dengan nama Deri.


"Mas, bagaimana. Kamu menerimanya?"


"Sifatnya ini sementara, jika telah selesai, akan di pindahkan ke yang lain. Bagaimana jika setuju mulai besok?"


"Owh, benarkah. Baik pak." Deri mengangguk.


Dua jam berlalu. Alea di ukur seluruh tubuh untuk sebuah gaun yang telah dipesan. Begitupun Deri yang mencatat.


Sementara tugasnya mengukur ada desainer yang mengukur tubuh Theo dan Alea, karena tugas barunya yaitu mencatat dan mengirim file ke Erik dengan manual mengantar dokumen. Bisa di bilang asisten pribadi bagi Erik, bagian khusus.


Tak lama, sesaat Yola desainer mengukur panjang ukuran tangan dan lingkar bahu Alea. Deri membantu mencatat dengan banyak, jika ia mempunyai teman yang sprofesi namanya Sena. Dan ia membutuhkan pekerjaan tambahan baru. Deri menceritakan tentang keadaan temannya itu, meski suasana kala itu tidak tegang dan sedikit humor. Karena aslinya Deri adalah pria gemoy yang meliuk.


Alea pun teringat akan sesuatu. Lalu menatap mas Theo. Ada rasa sakit, ketika berbicara nama Sena. Entah apa, yang jelas ia tak menyukai nama itu sehingga mencoba menghiraukan.


"Sayang, kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Theo memeluk dari belakang.


Theo pun mengajak sang istri ke kamar, setelah dua orang tamu telah pamit dan pergi.


Hey, rupanya ibu hamil akan selalu berubah mood ya. Sayang kenapa diam?! senyum kilat mengecup pada Alea.


"Mas, sudahlah. Aku jadi lesu kala mengingat nama Sena."


"Sena .. maksudmu?" Theo mengerenyitkan satu alis dan membuang wajah. Serta menarik nafasnya.


Tbc.


Satu Bab Lagi Di tunggu Ya! Semoga Cepat Lolos Review.

__ADS_1


__ADS_2