
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Alea mengunjungi rumah sakit. Hal itu pun membuat Alea risih. Pasalnya ia kesal di jaga oleh dua orang pria. Pengawal dari pak Theo.
"Tidak bisa apa. Kurcaci besar ini tidak mengikuti?"
Alea pun menepi, masuk ke kamar pasien. Lalu dengan lembut seperti biasanya. Hal yang ia lakukan adalah merawat mama Riris. Selama satu jam lebih, seperti biasanya. Bagaimanapun mama Riris ia anggap sebagai ibunya, terlebih mantan suaminya itu tidak memperdulikan ibunya setelah mempunyai istri dan seorang anak yang suaminya impikan.
Mama, maafkan Alea! Mama tau, meski Alea bukan lagi anak menantu Mama. Tapi Alea masih bisa menyebut Mama kan? Mama udah seperti pengganti ibu kandung Alea. Bahkan Alea tak tau di mana keluarga Alea sebenarnya.
Meski ibu asih pemilik Panti merawat kami, tapi Alea tetap mencintai Mama. Ibu Asih telah tiada beberapa tahun silam, Alea tak punya lagi tempat mengadu, kasih sayang Alea hanya Mama. Kembalilah seperti dulu dan semangat untuk sembuh mah!!
"Mama, cepatlah siuman. Sudah hampir dua tahun mama seperti ini. Jika saja Alea mempunyai uang. Alea sudah pasti akan membawa mama berobat ke tempat yang lebih canggih dari rumah sakit ini. Tapi ketidak berdayaan Alea saat ini. Alea minta maaf mah!"
Jauh dalam alam bawah sadar Mama Riris. Ia hanya bisa mengatakan kekecewaan. Anaknya Haris benar benar menyia-nyiakan istri dan keturunan terbaik yang di pilih untuknya.
'Maafkan Mama Sayang. Andai mama bisa bergerak, ingin mama peluk dirimu Alea sayang. Mama mendengar apa yang kamu rasakan, tapi tubuh ini tak bisa mama gerakan dan sulit membuka mata.'
Alea pun pamit, setelah menghapus sisa air mata yang mengalir begitu saja, ketika ia bercerita banyak. Entah mengapa air mata itu tiba saja mengalir. Alea pun mengelus tangan Mama Riris dan pamit.
Hingga di mana ketika berada di luar, ia meminta para pengawal memarkir. Karena ia ingin keruangan dokter Celine.
"Aku ingin mengambil sesuatu, tolong tunggu di parkir. Aku tidak terbiasa seperti ini. Tolong privasi!" pinta Alea menatap dua pengawal.
Dua pengawal saling bertatap, lalu memegang earphone. Entah ia mendapat mandat atau apapun. Ia langsung pergi menuju loby. Hingga Alea menaikan alis dengan kebingungan, hatinya masih saja mengingat perlakuan mas Haris yang sudah tiga tahun tak menyentuhnya, setelah pernikahan genap ke delapan tahun ia sadari suaminya telah mempunyai kehidupan baru.
__ADS_1
BEBERAPA PULUH MENIT KEMUDIAN.
Alea telah sampai di ruangan dokter celine. Selama tiga puluh menit dokter Celine meminta Alea memutuskan. Alea bingung akan dana yang tak sedikit, perubahan mama Riris lebih baik. Hanya saja perlengkapan medis di rumah sakit ini, belum mencukupi.
Sehingga perawatan kondisi penyakit yang di derita sang mama akan terhambat.
"Baik. Terimakasih dokter Celine. Saya pamit."
Alea keluar, lalu menuju loby. Ia meremas dan melipat kertas kecil yang diberikan dokter Celine. Alea bingung harus mendapatkan dana dari mana untuk Mama Riris.
"Ya tuhan. Aku harus bagaimana, aku ga mau mama seperti itu saja. Aku ingin mama sembuh, tapi bagaimana aku bisa mengumpulkan uang lima ratus juta dimuka? Apa aku harus mencari alamat mas Haris, meminta bantuannya." lirih Alea.
Memindahkan Mama ke rumah sakit yang super mahal. Bahkan kartu sementara andalan keluarga Anggara sudah pasti di tolak karena tidak berlaku sejak setahun terakhir.
Alea segera menghubungi Mas Haris. Ia meminta untuk bertemu, meski batinnya menolak. Takut, tapi ia merasakan takut jauh lebih besar jika Mama Riris terjadi sesuatu.
Alea cukup terkejut, dalam memikirkan dana pengobatan. Tapi ketika berdiri, mata dan pikirannya meracau kesegala arah. Tiba saja kurcaci besar memintanya masuk ke dalam mobil.
"Siapa kalian?"
"Masuklah bu! Kami tidak akan menyakiti!"
"Baiklah. Saya akan tiba, bilang bos anda. Saya tidak akan membuatnya menunggu lama!" ucap Alea yang sadar siapa orang suruhan ini.
Sesampai dalam mobil, Alea memikirkan cara. Ia pun mengerjapkan matanya pada supir di depan yang sedang duduk. Ia mencoba menghubungi seseorang. Hingga mata pengawal melirik dan sedikit memegang earphone di telinganya.
__ADS_1
'Dasar kurcaci, apa saat aku ingin menemui seseorang. Menghubungi seseorang juga harus di awasi. Kenapa keluar dari penderitaan, aku merasa mempunyai cctv berjalan?' benak Alea.
Alea pun memberikan pesan pada mas Haris, bukan maksud mengganggu kehidupan barunya.
MENATAP CHAT MESSAGE ALEA.
[ Mas. Apa kita bisa bertemu? ]
[ Mas, ada hal yang ingin aku bicarakan. Penting! ]
[ Mas, aku minta maaf jika kamu terganggu. Tapi ini soal mama. Aku mohon bantuanmu, aku tidak bisa melihatnya dengan kondisi seperti ini. Mama harus cepat di tangani. ]
Selama dua puluh menit, Alea menatap pesan untuk mas Haris. Tapi pesan itu, masih saja belum di balas. Hingga di mana pikirannya kacau. Dokter Celine meminta Alea dalam seminggu harus memutuskan, jika tidak akan sia - sia pengobatan saat ini.
"Kita sudah sampai Bu!" tutur pengawal.
Alea menohok, bibirnya bergetar kala di panggil ibu. Bahkan ia sampai kini, nama itu belum cukup untuk di sematkan, gelar pada hidupnya.
"Kalian bilang saya Bu?" tatap Alea.
"Maaf. Maksud ka-mi. Bu Bos, silahkan Pak Bos telah menunggu!"
Alea dengan terpaksa turun, ia sedikit menendang kursi karena kakinya tersangkut. Hal itu membuat ia bad mood.
'Haris Anggara aku terlena dan patah hati karena mu mas. Sekarang, aku di tolong oleh seorang pria yang mirip nama belakangnya denganmu. Theo Anggara yang aku kenal pak Chiyo manager baruku itu, ia membuka identitas aslinya, apa dia ada hubungan darah denganmu mas.' batin Alea sesak.
__ADS_1
Tbc.