Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
RINDUKU


__ADS_3

Satu bulan kemudian, keadaan Theo semakin berangsur membaik. Tak sedikit Alea sering ikut menemani berjaga bergantian dengan paman Brian di saat masa kritisnya, akan tetapi saat Theo terbang ke singapore tanpa di dampingi Alea selama sebulan lebih, bahkan Alea sangat rindu ingin menyusul, akan tetapi keadaan Alea yang hamil besar ia tidak di izinkan ikut tahu, perkembangan Theo selanjutnya, yang menjalani pengobatan lanjut.


Hingga akhir ini, adalah awal yang tak di sangka. Alea ingin ke bandara menjemput kedatangan, di saat ia mendapati kabar jika keadaan Theo telah siuman dari masa kritisnya.


Mas Theo!! lirihnya, di saat pagar rumah, masuk satu mobil sedan.


"Ren, apa aku salah lihat?"


"Enggak, Al. Itu beneran dan asli." terpatah patah Reno membalas.


Erik ikut membuka pintu mobil, hingga di mana Reno, menyaksikan Alea yang histeris membuka pintu mobil lebih dulu. Berdiri perlahan dan menatap senyuman dengan menghapus air mata.


Alea berlari cepat, dan memeluk dengan posisi berjongkok mensejajarkan tubuh pria yang ada di kursi roda.


Alea segera mencoba memeluk dengan nada wajah yang merah, ia berkata dengan lembut dengan senyuman. Akan tetapi masih mode menangis.


"Aku ga mimpi kan?"


"Sayang, maafkan mas. Mas telah lama membuatmu bersedih!"


"Heuuuph. Mas Theoo. Huhuuuu." memeluk erat.

__ADS_1


Theo yang berada di kursi roda, dengan di dampingi Erik di belakangnya. Ia ikut menahan menangis dan rasa yang bercampur aduk. Ia sengaja memang tak memberitahu kondisi Theo kala itu, karena terlalu exstrim jika Alea tau apa yang di lakukan dokter pada Theo, dalam pengobatannya.


Hingga pengobatan berhasil pun, Alea tetap tak di beritahu karena ingin membuat surprise.


Alea masih terisak isak menahan rindu, ia tak bisa berkata lagi, air sudah membanjiri tubuh suaminya yang kini sembuh ada di hadapannya. Ia tak ingin beranjak seolah sudah tak bisa membuat hal apapun, hanya ingin memeluk tak ingin melepaskan dan takut kehilangan lagi.


"Heiy, ayo bangun sayang. Baju mas sudah basah. Mas tau, kamu sangat merindukan dan telah lelah. Mas sudah di sini, ayo bangun!"


"Mas, aku hanya ingin seperti ini."


Theo melirik dua pria yang tepat di belakangnya dan di belakang Alea. Ia tau tatapan Reno dan Erik adalah untuk berpindah.


Tanpa terasa, Theo mengangkat wajah Alea yang sembab terlalu banyak kesedihan yang mendalam, tanpanya dan melewati kesulitan dari berbagai orang yang menjahati hanya karena mereka menjadi pasangan bahagia.


"Kita pulang sekarang ya, mas minta maaf telah membuatmu selama ini sulit!"


"Aku tidak sulit mas, hanya saja tanpamu aku seperti kehilangan untuk hidup. Tapi ketika melihatmu lagi, aku kira aku hanya ilusi. Sehingga aku .."


"Ssst, sini mas peluk!" memeluk Alea dan menenangkan.


Theo kembali menangis, bahagia. Kala ia melihat bayi dalam kandungan Alea telah besar. Tubuhnya ketika berpelukan seperti ada pembatas. Hingga di mana, Erik mendorong dan membantu Theo masuk ke dalam mobil, untuk memberi ruangan pasangan itu saling rindu.

__ADS_1


DI DALAM MOBIL.


Alea hanya bersandar dan memeluk Theo, kini Alea tau, kondisi mas Theo masih sulit untuk berjalan. Tapi dengan keadaan apapun ia tetap akan terus berjuang dan mendampingi suaminya itu.


Hingga di mana, Alea hanya terdiam kala memeluk erat satu tangan yang berbeda saat itu. Ya, itu adalah tangan elastis buatan dari dokter khusus di jerman, yang dibawa ke rumah sakit singapore. Jika dari banyaknya orang melihat akan seperti asli. Tapi jika sedang berdua dan dekat. Alea sudah pasti akan tahu akan seperti apa tangan milik suaminya itu.


"Mas, tidak punya satu tangan lagi sayang! Maafkan mas, tangan kanan mas, tidak lagi memakai cincin pernikahan. Bahkan, entahlah cincin itu sudah hilang?" lirihnya.


"Tapi cinta Alea tidak akan hilang mas! Alea istri mas, akan terus bertambah rasa cinta kita sampai azal menjemput. Bahkan, aku tidak kehilangan mas saja! Aku sudah bahagia mas." mengusap pipi yang basah.


Alea mengeluarkan satu kotak, dan Theo kaget kala itu adalah cincin pernikahannya yang ia pikir telah hilang.


"Itu .."


"Potongan tangan mas, cincin ini diberikan padaku, setelah ahli forensik mengecek pencarian kecocokan mas. Sekarang! Aku akan taruh di kalung silver, ini aman. Mas tetap jadi milik Alea." senyumnya, saat mengalungkan kalung dengan liontin cincin pernikahan.


Theo kembali memeluk istrinya, saling bertukar rindu dan di saat mereka saling pandang. Tiba saja ketukan jendela mobil membuyarkan ranum mereka yang telah menempel, entah sejak kapan.


Tuugh! Tuugh ...


"Hheuuumph! Kita keluar sekarang, nanti di kamar mas. Mas akan memelukmu lebih lagi sayang."

__ADS_1


"Heiih, mas mulai gombal deh." gemas Alea, dan mereka turun dari mobil.


Tbc.


__ADS_2