Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
CINTA LAMA


__ADS_3

Ia terlalu larut, mengatakan semua segala kekesalan dan kecemburuannya pada Alea. Sehingga ia terlalu memaksa, dan membuat Alea teringat, jika luka batin Alea masih basah dan pria yang bernama Haris itu, harus ia hancurkan.


'Haris. Kamu akan menerima atas segala sikapmu. Memanfaatkan Alea, adalah sebuah kesalahanmu! Dan yang kedua selain dari bisnis kita.' batin Theo geram.


Theo yang telah duduk, Alea yang telah rilexs. Ia kembali bersenda gurau. Bahwa saat ini Alea berada di sisinya adalah suatu kebahagiaan, hanya butuh waktu untuk Alea sadar dan membuka hatinya untuk dirinya saat ini. Theo berharap, Alea sadar akan sikap dan ketulusannya. Ia harus sadar, jika ia menikahi bukan dengan pura pura.


"Ini adalah anggur rendah, sedikit hangat jika di minum malam seperti ini!"


"Hahaha. Apa aku harus memanggilmu Pak bos, Pak Atau mas ..?" senyum Alea menahan sedih, sesudah minum dua gelas air merah.


"Terserah kamu Alea. Aku berharap, setelah kamu menikah denganku. Tidak ada lagi, wanita modus yang mendekatiku. Sudah lama aku tidak mencukur jambang dan kumis. Jadi aku harap, kamu tetap di sisiku. Perfect selalu, agar segalanya lancar bukan." lirik Theo menatap kaca.


"Mas, aku senang jika kita seperti ini. Aku jadi tidak sepi, aku punya tempat mengobrol. Kelak aku akan selalu merahasiakan semuanya. Sampai Mas Theo, mendapatkan calon istri yang perfect pastinya. Ya kan?" tawa Alea.


Theo sadar, ia memang sengaja membuat Alea sedikit mabuk. Ia ingin tau, ia menganggap dirinya sebagai apa. Jelas, perasaan Alea sangat dalam pada Haris.


'Jika aku jadi Haris. Aku tidak akan menyia- nyiakan mu Alea. Aku salah, menemukanmu dengan terlambat.' batin Theo menatap Alea.


Alea semakin pusing, ia sedikit rabun akan pandangannya. Sehingga perkataan itu semakin meracau, aksi Alea saat ini adalah telah mabuk parah. Hingga saat berbicara serius, di jawab tak seimbang dan aneh.

__ADS_1


"Ayo kita masuk Alea. Aku akan membawamu ke kamar!"


Theo membopong Alea, lalu tangan kanannya menutup tirai dengan remot. Hingga di mana, Alea masih meracau dan menoleh pipinya.


Jauh dari dalam hatinya, Theo ingin meresapi kecupan manis bibir tipis indah Alea. Saat pertama ia memberi nafas buatan, hingga kedua kali nya ia semakin lama, dan sedikit menikmati membuatnya candu mengulang.


"Andai saja. Aku bisa memilikimu, dan bersabar menunggu hatimu terukir namaku lagi Alea. Aku akan cukup bersabar dan melindungimu tak menghilang darimu. Kita pasti akan menemukan anak kita yang hilang, hanya saja aku tidak bisa berkata saat ini sampai semua jelas bukti. Apa yang terjadi saat aku pergi sebenarnya?!' gemuruh batin Theo.


"Dulu aku punya kekasih, tapi dia pergi begitu saja dengan keadaanku yang kacau! Kamu tau mas Theo, aku bertemu Haris dan kami menikah. Tapi dua hari sebelum kami menikah, aku diculik dan anehnya aku tidak ingat apa apalagi setelah seseorang menurunkan aku di depan rumah mas Haris. Apakah itu penculikan, hahaha atau sebuah permainan. Bahkan mataku saja ditutup dan kedua tanganku di ikat." racau Alea.


"Beberapa bulan aku hamil tapi sayang, mas Haris sering membentakku jika ia tak akui bayi yang aku lahirkan, hanya karena tidak mirip. Hoh! Perjalanan pernikahan aku sangat menyedihkan. Sebenarnya kenapa mas Haris tega dengan aku, harusnya dia bilang jika ingin menikah lagi. Bukan menusuk dan menalak aku setelah mereka punya anak bernama Damian." masih meracau Alea.


Theo merebahkan Alea di kasur, lalu saat ia berdiri. Tubuhnya di tarik, Alea tak sadar bagai memeluk guling dengan erat. Jelas saat itu, ia menarik tubuh Theo. Hingga sesuatu terasa dan bangun kala tubuhnya saling menempel.


'Itu bukan salahmu Alea! Semua salah Aku, aku saja yang terlambat menemukanmu karena kecelakaan itu dan aku tidak akan membiarkan Haris menyakitimu lagi. Aku tidak berhasil menjemputmu sebelum kamu menikah! Maaf atas penderitaanmu selama ini!' batin Theo mengelus pipi Alea.


Theo yang sedikit tergoda, ia membuka dan menyentuh gunung kembar Alea. Bibir Alea sedikit membuka, tanpa menunggu aba - aba. Theo menyesapi, ia sadar jika Alea telah sah untuknya. Meski ia harus bersabar, sehingga di mana erangan Alea ikut mengikuti gerakan ritmenya selama beberapa saat.


Theo sangat nakal, ia terbawa suasana dan menyesapi tutup botol milik Alea. Hingga di mana, Alea membuka matanya dan menarik tubuh saling beradu.

__ADS_1


Theo tak tahan, hingga di mana jelas ia menatap seluruh milik Alea, silau lampu ia padamkan. Namun ia sedikit sadar, ia tak mungkin melakukannya saat ini, tak ingin mengambil hak tanpa persetujuan Alea. Theo menyudahi aksinya yang hampir lama dan menuntaskan sisanya di ruangan lain.


"Ssiiit. Kenapa aku bodoh, sial. Bagus saja Alea tak sadar. Bagaimana jika.. ?" berfikir.


Dan Theo kembali merapihkan Alea, menyelimutinya untuk menghangatkan. Setidaknya tanpa sadar, Alea bahkan sudah melepas hasratnya.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


Theo pun mengecap sebuah minuman kaleng. Lalu berdiri di tepi balkon, ia berharap bisa melakukannya. Tanpa paksaan, dan trauma Alea beberapa bulan lalu saat ia berada di villa sirna.


Theo menatap pesan dari ponselnya. Ia mendapat pesan dari Erik. Erik mengabarkan kejadian pasca villa adalah dalang di balik masa lalu Alea.


"Baiklah. Pastikan tidak salah orang, aku harus menghukumnya. Baik itu Haris atau Irene sang bintang yang sebentar lagi aku hancurkan."


Theo tau dari awal. Hanya saja, ia harus bermain cantik untuk menyelesaikan segala permasalahan dengan musuh terberatnya. Hati Alea yang tersakiti, Theo merutug karena ia yang datang tidak tepat waktu.


'Alea jika aku bicara aku adalah dia yang kamu nantikan, apakah kamu memaafkanku.' deru Theo yang memutar gelas ramping dengan isi seperempat anggur merah 1193.


Tbc

__ADS_1


Sambil tunggu Up. Yuks mampir lagi ke temen litersi Author.



__ADS_2