
Beberapa minggu kemudian. Alea telah pulang dari rumah sakit. Beberapa saat mas Theo bilang, jika orang dari penyekapan sudah diatasi dan dibawa ke jalur hukum. Tinggal beberapa langkah lagi, reputasi Haris dan Irene akan jatuh semakin memburuk.
Ting Nong! Paket.
Alea cukup lega, ketika yang datang adalah seorang kurir.
"Paket bu, mohon di tanda tangani disini!" kurir memberikan bucket bunga indah dan harum.
"Terimakasih pak."
Mas Theo, membuat suasana kembali cair. Kala ia takut, jika orang dari Haris datang tiba tiba mengancam, karena aksi mas Theo dan Haris saat ini sedang tegang di awak media. Bahkan ia berganti nomor ponsel saja, Haris bisa tau.
"Surprise .. Sayang. Maaf mas mengejutkanmu." tiba saja datang, sebelum Alea menutup pintu.
"Mas, kamu beli apa lagi?" menatap bingung dengan senyuman.
Theo membuka kotak hitam di balut pita berwarna biru langit. Lalu membukanya perlahan, hingga jelas terlihat cincin indah berbentuk permata bunga tulip.
"Mas, memesannya sudah jauh untuk mengejutkanmu dengan sempurna. Tapi maaf, hanya kejutan seperti ini saja. Maafkan mas Ya!"
"M-mas. Ini sudah sangat cukup, cukup bahkan membuat aku bahagia." balas Alea.
Meski ia samar menatap pelukan Theo yang melingkarkan cincin indah di jari manisnya.
__ADS_1
Hingga di mana, Theo membantu Alea masuk untuk berkemas.
Alea cukup senang, kala sikap pria yang bukan ia cintai pertamakali. Tetapi kasih dan cinta perhatiaannya sangat luar biasa padanya.
"Mas, andai waktu bisa di putar. Andai saja pria yang pertama kali aku kagumi berakhir cinta. Adalah kamu Mas, aku pasti sangat beruntung." lirihnya dengan senyuman manis.
"Andai saja, mas mencarimu lebih cepat Alea." balasnya.
Alea menanyakan berapa hari perjalanan. Theo menjawab paling sebentar hanya dua hari. Meski kilat, Alea cukup senang. Kala ia akan di bawa keluar kota untuk menenangkan diri.
Alea mengingatkan jika kali ini, ia wisata bersama pria yang tulus mencintainya adalah suatu anugrah. Alea pun mencoba menarik kerah baju Mas Theo, hingga di mana, ia terpeleset dan menarik kerah blazer.
"Aaauwh! Mas, aku .."
"Mas, a-aku." terdiam kala sesuatu menyentuh benda kenyal dan Theo menarik tubuh Alea hingga ke wajahnya. Saling menatap dalam, mereka menikmati suasana yang benar indah.
Theo membelai halus, kala wajah tertutupi oleh poni. Lalu menyentuh ranum Alea dengan lembut, Alea memejamkan matanya. Kala Wajah suaminya telah mendekat dan mengangkat hingga saling bersentuhan. Dalam gendongan berpangku Alea di bawa lembut menuju kamar.
Semakin dalam, membuat aliran detak jantuk Alea tak beraturan. Ia meremas sprei dalam balutan kasur yang baru saja terganti. Hingga di mana, semakin jauh. Mereka semakin menikmati dan memulai pergulatan yang manis dengan suara dua insan yang luar biasa.
Theo cukup senang, kala ia telah membuat hati Alea cukup bahagia dan menerimanya, meski ia takut akan badai yang akan datang menimpa keutuhan rumah tangganya.
Theo hanya berharap. Alea tak pernah meninggalkannya meski perubahan terjadi, ia cukup meminta Alea tetap tinggal, meski kelak suatu rintangan badai menerpa.
__ADS_1
Theo sangat menikmati dan menyukai nafas Alea yang tak beraturan. Desis dan erangan membuat Theo semakin jauh, semakin dalam dan menumbuhkan sesuatu di dalam sana.
Theo bahkan berharap, Alea cepat mengandung anaknya kelak, agar tidak ada perpisahan dan hidupnya semakin berwarna. Terlebih yang ia tahu, Alea tidaklah mandul dan Harislah yang mandul. Hanya karena Alea pernah keguguran, maka reproduksi rahimnya lambat menurut ilmu medis.
Theo dan Alea telah berada di bandara. Hingga di mana, saat akan Take Off. Alea menoleh dan memandang pria di sampingnya dengan bahagia.
"Kamu kenapa liatin Mas Terus sih?"
"Gak suka ya mas? Ya udah, aku liatin cowok di sebelah sana aja ya!"
"Aku cubit kalau kamu berani ya Sayang."
"Hehee.."
Hingga canda tawa mereka, kembali memuncak dan memasuki awak pesawat. Alea duduk di samping suaminya. Meski vvip, tapi Alea cukup senang kala mas Theo akan membawa dirinya ke tempat yang tak ingin ia tau. Honeymoon yang tertunda, rasa cinta Alea amat dalam dan bahagia bersama suaminya saat ini.
"Mas, kita mau kemana sih. Aku liat tiket aja, sampai ga kamu kasih?"
"Surprise. Jika kamu lelah, tidurlah. Mas akan siap jadi sandaranmu saat kamu mengantuk!"
"Mas pandai sekali kalau mengalihkan." balas Alea. Tak menunggu lama, ia kembali tertidur dalam dekapan suaminya. Tidak lupa Theo membalas pelukan erat.
Theo sengaja mengajak Alea berlibur, jauh dari berita dan media Irene yang sedang terpuruk. Theo tidak ingin si Irene itu mempengaruhi Alea, sehingga Alea memaafkan wanita lacnat yang sudah amat jahat pada istrinya itu.
__ADS_1
Tbc.