Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
WANITA ANEH


__ADS_3

"Alea, kami turut prihatin. Tapi percayalah, dokter El akan menangani di mana pergelangan tangan Theo yang putus dan mungkin penyebab putus itu, Theo tak mendapat perawatan intensif!" Frans meminta Alea tetap percaya pada seluruh dokter.


Alea duduk lemas, ia jatuh tersungkur dan mencoba banyak mengingat segalanya. Hal yang tak mudah bagi Alea adalah melihat suaminya, yang ia temukan dan cari kembali hilang dari penglihatannya.


"Mas, aku harap kamu sembuh. Aku mohon mas bertahan dan berjuanglah!" Alea menatap kaca dari bilik, yang terlihat Theo penuh dengan selang infus di seluruh tubuhnya.


"Pendarahan, kami membutuhkan golong Ab+ saya harap jika ada memiliki golongan itu, saya harap berjaga jaga. Karena di saat normal keadaan, kami akan mentranfrusi dan mencoba kembali penanganan serius!"


Dokter Frans menjelaskan, jika ia akan membantu dokter terhebat untuk penyambungan tangan palsu pada Theo, meski canggih, tapi ia berharap itu bisa memulihkan kelak menjadi lebih baik.


Alea hanya memohon, agar Theo bisa disembuhkan. Hingga di mana seluruh dokter pergi dan kembali melakukan tugas medisnya


Satu jam, tiga jam bahkan lebih. Alea segera pergi dan menunggu. Ia juga meminta asisten rumah untuk membawa pakaian ganti untuknya. Alea bermaksud tetap ingin menjaga menemai Theo sampai pulih dan siuman. Hal itu membuat Alea yakin, keberadaannya akan menjadi keajaiban. Kesembuhan sempurna bagi suaminya itu.


"Mas, aku mengkesampingkan masalah yang ada. Yang aku mau, kamu pulih dan bangun mas. Lihat aku dan anak kita, aku sedang hamil. Menunggumu aku sangat bersabar dan tetap akan ada di sampingmu!" lirih Alea.


Hingga di mana, Alea sedikit terkejut akan seseorang yang datang. Seorang wanita yang begitu saja datang tiba tiba menghampiri. Saat menunggu di luar rumah sakit.


"Maaf, apa ini keluarga pasien. Kenalkan saya Lori. Saya ingin menjenguk Mario!"


"Mario, tidak ada nama itu di sini. Pergilah, anda salah orang mbak!" ketus Alea.


"Tapi, Mario yang di gedung atap itu kan. Saya berusaha mencari dan menolongnya. Dan Mario tinggal bersama saya, jadi saya harus datang menemaninya."


"Siapa kamu sebenarnya?"


Aku hanya wanita, bukan lulusan sarjana kedokteran. Tapi aku tau, cara menangani pasien karena pernah kursus. Sehingga keluarga aku, terutama Ibu tidak pernah melihat pria bernama Mario tidak baik. Kami menolongnya tidak sengaja, dan merasa kasihan saat beberapa hari lalu berjalan dan hampir pingsan."

__ADS_1


"Maksud anda apa ya. Tolong jangan tambah beban lagi!"


"Boleh saya tau, apa anda keluarga Mario. Adik atau ..?"


"Pergi sekarang juga!! saya adalah istrinya, dan maksud anda siapa itu. Ingat saya istri Theo Anggara. Pasien yang saya tunggu Mas Theo bukan Mario. Jadi kamu pergilah cari Mariomu sendiri!" ketus Alea.


Lori pergi, ia merasa yakin jika pasein saat ini. Pria yang ia tolong dan ia sukai ada di dalam, hingga di mana ia mencari tau sendiri, pasalnya dalam beberapa bulan ia menolong pria dan merawatnya dibantu keluarganya, akan tetapi sejak dua hari ini menghilang.


Alea yang bekerja di luar rumah, sudah cukup membawa kandungannya, memenuhi mimpinya saat ini untuk bersama kembali dan mengarungi kebahagian terbesar, adalah berpetualang menaiki balon udara atau komedi putar bersama Mas Theo dan anak nya kelak. Alea menginginkan kebahagiaan terbesar adalah memiliki keluarga bahagia dan utuh. Ia tak ingin anaknya kelak, tak mempunyai salah satu orang tua di saat pertumbuhannya berjalan.


Alea jatuh cinta akan keindahan hidup dan balon udara yang menghiasi udara, baginya balon sebuah komedi putar menggambarkan kehidupannya yang penuh lika liku, berputar dalam banyak masalah dan perpecahan yang harus ia hadapi.


Takdir berkata lain. Alea sempat menyaksikan keindahan tersebut sirna. Ketika Alea harus mendengar dan melihat kecelakaan tragis Mas Theo. Alea hanya sanggup menikmati hidup yang merana dari foto-foto yang ia temukan di dalam ponsel dan ruangan rumah ketika ia rindu. Alea selalu menggapai foto itu, berharap mas Theo kembali datang dan menjadi pelindungnya. Bertahan dan selalu setia mengarungi rumah tangganya.


"Mas, aku mohon. Berjuanglah untuk tetap hidup!" batin Alea.


Tak lama salah satu petugas, tiba saja keluar dan panik dari ruangan mas Theo. Membuat Alea kini ikut panik dan penuh tanya.


Suster .. Suster. Cepat tolong pasein ini! Panggil segera dokter EL dan dokter Frans!"


Alea segera berdiri, lalu dengan sadar pria medis itu menatap Alea untuk kembali duduk.


"Mohon, bantuannya agar ibu tetap tenang. Kami akan membantu dan menolong pasien sebaik mungkin!"


"Apa suamiku parah, katakan pada saya dok!"


"Baiklah. Bersabarlah bu, mohon tunggu di luar, kami tim medis akan menanganinya." dokter Frans tiba datang. Lalu perawat di ruang ugd segera menangani dengan cepat dan tertutup.

__ADS_1


Alea menghubungi Sinta, namun jelas ia sedang sibuk dan mengurus banyak hal. Alea mengurungkan dan menghubungi seseorang.


[ Ren, kamu sedang tugas di mana? Cepatlah kembali, aku butuh bantuanmu! Rumah sakit Metro Sejati ] pesan suara untuknya.


Hingga tiba, Alea kembali duduk dan bersandar dengan wajah semakin sedih mendalam. Tak lama, dokter Er, kembali keluar menemui keadaan keluarga pasien.


"Apa ada keluarga dari pasein Theo Anggara bisa saya bicara?"


"Saya, dok masih keluarganya. Saya istrinya."


"Apa anda istrinya?" Alea melirik dokter El, yang tiba saja keluar.


"Apa ada yang harus saya lakukan dok. Saya harus berbuat apa agar suami saya kembali pulih?" pinta Alea.


"Nona Alea kami membutuhkan banyak darah AB+. Apa ada keluarga yang bisa mendonorkan, karena kehilangan darah akan berisiko padanya saat ini! Bahkan dokter Frans bicara, di rumah sakit ini tidak ada darah Ab+."


"Apa golongan AB+. Setauku hanya ayahnya tapi telah tiada. Apa tak masalah?"


"Donorkan darah saya saja dokter!" ungkap Erik. Hingga di mana Alea cukup terkejut bukan main.


"Donorkan darah saya AB+ dok!" Erik senyum pada Alea, berusaha untuk ia tetap tenang.


"Baiklah, ayo ikut dan tanda tangan prosedur, ada operasi jahitan yang harus dilakukan segera mungkin, jika tidak salah satu dari nya akan gagal diselamatkan."


"Erik, tapi paman Brian, belum sampai?"


"Bu Alea, ini darurat. Kita harus bisa menyelamatkan pak Theo. Agar bisa menciduk semua masalah ibu terselesaikan!"

__ADS_1


Alea terdiam, kala itu ia melihat kembali seseorang yang membuat ia malas.


Tbc.


__ADS_2