
Theo kini meminta maaf, mode memeluk dari belakang. Kala Alea berdiri dari cermin, ia sungguh harus banyak bersabar. Mendapati suaminya masih saja bertingkah aneh.
"Mas, aku harus check up. Sekaligus aku antar kamu theraphy ya!"
"Sayang, untuk apa theraphy. Mas sudah sembuh?"
Sembuh, dengan tingkahmu yang bukan dirimu mas. Mana bisa aku percaya, kamu benar benar menjengkelkan kala bertingkah seperti anak kecil yang berulah. Di mana Theo yang wibawa penuh serius, bukan Theo yang kepo dan ingin tau masalah semua dan kamu selesaikan.
Alea berusaha menutup dan membuka pesan, kala harusnya ia menghubungi dokter Frans untuk konsultasi kelanjutan suaminya. Namun ia menatap pesan, sehingga wajah mas Theo masih erat dengan gaya mengusel dengan hidungnya ke wajah Alea.
"Mas, Sinta pergi ke amsterdam. Menyusul Vero, aku harus gimana. Bukankah cutinya lusa?"
"Biarlah, mas juga meliburkan Erik. Agar ia menyusul cintanya Sinta." senyum Theo.
"Mas, kenapa kamu jadi seperti ini sih,?" syok Alea lemas duduk di kasur size besar.
Memikirkan banyak lelah akan suaminya yang beubah drastis. Pantas saja paman Brian meminta aku menghandle kantor sementara waktu, jadi paman sudah tau duluan jika mas Theo terkena masalah di kepalanya?? cemas dan sebal.
"Sayang. Kok bengong, dengar mas bicara tidak?"
***
Sementara Sinta yang telah sampai bandara, ia terkejut kala di mobil yang harus ia temui. Supir yang telah ia harus naiki dengan namanya, di ekploitasi oleh Erik yang menyamar jadi supir.
"Erik, kamu .. Gila kenapa kamu di sini?" Sinta mengedor gedor untuk membuka pintu, tapi nahas mobil itu telah pergi hingga kesuatu tempat.
Sesampai dengan waktu hitungan puluh menit, Sinta sampai di sebuah rumah. Di tarik paksa akan segala paksaan Erik saat ini.
__ADS_1
"Aauuwh, Erik kamu gila." teriaknya.
Erik meletakan tubuh Sinta di atas tempat tidur. Sinta yang tengah pingsan tidak tahu kalau Erik membawanya ke sebuah suite room hotel, harusnya ia bertemu Vero tapi sabotase Erik benar benar gila.
"Sinta, itu aku. Kenapa kamu berbohong?"
Tapi beberapa detik kemudian raut wajah Erik berubah. Dipenuhi emosi, Erik mengambil segelas air putih dan menyiramkannya ke wajah Sinta.
"Apa maumu Erik, jangan picik. Aku harus bertemu Vero."
Sinta menatap Erik tubuhnya gemetar. Ternyata pria itu telah menangkapnya. Apa yang harus ia lakukan untuk bisa lolos dari pria ini sekarang? Sinta memutar agar ia bisa lolos dari hadapan Erik saat ini.
"Kau masih membohongiku Sinta?"
"Apa maksudmu? Aku benar benar tidak tau."
"Apa perlu aku mengingatkanmu kejadian malam itu?"
"Lepaskan aku, Brengsek!" Sinta masih berusaha melepaskan dirinya yang masih berada dalam kungkungan Erik
"Tidak semudah itu Sinta, aku akan membuatmu mengingat kejadian malam itu. Agar kamu berkata jujur, meski kamu menyumpahi serapah apapun."
"Kenapa kau lakukan ini Erik, kau tidak sadar dengan dirimu. Aku siapa dirimu, aku bawahanmu. Kenapa kau tidak membuat nafasku lega?" mode menangis, kali ini Sinta merasakan sedih. Erik memeluknya, meski mendapat penolakan. Tetap saja, ia memeluk erat.
"Aku, telah menemukan cinta. Aku ingin berkomitmen dan mengarungi semuanya denganmu Sinta, menikahlah denganku!"
"Itu gak mungkin, aku tidak mencintaimu Erik, aku hamil tapi ini hasil kesalahanku dengan Vero." teriak Sinta yang sebenarnya ia juga bingung.
__ADS_1
Deuuugh!!
"Tapi bahkan kamu tidak menolakku, aku akan berusaha membahagiakanmu. Karena aku tau, aku lebih pantas. Meski aku bukan pria baik, tapi aku bertanggung jawab. Aku sama sepertimu, mempunyai orangtua tapi di acuhkan dan tidak dianggap. Itulah sebabnya aku tak percaya akan cinta, tapi karenamu aku ingin berkomitmen dan jatuh tak bisa melepasmu dengan Vero."
Penjelasan Erik, membuat Sinta bungkam. Ia menahan air mata, dan menyeka air mata itu di bawah pipinya agar tidak tumpah. Tak sadar, kala dirinya harus mendapat cinta yang rumit.
Kenapa, harus kamu Erik?? Huhuu. Aku benci semua ini, kamu mudah tidur dengan perempuan lain. Dan kamu tau, aku ingin menikah dengan Vero bukan kamu. Tapi malam itu Vero hanya mempermainkanku dan anggap aku hanya bermain saja.
"Tapi Vero telah tau, akan kejadian kita berdua. Sebelum kalian bercinta Sinta."
"Apa, apa maksudmu Erik." terkejut Sinta.
"Akhiri, aku lebih pantas. Aku tau, kamu membuat kesalahan agar Vero menikahimu. Tapi bagaimanapun, aku tau kalian memakai pengaman, tak sepertiku. Menikahlah denganku sinta!"
Sinta terdiam pias, ia tak menyangka akan semalu dan serumit ini. Ia tak menyangka, Vero bisa berterus terang pada Erik. Sungguh, jika saja ia memilih ingin sekali ia menyeburkan dirinya ke laut. Ia juga memang terlalu bebas.
"Aku akan dampingi kamu, memutuskan hubunganmu dengan Vero. Percayalah, aku terbaik dan tak akan menyakitimu Sinta!"
"Apa perkataanmu bisa di percaya Erik. Mengingat di kantor ..?" Sinta terdiam.
"Kita harus profesional, kita bukan pemilik perusahaan Sinta. Hanya jabatan, aku mau kamu bisa merubah semua jalan pikiranmu. Kita berjuang bersama sama. Aku hanya mencintaimu dan ingin sekali memilikimu!"
Sinta terdiam, ia terkejut akan sebuah pesan dan panggilan dari mama Reta. Yaitu mama Vero.
SINTA APA KAMU TELAH MENEMUI VERO??
Isi chat itu, membuat Sinta menarik rambutnya dan berkata, ia sungguh malu akan dirinya saat ini. Ingin sekali ia bunuh diri rasanya dihadapkan dua pria yang singgah.
__ADS_1
Tbc.