Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
MENGURUS USAHA THEO


__ADS_3

Pagi hari, Alea memikirkan banyak hal. Hari ini ia di minta untuk pergi mengecek sebuah villa coffe shop bersama Reno.


Alea mengangguk, pamit pada paman Brian yang memberkatinya, lalu menyenggol bahu Reno meminta untuk dia tak ngebut.


Sesampainya di dalam mobil, Alea bertanya setelah diam berpuluh menit mengecek email dan pesan satu satu yang belum sempat ia balas. Pesan banyak yang berdatangan dan berduka akan kepergian Mas Theo dari berbagai klien dan media sosial.


"Ren, sosial media kejam ya. Gue ga nyangka. Model cuitan akun Erik yang nyamar. Ngundang Irene ketar ketir. Infonya dia lagi mau sewa pengacara katanya nih dari berita." ungkap Alea.


"Ya, gitulah kalau orang bersalah Al. Lo kalau ngantuk tidur aja, nanti gue bangunin!" Alea senyum menurut.


Hingga beberapa lama perjalanan, mereka turun dan tiba di tempat yang telah di minta papi Brian. Setelah Reno memarkir, ia meminta Alea untuk lebih dulu ke meja rooftop yang lokasinya sangat sejuk seperti perbukitan.


Saat Alea dan Reno mendiskusikan banyak hal, ia sempat menoleh saat bangkunya tersenggol. Hal itu membuat tatapan Reno dan Alea terdiam sejenak.


"Ada apa, kenapa kalian menatap saya seperti itu?"


Alea menatap bulat. Pria itu sangat mirip dengan Mas Theo. Tapi gaya ala anak moge yang enggak banget bukan khas suaminya. Tak lama datang wanita memanggilnya sayang.


[ Honey. Maaf menunggumu udah lama ya? ] mereka pun berlalu pergi.


Alea dan Reno, mereka kembali menyedot minuman hingga habis. Sementara satu sisi masih tak percaya.


"Itu pasti mirip atau mata gue yang salah ya Al. Benar gak kalau gue salah lihat?" ketus Reno.


"Gue gak tau. Kan dia ga mirip semua Ren, cuma pas dari samping dan natap tadi mirip banget. Dunia sempit ya, sejauh apapun gue coba ga sedih. Bayangan mas Theo masih aja selalu ada. Bukan hanya ilusi, tapi kemiripan mas Theo itu ada."

__ADS_1


"Sabar ya Al. Gue ngerti banget ada di posisi lo saat ini."


Beberapa jam kemudian, di perbukitan Alea dan Reno berada di puncak batu.


Mereka duduk di tepi tebing memandang pemandangan alam yang sangat luar biasa. Alea yang masih tidak percaya, menatap sempurna dibawah ujung, sebuah motor moge. Dan seorang wanita tadi yang menghampiri tiba saja mendekat ikut duduk tak jauh dari mereka yang sedang berdiskusi pekerjaan.


"Ah gila, gue benar mimpi kan Ren. Kenapa dia sangat mirip ya?" lirih Alea.


"Udah lah Al, fokus lagi. Habis ini kita pulang, gue bakal cari titik spot supaya kerja lo ga sia sia tinggal di rumah mertua!"


"Dasar, pria gila kerja lo Ren." menepuk bahu tak suka.


Pagi itu menjelang siang terik sinar menyinari menembus kulit Alea. Reno bicara jika siang nanti ia akan hendak terbang ke kota padat. Ia ingin berkunjung ke kantor di mana Erik memintanya. Mungkin sekedar menyapa dan bisnis bertemu Klien yang mungkin ada kaitan dengan kasus Theo Anggara yang akan berlanjut.


"Gak apalah, gue kan ga sendiri Ren. Lo anggap gue anak kecil ya?" masih mode menatap berkas.


"Bukan gitu, gue takut lo di apa apain sama dua wanita sihir. Takut aja gue, bisa ga punya muka dan kelar hidup gue sulit di tebas papi."


Pernyataan Reno, membuat Alea tertawa lucu. Seolah ia paham dan akan berhati hati jika ia tak ada Reno yang melindungi.


Hingga di mana, ia berlanjut pulang ketika menjelang sore. Setelah pertemuan dengan klien, Alea senang kala Reno mengajaknya dan membuat hatinya happy dengan Alam terbuka.


***


Di Kamar.

__ADS_1


Tapi lagi lagi, Alea masuk kedalam kamar setelah mandi membersihkan dirinya. Alea kini melihat bayangan mas Theo yang ikut duduk dengan piyama tidur. Menatapnya dengan senyum dan menepuk ranjang sofa dengan telapak tangan menepuk nepuk seolah meminta duduk bersama.


'Mas Theo?' bingung Alea, ia berusaha menutup dan memejamkan mata berkali kali. Seolah itu ilusi kegilaannya lagi. Namun jelas ia melangkah dan maju menghampiri, menatap dekat ke wajah mas Theo lalu bayangan itu hilang lagi.


Alea menohok dan lemas, ia baringkan dirinya dan berusaha untuk tenang. Ia lelah dan ingin sekali menemui dokter Hera untuk konsultasi kejiwaannya yang semakin hari semakin gila. Semakin hari, bayangan mas Theo seolah mengikutinya dimanapun, apalagi saat ia dikamar seolah mas Theo ada di depannya tanpa sepatah katapun.


***


Sudah dua hari Alea bertemu Klien, ia menunggu di sebuah hotel. Ia mengurusi pekerjaan. Lalu jalan mengerahkan taksi menuju cafe group. Ada rasa berdebar tak biasa, ia berharap kenangan itu tak membuat ia sedih apalagi harus menyuplai obat dan vitamin agar dirinya tenang karena kondisinya sedang hamil. Alea yakin ilusi itu akibat ia berhenti dari obat penenang berwarna pink yang ia biasa minum.


Sesampai di kantor cafe, seluruh karyawan yang mengetahui menyapa Alea. Tak lama menunggu di koridor bawah mengingat rencana Reno sebelum ia pergi, masih dalam meeting ia harus fokus ketika bertemu klien bernama Subroto. Tak lama suara pria menyambutnya.


"Al, udah lama?"


"Hei, Reno. Udah datang aja, enggak juga kok, kurang lebih lima belas menit. Gue kira gue bakal meeting sendirian." gumamnya.


"Enggaklah. Gue kan izin nemuin Erik, masa ia gue biarin lo hadapin kerjaan di sini sendirian. Kasian gue sama wanita bunting." lirihnya.


Hingga Reno menahan sakit dan menggigit bibirnya. Karena kakinya di injak oleh sepatu heels Alea di bawah meja.


Alea menyapa Klien. Lalu menanyakan segala hal kabar omset. Dan mereka pun lunch bersama dengan santai. Mereka saling bicara satu sama lain akan bisnis yang saat ini harusnya di pimpin oleh mas Theo. Alea antusias senang karena Reno mau membantunya.


Teman sekolah, berakhir menjadi tante dari istri omnya. Itulah kata sebutan yang pantas bagi Reno.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2