
Theo menarik tangan Alea, jelas Alea sangat malu. Sehingga ia duduk dan menatap meja makan yang penuh dengan hidangan paling lengkap.
"Tunggu. Sebanyak ini, kita berdua?"
"Berdua. Bukankah tadi lapar? makanlah!"
"Pyuuuh .. apa maksudnya. Ti- tidak bisa, aku telah kenyang tadi. Untuk menghabiskan makanan ini. Aku tidak akan sanggup."
"Eheeeum. Makanlah secukupnya, kau pikir penghuni di seluruh villa ini tidak akan makan." Theo berdeheum. Alea terdiam, ia menggertakan giginya.
Hingga di mana, ia hanya makan sangat sedikit. Tentu saja, di perjalanan tadi ia sangat lapar, tapi perutnya penuh dengan minuman jelly dan coffe. Sehingga terasa sedikit kembung dan mual jika ia paksa untuk makan.
Tak berselang lama, Alea yang sudah makan. Saat ia membalikan badan. Seseorang menghampirinya dan berkata.
"Nona. Silahkan kami antar!"
Alea hanya menurut saja, baginya ia cukup lelah hari ini. Hingga di mana, ia telah berada dalam kamar utama di lantai paling atas. Sehingga ia menatap nanar sebuah patung gaun yang berdiri di depan matanya.
"Bukankah itu gaun?"
"Ya. Nona, sebentar lagi akan ada perawatan yang membuat nona rileks. Tuan Theo telah memerintahkan dan menyiapkan semuanya."
"Tunggu. Bu, aaakh. Bi aduh, saya bingung memanggil seluruh penghuni di sini. Saya tidak mengenal dan merasa asing mendapat perlakuan seperti ini."
"Panggil bibi Ela saja, saya akan datang jika Nona membutuhkan sesuatu!"
"Baiklah bi, memang besok acara jam berapa ya?"
"Jam sembilan. Tuan besar dan keluarga lain akan datang. Hanya tempat ini, yang mungkin sangat private. Sehingga tak mudah orang lain menemukannya."
Alea pun terdiam, dengan berat hati. Selama ia menunggu, ia pun berendam di bath up. Setelah asisten keluar. Alea melepas seluruh pakaian nya. Hingga sebuah sutra yang membalut dan ia lepas di bawah bath up.
__ADS_1
Alea masuk kedalam bak air susu dan penuh bunga mawar, setelah ia membersihkan seluruh tubuhnya.
Hingga di mana, Alea menatap celah langit langit yang terlihat jelas di depan matanya. Andai saja, dan semoga saja bukan petaka yang Alea dapatkan setelah membohongi keluarga Ben, karena menerima pernikahan omong kosong ini.
'Andai aku dititipkan rahim yang subur, mungkin aku bisa menyewa Villa bersama mas Haris.' batin Alea, namun saat lilin terjatuh, ia membuyarkan pikiran untuk melupakan ingatan tadi.
Arah bath up itu menatap cermin yang terlihat jelas area luar. Meski area dari luar tidak akan terlihat. Alea menatap sayu- sayu pohon yang rindang dan sebuah rumah yang jaraknya sangat jauh.
Hingga ia menghirup Aromatheraphy yang membuantnya rileks. Alea sadar, dirinya mempunyai sebuah kenangan baju bayi dengan serabut nama benang emas. Yang sudah ia persiapkan setelah menikah, Alea pikir ia akan hamil. Tapi seiringnya tahun ke tahun, tidak sedikitpun tanda tanda kehamilan.
Alea Trihapsari. Hal itulah, yang membuat dirinya memiliki nama itu hingga kini, meski ia menyimpannya di sebuah kotak. Alea masih ingat saat pemilik panti menemukannya di depan gerbang, setelah memberikan baju benang emas, Alea berniat memberikan pada anaknya kelak.
Alea selalu berfikir, apa dirinya tak di inginkan. Sehingga saat berusia delapan tahun. Ia mulai mandiri dan sulit, bekerja keras untuk membantu menghidupi segala pendidikannya. Ia mulai membantu pekerjaan loundry, mengantar makanan di sebuah warung. Membantu adik adik bawahnya. Hingga di mana ia bertemu Sinta, ia pindahan dari panti lain dan sampai saat ini mereka berkawan.
Alea membuka matanya, kala ia masih berendam, hingga ia mengingat gaun pengantin untuk esok ia akad pernikahan, yap! pernikahan pura puranya. Jika bukan karena bantuan pak Theo, tidak mungkin mama Riris masih berlanjut pengobatan.
'Mas Haris, aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu tuangkan sakit di dalam sini, apa kurangnya aku. Sehingga kamu memanfaatkan aku. Aku punya ketulusan, tapi kamu tak melihat sedikitpun. Bahkan aku ingin menjadi tanggamu di saat kamu saat ini, menjadi tangga pria yang sukses di balik itu, aku istri yang mendukungmu. Apa tidak bisa kita mencari solusi untuk mempunyai anak, bukan dengan cara memyakitkan seperti ini.' batin.
Alea terlalu banyak menangis, kala mengingat Haris. Ia melupakan acara esok pagi saat ia masih berendam, tubuhnya merosot hingga tak sadar, menenggelamkan wajahnya.
Sementara di luar, lantai bawah. Theo baru kembali dari suatu tempat. Ia menanyakan Alea pada asistennya.
"Di mana dia?"
"Nona, Tuan. Dia sedang berendam, tapi sudah hampir dua jam belum kembali. Bahkan kami sedang menunggu untuk melulur nona. Apa mungkin Nona sedang tidur."
"Baiklah. Tunda esok pagi saja!"
Theo pun berdalih ke kamarnya. Ia melepas seluruh pakaian setelah berada di kamar. Ia memijit keningnya. Mencukur seluruh kumis dan cambangnya. Mengingat esok adalah hal paling berharga baginya di saksikan oleh keluarga dan sang papa yang menginginkan dan menemukan wanita yang ia cari.
"Alea Triphasari. Tidak mudah menjadi cucu pewaris, di asingkan dan bersosialisasi pada penduduk yang minim. Aku bangga, kamu benar gadis impian yang aku cari. Hanya saja, kamu pernah menikah dan membuat hatiku sedikit hancur."
__ADS_1
Theo pun segera berdalih kekamar mandi, dengan handuk. Ia melupakan cream pencukur untuk melembutkan kulitnya setelah mencukur habis bulu cambang dan kumis.
"Aaakh! apa Alea sudah tidur. Cream ku berada di kamar mandi utama atas."
Theo keluar kamar, ia menapaki anak tangga. Menghiraukan asisten yang menatapnya lalu kembali menunduk saat di tatap balik.
CEGLEEEK! SUARA PINTU.
Theo melirik seisi kamar, tak satupun ia menemukan Alea. Hingga di mana, ia menggigit bibir bawahnya saat seluruh pakaian Alea berada di atas kasur. Dan pakaian yang ia kenakan telah berada diranjang cucian kotor.
"Hei. Alea ... Alea ... " ketuk Theo berteriak.
Theo mengetuk kamar mandi, namun ia tak menatap suara apapun. Hingga perasaan tak enak, ia mendombrak pintu kamar mandi itu.
BRUUUGH!
KAMAR MANDI TAK TERKUNCI.
Ia menatap kosong kamar mandi tak seorang pun, hingga ia menarik gorden dan menatap gelembung di dalam bath up.
BLUUUUUB ... BLUUUUP.
Menohok Theo, saat gelembung itu berada dalam bath up. Ia menarik tirai kamar mandi, dan menutup tubuh Alea setelah menarik tubuh Alea dari dalam bath up.
PENJAGAAAA!!
Teriakan Theo, menggemparkan seluruh bodyguard. Refleknya salah satu bodyguard telah siap berlari mencari kunci mobil sebelum tuannya sampai di depan gerbang.
Karena teriakan tuan muda, itu adalah urgent dan ia harus cekat tahu, meski tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
"Rumah sakit, cepat sepuluh menit!" teriak Theo dengan mata merah menyala.
__ADS_1
Tbc.