Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
MEMBAIK & KABAR BURUK


__ADS_3

Kedatangan paman Brian, membuat Theo cukup berterimakasih telah menjaga istrinya yang kini telah hamil enam bulan. Mereka bercengkrama dengan sesaat Alea bahagia ia lewati mengurus Theo yang belum bisa berjalan, dibantu kursi roda electrik.


Sehingga beberapa minggu kemudian, Theo kembali ke rumahnya yang dulu. Theo juga aktif dan kini dibantu Erik, kembali mengurus banyak hal di kantor akan tumpuan kerjaan yang ringan. Tak sampai di situ, Alea istri penyemangat Theo selalu suport kesembuhanya agar tidak menyerah.


***


Esok Harinya.


Alea telah kembali keramas, hal yang tak habis pikir pada umumnya adalah. Pria sesakit apapun hanya tubuhnya, jadi tidak mungkin hasrat hilang, jika dia tak bisa tersalurkan itu mustahil. Jika ada celah dan kesempatan pasti terjadi.


Alea yang awalnya menerima telepon dari Sinta ia cukup menghentikan kala sesuatu turun dan menancap kepemilikannya. Meski kala itu, Alea cukup ekstra untuk membuat lelah dan dirinya yang aktif memainkan.


Hingga beberapa jam kemudian, Alea meminta dokter Frans datang dengan dokter ahli bedah tulang untuk mengecek kondisi mas Theo saat ini, datang ke rumah.


"Mas, kamu terlalu bersemangat."


"Sayang, bukan mas. Tapi kamu yang memainkannya. Mari duduk, mas ingin kamu menceritakan video ini. Siapa dia?" menepuk sofa duduk di ruang tamu.


Hingga Alea ingat, Flashback sesaat dirinya yang terbuly dan di jahatin hampir jatuh keras. Bagus saja ia bisa menahannya, dan dengan sadar Alea bicara.


"Semua karna Irene mas, dia juga banyak mengirim beberapa orang datang." jelasnya.


Hingga di mana, Theo menceritakan kisahnya saat ia benar benar membutuhkan dukungan tapi tak ada.


Isi percakapan Video itu :

__ADS_1


Maaf ya inah. Karena saya tak punya kuasa, apalagi cukup uang. Saya tak bisa berbuat apa apa, saat seperti ini. Saya ingin sekali bicara dan bertemu pada Alea. Tapi saya malu, akan kejamnya anak dan menantu saya. Saya tak punya muka bahkan meski untuk bertemu dan meminta maaf pada Alea.


"Kamu tau mas, kesedihan mama Riris, ia merasa sesak akan kehidupan yang seratus delapan puluh derajat berbalik." itu ucapan Alea menjelaskan, pada Theo sambil menatap video berjalan.


"Lalu ceritakan, saat kamu di lukai di butik ini sayang!" tunjuk Theo geram. Alea pun menceritakan awal mula dirinya.


Video di butik.


Alea berada di butik, ia menatap beberapa pakaian kantor. Setelah itu ia melihat sebuah laptop di samping toko butik, ia berusaha melihat saldo rekening. Sungguh ia tak cukup banyak uang saat ini, ia harus benar benar berhemat. Kala ia belum mendapat gaji, tapi satu yang pasti. Ia harus mencari sampingan pekerjaan. Saat kehilangan mas Theo saat itu.


Di mana, aset rumah lamanya belum juga terjual. Belum lagi, ia telah mendeposit hotel selama satu minggu. Karena ia belum mendapat satu rumah sewa untuk ia tinggal. Dengan harga terjangkau.


[ Mbak. Proses cicilan laptop ini bagaimana ya? Cara dan syaratnya apa saja?] tanya Alea. Pada promotor laptop A.


Baik bu. Sebentar saya ambil kursi, silahkan duduk menunggu. Saya akan buat rincian dan penjelasannya! jelas kasir promotor.


Hingga beberapa saat, seseorang berbisik lantang dengan keras. Membuat Alea cukup terkejut akan lontaran yang membuat dirinya sakit hati.


[ Maaf, lo bukan siapa siapa. Jadi pergilah dari sini! seseorang tiba saja datang membuat Alea hampir terjatuh. Memakinya dan menyebut Alea anak haram. ] itu adalah Irene yang membuly Alea lagi dan lagi.


Dan Video Itu Berakhir, Theo pause.


"Tega sekali mereka, mas sudah mengirim seseorang untuk membuat perhitungan padanya sayang."


"Mas, tapi itu berlebihan. Aku rasa tidak perlu."

__ADS_1


Hingga di mana, Theo memeluk Alea dan mengecup berkali kali. Karena ia tau, jika saat itu Alea sangat sulit tanpanya.


"Haris, Irene siapapun yang membuat kamu sulit, maka ia hancur hari ini juga. Mas tidak ingin ada lagi yang menginjak harga diri istri mas. Meskipun itu nanti keluarga mas, yang tak menyukai mu. Maka mas akan lebih tak menyukainya memberi perhitungan." bisik Theo.


***


Berbeda dengan sahabat Alea, yakni Sinta.


KEDIAMAN VERO, TEMAN KENCANNYA SETAHUN TERAKHIR.


Sinta yang bertamu menunggu mama Reta, ia masih duduk di ruang tv menunggu Vero yang sedang mandi dan membersihkan diri. Karena saat tadi menjemputnya, sebuah air kotor mengenai baju putih kekasihnya itu saat mobil melaju, hingga kotoran itu menepi kepadanya.


Sinta memikirkan hal buruk karena sebuah rahasia yang ia tutupi. Hingga di mana, ia memikirkan sesuatu dengan bersandar di sofa duduk.


Pernikahan adalah satu hal yang paling di tunggu oleh sepasang calon pengantin. Karena pernikahan adalah pengukuran dari sebuah hubungan sepasang insan yang saling mencinta. Hati mereka sangat bahagia. Mereka yakni Sinta dan Vero sungguh tak sabar menantikannya.


Lain halnya dengan perasaan Sinta kali ini. Bagiku pernikahan adalah belenggu dari kebebasan ku. Dengan menikah aku tidak bisa lagi berkumpul dengan sahabat. Dengan menikah, aku harus bertanggung jawab pada orang lain yang menjadi pasanganku. Mungkin kalau aku menikah dengan orang yang ku cintai, akan lain ceritanya. Tapi ini, Aku harus menikah dengan pria yang sangat tidak ku sukai. Apalagi ku cintai. Benak Sinta.


Saat ini aku sedang menunggu hari pernikahan. Pernikahan yang sangat tidak ku inginkan. Pernikahan yang terpaksa aku lakukan karena sebuah alasan yang sebenarnya aku yakin tidak melakukannya. Hatiku sangat kesal. Aku ingin menghindar tapi tak bisa.


Ingin menyangkal tapi bukti di depan mata. Dan sialnya bukti itu menguatkan dugaan tindakanku. Kadang-kadang aku suka bertanya. Benarkah Sinta aku orangnya yang telah merenggut kehormatannya? Kalau benar, lantas siapa orang yang telah melakukannya? Dan siapa pula yang telah memukul kepalaku hingga aku pingsan? Mungkinkah sebenarnya orang itulah yang telah merenggut mahkota Sinta? Berbagai macam pertanyaan memenuhi otakku. Pertanyaan yang satupun tak mampu ku jawab.


"Hei, kamu kenapa, Sinta?" tanya Venzo di balik punggung. Saat ini ia sedang ada di kantor dan di jam kerja. Jadi bahasa yang digunakan Erik pun sangat formal saat ini.


Sinta pun terdiam, ia tak ingin berkata banyak tentang dirinya yang sedang hamil, tapi tak mau menikah dengan pria yang notabane masih keponakan bosnya itu yang players.

__ADS_1


"Jangan bengong! Cepat kamu bereskan proposal yang buruk ini! Performa kerjamu menurun Sinta, jika ada masalah bicarakanlah!" ujar Venzo menatap Sinta.


Tbc.


__ADS_2