
Sinta menutupi Alea dengan selimut setelah memberinya minum. Dan di mana, ia cukup takut meminta bantuan keluar dari jaraknya saat ini, akan tetapi tidak ada banyak orang.
"Sial. Nih mobil, ga biasanya pake mogok. Bikin kesel aja deh." gerutu Sinta. Yang masih melirik Alea yang terlihat panik akan sebuah seperti trauma, masih menatap arah depan halte.
"Ada apa sih Al. Lo pasti ga cerita dan ada yang di sembunyiin dari gue?" ucap Sinta menatap Alea.
Hingga tak lama, Sinta menatap panggilan dari nomor tak di kenal. Ia pun mengangkatnya meski sedikit sinyal yang terlihat tak begitu baik. Ia keluar meninggalkan Alea di dalam mobil
Hallo! Ya, Benar pak saya sendiri.
"Apa. Pak Erik, pak Erik siapa ya. Owh .. astaga bapak wakil bos saya bekerja, baiklah saya segera mengirim lokasi. Saya juga sedang berada di lokasi tak jauh, karena tiba saja mobil saya mogok pak. Saya butuh tumpangan! sahabat saya tiba tiba histeris." ucap Sinta.
Hingga lama, Alea sedikit melirik dan menoleh ke arah Sinta. Setelah ia menatap setir mobil dengan sebuah kecemasan.
"Sin. Sorry ya, gue ngerepotin. Gue ketiduran tadi, tapi tadi gue sempet denger lo nelepon seseorang ya?" sedikit lemas.
"Al. Lo udah baikan, gimana sekarang enakan. Kita udah turun ke bawah ni, tapi sebentar lagi ada mobil bantuan. Tenang aja, lo harus baik -baik ya. Cerita sama gue klo ada masalah ya!"
Alea mengangguk, namun ia masih takut akan sebuah villa dengan banyak pohon lebat seperti hutan. Mengingatkan dirinya berada dalam sebuah kecelakaan di saat turun hujan. Dan merasa hal tidak benar, jika ia masih berada di tempat ini.
'Apa ini karma, atau peringatan?' ujar Alea.
Ia segera meraih ponselnya meski gemetar, nomor mas Theo ia buka blokirnya. Hal itu sempat membuatnya merasa bersalah.
JLEGEEER ... JLEGEER.
"Waduh, suara petir tuh. Kayaknya bakal turun hujan nih Al. Is oke, lo tenang ya. Kita pasti bentar lagi di hampiri mobil bantuan kok." jelas Sinta, yang masuk ke dalam mobil.
Senyum Sinta agar Alea tidak panik. Hingga di mana mereka telah berada dalam mobil selama satu jam lebih, kecemasan dan sedikit haus Alea dan Sinta mulai mempengaruhi. Percikan hujan, semakin lebat. Alea pun memegang pundak Sinta dan lemas kala itu.
"Al. Al .. Alea lo gak apa - apa?"
"Al. Al .. Aleeeea ... please, jangan pingsan kaya gini. Gue salah, ga seharusnya gue ajak lo kaya gini. Gak seharusnya gue ajak lo berlibur ke villa nenek gue dulu. Gue ga tau apa yang terjadi sama lo, kenapa lo bisa panik kaya gini. Lo ada trauma apa sih?" teriak Sinta menepuk pipi Alea.
__ADS_1
Sinta yang keluar, dengan derasan hujan. Ia berharap menemukan satu atau dua mobil yang melintas. Sehingga ia meminta bantuan, dan akan menghubungi mobil derek untuk bantuan mobilnya yang mogok. Di benak Sinta adalah menemukan rumah sakit agar Alea yang pucat dan pingsan segera di tangani.
TOLOONG .. TOLOONG SAYA. HEI, SESEORANG TOLONG BERHENTI!!
Sinta melambai tangan pada beberapa mobil yang melintas, tubuhnya basah karena derasnya hujan.
Hingga di mana, seseorang memberikan payung membuat ia terdiam. Lalu menoleh, saat seorang pria satu lagi turun dan menggendong Alea, menutupi wajah Alea dengan jas agar tidak terkena hujan.
"Tunggu, mau di bawa kemana sahabat saya. Haaaciiih ..." Sinta bersin - bersin. Ketika ingin berlari mendekati Alea yang di bopong seseorang. Tetapi di hentikan seseorang di sampingnya yang membawa payung hitam, hampir Sinta, syok melihat wajah bosnya itu menggendong Alea dan tak percaya.
"Pa Erik. Kenapa anda baik, lalu kenapa sahabat saya?"
Sinta menoleh, lalu tubuhnya melemas dan jatuh pingsan di pangkuan Erik.
"Dasar Santa berkumis putih, tidak di mana selalu saja merepotkan. Tugasku adalah mengantar pak Theo. Kenapa harus mengurusmu juga yang pingsan?" Erik menggeleng kepala yang penat.
Theo saat itu menyelimuti Alea dengan jas hitamnya. Lalu segera cepat membawa ke rumah sakit terdekat. Hingga di mana, ia menggengam tangan Alea yang dingin dan wajah pucat pasi.
Batin Theo menyetir mobil dengan geram, ada rasa kecemasan yang fatal. Ia tak bisa menjaga Alea dengan baik. Ia tak ingin hidup Alea menderita, apalagi terancam. Hingga di mana ia merutug kesalahannya. Harusnya malam itu ia menahan. Agar Alea tidak menjauh saat ini.
Bahkan Theo cukup pintar, jika Alea menjauh dan mendaftarkan nomornya menjadi hitam. Sehingga ia sulit di hubungi, bahkan ia kehilangan jejak Gps yang tersambung, selalu aktif dengan nomor sepuluh digitnya.
Theo pun menyetelkan chip sepuluh digit. Pada sim card Alea kini, sehingga ia akan lebih mudah di mana Alea berada. Bukan sekedar cemburu, tapi sebatas melindungi tanpa syarat sudah cukup baginya.
"Alea. Meskipun di hatimu masih ada pria bajingan itu. Tapi aku cukup sabar, asal jangan memintaku untuk menjauh darimu." usap tangan Theo membelai halus kepala Alea.
HINGGA TIBA DI RUMAH SAKIT.
Theo membawa Alea ke ruang Ugd.
Sementara Sinta di urus oleh Erik, ia hanya peduli pada Alea dan fokus pada kesehatan Alea kini dan selamanya.
"Tolong beri perawatan khusus untuk istri saya!" titah Theo pada suster dan dokter yang menghampiri.
__ADS_1
Sementara tangannya berkutat dengan sebuah ponsel. Memerintahkan sesuatu, tapi ia melirik dan mengabaikan Sinta yang di papah Erik.
Sinta sedikit mendengar, apa arti dari istri saya! Hingga ia menoleh, dan menepuk pipi Erik saat di papah.
"Tunggu, apa yang di maksud pak bos Theo tadi? Pak Erik jawab pertanyaan saya!"
"Anda hanya salah mendengar?" tatap Erik pada Sinta, lalu kembali berjalan, membawanya ke ruang pertolongan.
Sinta pun di beri perawatan khusus, keduanya sama - sama di periksa dokter.
Namun, setelah dokter memeriksa bisa langsung pulang, berobat jalan. Theo menebus obat dan meninggalkan asistennya.
Theo akan membawa Alea ke hotel terdekat setelah di nyatakan baik - baik saja. Meninggalkan di mana Sinta yang di temani Erik.
"Apa dia parah?" tanya Theo.
"Tidak Pak bos, dia hanya terkena flu saja. Mungkin derasnya hujan tadi. Setelah ini saya akan bawa nona Sinta kemana?"
"Itu masalahmu, menemani dia dan mengantarnya pulang. Ingat jangan lagi bocor soal rahasia. Alea akan aman jika berada di tangan saya!"
"Tapi jika Sinta ingin bertemu nona Alea. Bagaimana bos?" kembali Erik bertanya. Tapi di abaikan dengan kode tangan.
Erik hanya mendeheum tak percaya, bahkan tugasnya kali ini adalah membantu wanita yang menyebalkan. Wanita yang garang yang pernah membuatnya malu. Tapi dengan pias, ia hanya bisa menerima tugas dari sang atasan.
Astaga Santa berkumis putih, aku tau kau teman dekat istri bos besar. Tapi kenapa harus aku membantumu! Kau menyusahkan saja. Gerutu Erik sebal, kala melihat pemandangan so sweet bosnya yang menggendong Alea ala bride style di tengah hiruk rumah sakit yang sedikit ramai.
Tbc.
Masih mau lanjut ga nih! Yuks jejak lanjut, biar mangats author sempatkan nulis lanjutannya ya.
Nih judul temen litersi Author biar ga boring, nunggu Up Alea.
__ADS_1