
Sinta cukup terkejut, ia kembali ke gedung lantai biru itu untuk meminta rekaman cctv.
"Masa gak ada sih rekamannya, saya mau bukti kenapa sahabat saya bisa kaya gitu?" tanya Sinta pada kru yang bertugas dalam gedung.
"Mohon maaf. Kami tidak bisa memberikan pada sembarang, kecuali atas dasar bukti kriminal. Dan kebetulan pengawas cctv kami sedang tidak beroperasional. Jadi memungkinkan .. "
"Aaakgh! Kalian sekongkol kan? Lihat kalian akan kena masalah, setelah ini." emosi Sinta tersulut.
Sinta pergi begitu saja, ia pun mendapat telepon dari Erik.
[ Hallo. Ya pak, saya sudah tanya. Tapi ga bisa, aneh jawaban mereka banyak alasan. Owh .. Alea masih dalam perawatan rumah sakit. Masih dalam ugd, saya segera ke rumah sakit kembali lagi. ]
Sinta menutup ponselnya. Lalu dengan kesal ia mencari petunjuk dan menanyakan pada Ob. Apa ada saksi secara kebetulan, melihat ciri ciri orang yang keluar dari ruangan vvip Zona Steel nomor tujuh belas. Hingga di mana, ia lelah banyak yang tak tau.
Ga mungkin kalau gak ada yang tau. Semua pasti sekongkol kan. Kalian bisa saya tuntut kalau ada sampai semuanya bungkam!! Gue bayar tujuh kali lipat masih sanggup gue bayar ke muka kalian tau gak?! kalian semua dibayar berapa sih dengan alasan ga tau!! teriak Sinta pada beberapa karyawan.
Pasalnya Sinta tau, jika Alea phobia akan darah. Ia tak bisa melihat darah sedetik pun. Melihat saja ia akan pingsan, apalagi di guyur meski dengan amat kejam, alasan tak sengaja kelak. Sinta berusaha menahan amarah, ia akan memberi balasan pada seseorang yang bertekad jahat pada sahabatnya itu.
DI JERMAN.
Theo yang dalam perawatan akan kecelakaan. Meski tak terlihat bekas luka, tapi ia segera berobat ke negara asal, hanya untuk menyembuhkan luka dalam yang membengkak.
"Bagaimana hasilnya Erik?" tanya Theo.
"Luka dalam, jika dibiarkan akan terkena infeksi dan.."
"Alea Trihapsari. Bodoh!" kecam Theo.
"Owh.. Maaf! Alea masih dalam perawatan bos. Tapi saya akan datang dan mencari bantuan pada beberapa intel."
__ADS_1
"Hah. Pasti ada yang ga bereskan. Katakan apa yang terjadi?" teriaknya.
Erik gugup, ia bingung harus menjawab apa. Kegiatan dan alasan beberapa pekerjaan yang di layangkan pada Alea. Hanya sebuah alibi untuk menutupi sakitnya. Hingga di mana, ketidak beradaan dirinya. Membuat Theo terpukul kala Alea tertimpa musibah dan masalah kembali.
"Kau bilang, pengawas cctv tidak beroperasi?"
"Ya. Mereka bicara seperti itu."
"Ccchh. Menjijikan sekali mereka menebarkan beberapa uang kertas. Hanya untuk menutupinya. Cepat pesan tiket sekarang juga!"
"Tapi bos! Kesehatan anda?"
"Keselamatan istriku lebih berharga, dari pada luka ini. Erik, jadi cepat lakukan sekarang juga!" tajam, menepuk pipi Erik seolah menyadarkan.
Theo, kesal melihat sebuah foto yang di kirimkan Sinta ke nomor Erik. Ia begitu kecewa karena ia kemarin marah, hingga berteriak tak adil dan terjadi kecelakaan. Musibah yang menjadi luka dalam, membuat dirinya harus bulak balik berobat ke Jerman tanpa harus Alea tahu.
Theo banyak berfikir, ia harus mencari tau siapa di balik seseorang yang membuat tega seperti itu pada Alea.
"Erik. Benar jika yang di katakan Sinta, Alea phobia akan darah?"
"Benar bos. Saya juga baru meneliti jika ayah angkat Alea di panti. Saat ia berumur empat tahun, ia di adopsi. Alea takut jika melihat lumuran darah yang tergeletak di tepi lantai dan wadah yang bercecaran."
"Empat tahun, berarti Alea dua kali di adopsi. Jika almarhum paman J, menitipkan anaknya pada panti sejak bayi. Berarti Alea di adopsi dua kali."
Erik tercengak. Ia bingung, dan baru menyadari beberapa banyak pemikiran yang belum terungkap kisah misteri meninggalnya kedua orangtua Alea.
"Cepat kau cari informasi ini, jika dua puluh empat jam kau tidak akurat. Kau akan kehilangan dua tahun gajimu Erik!"
"Eeeuh, kenapa bisa begitu? Ah .. Siap baik bos." menurut, saat sorot mata tajam beraksi ke arahnya.
__ADS_1
DI RUMAH SAKIT.
Sinta bersyukur kala Alea telah di pindahkan keruangan vip. Tetapi kondisinya yang belum sadar. Membuat dirinya khawatir.
"Al. Gue di sini, lo cepat sadar ya. Gue bakal temenin lo ampe sembuh, kenapa lo ga tunggu gue buat anter sih!"
Sinta yang masih bercerita, ia menatap selang infus yang tersambung pada hidung Alea. Hingga di mana ia mengelus peluk pada lengan Alea. Sinta sangat sedih, jika kejadian seperti ini terulang kembali.
"Al. Gue gak akan biarin, apalagi lepasin siapa itu orang yang buat lo kaya gini." tutur Sinta.
Sinta tak pernah terbayangkan, jika tadi saat di gedung. Seseorang berbicara jika wanita yang terbaring adalah sahabatnya.
Dan telah tak bernyawa, tetapi seorang dokter yang kebetulan lewat. Ia mengecek, jika kondisi Alea hanya trauma sementara, yang mengakibatkan nadi setengah berhenti.
"Al. Lo tau gak? andai lo beneran gak ada. Gue hampa, gue amat menyesal udah bikin janji sama lo. Gue udah menyesal kala gue ga ngelarang lo ketemu seseorang."
Sinta menangis tersedu -sedu. Hingga di mana ia mengingat chat Alea. Lalu keingintauan Sinta adalah, apa orang yang menemuinya adalah Haris. Tapi apa setega ini dia yang melakukannya.
Sinta segera melihat tas Alea. Di mana barang Alea yang tersimpan oleh suster di sebuah loker. Sinta segera mencari sesuatu ponsel Alea. Tapi sayangnya tak ada sedikitpun, ponsel Alea ada di dalam tasnya.
"Heuuh, gue gak ngerti. Kejam banget yang udah ngelakuin ini semua. Ternyata udah di rencanakan buat lo ini sih. Al, gue janji bakal cari siapapun itu orangnya. Demi persahabatan kita yang melebihi saudara kandung."
BRUUUGH. PINTU TERBUKA BEGITU SAJA.
Sinta menoleh dan menatap seseorang yang baru saja tiba. Dengan kilat ia berdiri dan menghapus air mata yang membasahi di pipinya.
Tbc.
Yuks mampir ketemen litersi Author sambil tunggu up.
__ADS_1