
Pagi pagi sekali, Theo yang telah melakukan fitness. Ia ingin sekali membuat kejutan makan malam berdua. Ia ingin membuat Alea kejutan, dengan romantis, menunjukan sikap tulusnya dan membuat hati Alea luluh. Meski sadar, hanya lima puluh persen, ia berharap Alea akan sedikit memahami dirinya, setelah ia pamit pergi untuk bekerja.
"Mengapa tidak memberi tau Alea saja, bukankah hal kebenaran akan lebih baik Bos?" ucap Erik pada Theo.
Theo mencoba berfikir, lalu ia meminta Erik tetap merahasiakannya.
"Apa kamu telah mendapat kabar, di mana ayahanda Alea yang meninggalkannya. Rasanya dengan berkata tanpa bukti, mustahil untuk Alea percaya. Aku ingin Alea murni membalas perasaanku. Meski terlambat."
Theo ingat, beberapa tahun silam ketika ia sampai dan menetap, setelah meninggalkan perancis. Ia berharap, masa lalu adalah sebuah omong kosong, meski kala itu ia lebih sebelas tahun dari usia Alea.
Saat itu bayi perempuan telah lahir, sang mama dan ibunda dari Alea yang melahirkan telah pergi ke pangkuan ilahi, di saat Alea berumur dua minggu.
Nyonya Trihapsari meminta Ibunda Theo, dan dirinya menjaga peri kecilnya. Ia tak sadar, jika itu adalah syarat terakhir ia berpisah, setelah pemakaman.
Theo sangat terpesona akan mata dan wajah mungil Alea, kala itu, ibunda menghubungi sang ayah yakni Anggara yang berada di ibu kota. Akan tetapi hal mengejutkan, jika saat itu sang ayah berbicara sedang di rumah sakit mengurus istri barunya melahirkan.
"Syok."
Hingga di mana, keluarga pewaris tak boleh di turunkan oleh wanita. Saat itu, sang Paman membawa Alea pergi dan menghilang tanpa jejak.
"Erik. Bagaimana dengan Paman Joni, apa tidak di temukan ia pergi kemana?"
__ADS_1
"Berita terakhir adalah, pembunuhan dan kasus itu di tutup. Saya yakini, tuan Joni menitipkan Alea pada pemilik panti. Hanya saja, saat ini masih belum bisa di pahami mengapa Tuan besar merawat Alea setelah enam tahun dan besar di rumah yang sama dan berbeda lantai, dipastikan Alea dan Haris sudah bersama belasan tahun."
Theo semakin tak masuk akal, saat ini. Adalah keluarganya. Theo sangat membenci dan mencurigai, hingga di mana ia sangat lelah. Berpuluh tahun, motif tak terungkap sangat membuatnya lelah, pihak kepolisian dan jaksa pun menyerah.
"Bagaimana jika Alea tau yang sebenarnya. Dan ia tau jika benar Haris Anggara yang ia cintai, adalah penyebab keluarganya hancur. Terlebih tuan Anggara adalah ayah kandung dengan Theo juga, yang telah lama ia tak anggap." benak Theo.
Theo memikirkan segala cara, ingin rasanya mengubur kenangan pahit Alea. Tapi, ia tak bisa begitu saja menerima. Ia ingin apa motif papa Anggara meminta Alea menjadi menantunya secara mengejutkan, jelas jelas pernikahan dua keluarga itu harus bertemu setelah dewasa dengannya.
'Harusnya aku yang pertama kali bertemu kamu Al. Bukan si brengsek itu.' deru batin Theo.
"Erik. Bagaimana dengan istri kedua yang terbaring itu ?"
"Maksud tuan, nyonya Riris. Aah, ya. Pasien telah di pindahkan. Kondisinya stabil tapi masih sama belum sadarkan diri."
DI BERBEDA TEMPAT.
Alea yang sedang naik taksi, ia menatap ponselnya berdering. Alea sengaja mensilent, ia tak ingin menjawab panggilan dari Mas Theo saat ini.
"Maaf Mas. Aku sangat malu, mengapa kita melakukan itu. Mengapa aku terbuai, dan melakukan semuanya. Bukankah kita hanya pura - pura." batin Alea bergumam.
Alea mengingat di mana bisikan Theo yang berbicara padanya.
__ADS_1
"Apakah aku terlihat menikahi karena pura - pura Alea?"
"Maafkan aku, aku yang terlambat menemukanmu. Aku berjanji akan melindungimu Alea."
Alea mengingat bisikan halus Theo. Tapi ia segera menutup matanya. Ia tak ingin, terpedaya. Bahkan ia membawa koper perlengkapan pakaiannya dan kembali pulang kerumah. Ia tak ingin satu atap lagi dengan Theo.
"Maaf mas. Aku harus mengakhirinya. Agar tidak ada sakit dan kecewa kelak. Bahkan kamu tau, hatiku masih terukir nama mas Haris. Jika aku berpura - pura mencintaimu. Itu tidak adil, aku memang nyaman karena kamu sangat baik. Tapi kejadian kemarin, itu hanya khilaf kita yang terbawa suasana. Aku akan menghentikannya saat ini, agar kelak kita tetap berada di jalan masing -masing." benak Alea.
Hingga di mana Alea berhenti dan kembali ke rumah kecilnya. Ia masuk dan membuka kunci pintu. Telihat sesak dan banyak debu, Alea yakin jika keputusan tanpa kompromi pada Theo adalah hal yang tepat. Alea yakin, jika Theo pria yang bijak. Dengan menghindar dan menjaga jarak ia pasti sudah bisa menebaknya.
"Mas, aku harap kita tak pernah berdekatan lagi. Kita harus menjaga hati kita agar tidak melampaui. Aku yakin pria sepertimu, akan mudah menemukan kebahagiaan. Biarkan aku berada di jalanku yang sepi tanpa seseorang."
Alea pun meletakkan barang - barangnya. Lalu membersihkan segala debu di rumah lamanya. Hingga dimana, ia bersiap - siap karena ingin bertemu dengan Sinta.
Trdeeeth .. !! Dering ponsel bergetar
Alea membuka tas, akan tetapi ia menemukan sebuah buku kecil dan sebuah foto terlihat jelas itu bukan miliknya.
Tbc
Sambil tunggu Up lagi, ayo mampir ke temen litersi Author ya.
__ADS_1