
Alea kembali masuk, ketika security khusus memintanya kembali masuk. Benar lagi pula, pergi dimalam hari ia tak mau gegabah terjadi sesuatu, sehingga Alea menitipkan sebuah pesan dengan sebuah foto ke nomor suaminya itu.
[ Mas, kita harus bicara! Aku tidak akan pergi kemanapun, sampai mas jujur padaku! ] message Alea dengan mengirimkan gambar emoji hati yang patah.
"Harusnya tadi gue gak ke ruangan itu, kan jadi ga karuan sendiri. Aakh! Kenapa gue kesal dan nangis gini sih?" gumam Alea mengusap air matanya hampir sembab di kamar.
TAK LAMA BUNYI BEL, DI MALAM HARI MEMBUAT MATA ALEA YANG TERPEJAM. KEMBALI MEMBUKA MATA.
Pukul 01.00 malam. "Ada apa ya pak?"
Alea menatap kotak yang di berikan pak Ujang sang supir. Lalu berterimakasih, menutup pintu dan kembali ke ruangan kamarnya. Alea membuka kotak itu dengan perlahan dan ragu.
Kotak berwarna hitam, dengan pita berwarna emas. Membuat Alea terdiam sedikit takut.
"Apa ini kotak dari Mas Theo sebelum ia pergi?" pikir Alea. Ia membuka perlahan pita itu, lalu menatap kertas putih lembut yang terlipat. Alea pun membukanya dengan perasaan berdebar.
Hingga di mana, ia menatap sebuah surat dari seseorang. Lalu ia menatap sebuah foto kebersamaannya dengan Haris dulu.
[ Besok pukul 10.00 Grand Steel, aku ingin bertemu penting soal siapa keluargamu Alea. Hanya aku yang tahu! Itupun jika kamu tidak ingin menyesal ] by. Haris Anggara.
"Mas Haris. Jadi ini semua foto ini di kirim ke alamatku oleh Mas Haris. Kenapa dia tau tempat tinggalku sekarang? Ah ya! Kakak adik sedang mempermainkan aku, pasti mereka sudah atur, Haris dan Theo sama sama bersekongkol." benak Alea penuh curiga.
__ADS_1
Sebuah foto pernikahan dengan sakral yang suci. Membuat mata Alea berbinar binar senyum. Alea merasa itu adalah pernikahan terindahnya seumur hidup, tapi menatap kenyataan hal pahit, ia sadar hanya sebagai langkah warisan. Alea begitu sakit, kala menatap satu foto keluarga Anggara. Ia adalah papa mertua yang seperti seorang ayah baginya. Mama Riris, seorang ibu mertua yang baik teramat baik.
Hingga di mana, Alea meletakkan semua foto. Lalu menyembunyikannya di bawah sofa dengan rapat. Ia sembunyikan dengan buntalan handuk kecil agar tetap aman tak terlihat.
"Mama Riris. Baiklah, aku harus mulai kembali mencari biodata rumah sakit mana mama di pindahkan oleh mas Theo. Aku akan lakukan apapun, tapi jika alasan mas Theo aku tidak boleh menemuinya. Karena takut disakiti Haris, Itu adalah omong kosong, aku cukup menjenguk dan merawat beliau sama seperti ibu saja. Apa yang harus mas Theo takuti?bahkan jika mereka masih satu keluarga, bukankah aku harusnya membalas dendam, baik itu mas Theo ataupun Haris. Bagaimana bisa aku menjadi istri dari kedua putra Anggara? Satu satunya kunci adalah mama Riris."
Perkataan Alea. Ia bicara sendiri, kemungkinan itu terlintas begitu saja dalam pikirannya. Hal yang sulit bagi Alea adalah memahami cinta yang tulus. Memang benar perasaannya masih ada nama Haris, tapi ia sulit membedakan sikap dan ketulusan seseorang setelah benar membuka hatinya untuk mas Theo, tapi yang ia dapati adalah kekecewaan.
"Haaah. Aku saja yang terlalu naif, atau aku memang wanita yang di lahirkan terlalu bodoh. Sudah tau mas Haris berkali kali membohongiku. Tapi jika tiap aku bertemu, aku semakin takut jika tatapan itu benar tulus dan jujur. Tapi aku juga bingung, kenapa melihat biodata mas Theo aku kesal rasanya mas Theo tidak tulus, dia itu darah seorang ayah bernama Anggara yang mempunyai dua istri?" ujar Alea.
Alea menarik nafas. Ia lelah dan penat, hingga akhirnya ia mengambil selimut dan menutup seluruh tubuhnya. Hingga terlihat rambut yang tergerai setengah, tak sadar dirinya diperhatikan seseorang dari balik jendela, bayangan yang melintas dengan sebuah benda.
Alea mengatur nafas, lalu ia mencoba memejamkan mata. Agar kelak tidurnya malam ini sangat cukup untuk istirahatnya.
Alea yang telah bersiap rapih, ia menatap jam pukul sembilan pagi. Ia lupa, jika ada seseorang yang ingin menemuinya. Hal ini membuat Alea sedikit mengurangi suntugnya.
Alea tau, jika ia menerima pesan dari mas Haris. Hingga ia menyakini, jika mas Haris benar benar memberitahu kebenaran akan dirinya.
Alea pun tak lupa, ia mengirim pesan pada nomor mas Theo. Meski kala itu masih centang belum terbaca. Atau mungkin sedikit sinyal yang sulit. Alea berencana setelah menemui Haris, ia akan pergi ke kantor pak Venzo. Ia telah mendapati janji melalui Sinta. Kebetulan meeting di luar resto, ia ingin banyak bertanya, apa dia sudah bisa mulai bekerja seperti sedia kala.
Setelah sarapan, Alea memesan taksi. Hingga berlalu menatap jam telah memakan waktunya kurang lebih satu jam sepuluh menit. Alea tiba di sebuah gedung dan menanyakan pada resepsionis kala itu.
__ADS_1
"Mbak. Reservasi ruang meeting Zona Steel di mana ya?" tanya Alea.
"Ruang vvip atau cluster bawah. Nomor berapa ?"
"Vvip, nomor tujuh belas."
"Sebentar. Atas nama Tuan Haris Anggara, ada di lantai empat. Lalu sebelah kiri dan ada beberapa petugas biasanya di depan pintu bu."
"Baiklah Terimakasih." senyum Alea.
Alea menaiki lift, hingga menepi dalam ruangan yang mungkin Haris kirim beberapa saat lalu melalui pesan. Hingga di mana, ia menanyakan pada dua pria mirip bodyguard. Lalu mereka mempersilahkan Alea untuk masuk.
Alea tak berfikir banyak, karena ia tak mungkin terjadi sesuatu padanya saat ini. Tetapi saat dua pria di luar mengunci. Alea berbalik arah dan cukup terkejut.
"Hey! Kenapa dikunci, kalian menjebakku?" teriak Alea menggedor pintu besar, mencari celah untuk kabur.
Tbc.
Sambil tunggu Up. Yuks mampir lagi ke judul temen litersi Author. Masih ada lanjutan, hari ini proses reveiw ya all.
Happy Reading.
__ADS_1