
"Jika aku tau akan di sakiti. Mungkin saya tidak akan pernah jatuh cinta kepada siapapun, terlebih saat ini. Tidak mudah bagiku menghapus dan mengganti." balas Alea.
Theo melirik Alea, dengan menaikan alis. Ia sadar telah berkata semaunya saat ini.
Harusnya ia memberi ruang untuk Alea berfikir. Dengan sendirinya ia sadar. Ia hanya tak bisa melihat wanita menangis, menatap Alea yang seperti ini. Ia sungguh merasakan ikut sakit.
"Baiklah. Hapus tangisanmu dengan sapu tangan ini. Berhiaslah lagi, kita akan bertemu seseorang!"
"Haaah. Seseorang lagi?" batin Alea menengok ke arah pria di sampingnya.
SELAMAT SORE TUAN. TUAN BESAR TELAH MENUNGGU!!
Theo melirik kepada pelayan, ia meminta dirinya membereskan Alea untuk di dandani di mansion ruangan kamarnya. Dengan sebuah kode, pelayan pun tau. Lalu membawa Alea ke ruang utama.
"Nona pasti lelah. Tunggulah, saya akan membantu anda!"
Alea duduk, ia menatap cukup tak masuk akal. Baginya, mungkin ini sebuah mimpi ilusinya. Tapi dengan jelas ia terkejut saat beberapa pelayan memberikan ia riasan baru, dan memolesnya dengan lihai. Setelah itu gaun merah bertali satu pun terpampang jelas ia kenakan.
"Maaf. Apa tak ada gaun lain lagi?"
Maaf nona. Tuan hanya menyerahkan gaun ini saja. Dan malam istimewa ini, memang sudah seharusnya. Sebelum nyonya besar ada, gaun ini di kenakan persis bagi keluarga Theo." jelasnya.
Alea pun tak banyak bertanya lagi. Ia meminum jus mangga dan satu buah sandwich tuna untuk pengganjal perutnya saat ini.
"Dasar pria gila. Sudah tau aku belum makan, wawancara dari tadi pagi hingga kini. Uuuch .. mengapa takdir mempermainkan aku sih?" batin Alea.
__ADS_1
Alea pun menatap ponselnya, tapi tiba saja seorang pelayan bicara. Jika ponselnya di sita dan di matikan sampai acara selesai.
Satu jam kemudian. Alea turun ke anak bawah tangga. Di mana terlihat jelas pria paruh baya ikut menatapnya dengan sebuah tongkat, lalu Theo yang meliriknya dan ikut berdiri menatapnya. Hingga tiba di depan meja istimewa keluarga.
"Alea Triapsari. Kamu tumbuh begitu anggun, bagaimana bisa kamu bisa secerdas dan secantik ini. Kamu memang di takdirkan untuk menjadi bagian keluarga kami!"
"Terimakasih." Alea menunduk dan menatap.
Hingga ia menatap satu persatu meja, Theo mengenalkan dirinya dengan beberapa keluarga yang datang. Ingin sekali Alea bertanya apa maksud dari pria paruh baya tadi.
Ia mengatakan diriku tumbuh dengan sempurna, anggun dan cerdas. Apa ia mengenalku, jika ia. Berarti Theo sama saja pria yang membohongiku selama ini, tidak jauh beda dengan Haris.
"Setelah acara ini, aku harus bicara pada Theo. Dia tidak bisa seenaknya, aku memang terbantu soal Irene. Tapi aku membalasnya seperti tidak seimbang dan berlebihan." batin Alea.
Alea, ini papaku Venus. Ini tanteku Bella dan keluarganya tinggal di mansion ini."
HINGGA DIMANA JAMUAN MAKAN ISTIMEWA ITU BERLANGSUNG SELAMA BEBERAPA JAM.
"Baiklah, panggil kami Papa. Tante pokoknya sama seperti Theo memanggil ya!" ucap Papa Venus.
"Baik Pah." balasnya.
"Theo. Kami duluan, jika kalian ingin lanjutkan silahkan. Bukankah Lusa acara pernikahan kalian? Papa tinggal ya."
"Thank you so much, Pah."
__ADS_1
Hingga di mana satu persatu pergi menyisakan mereka berdua. Alea menatap Theo dan menarik jas nya.
"Pak. Apa yang anda rencanakan, mengapa lusa kita menikah?"
"Lepaskan. Kamu harus tau, jika kamu ingin mengetahui. Semua akan aku jelaskan setelah menikah lusa!" melepas tangan Alea.
Alea tak percaya, ia kini bingung dengan keadaan. Solusi untuk ia lari dari pernikahan yang tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak ingin kembali menjadi taruhan pernikahan pura - pura. Pikirannya kacau saat ini tak berdaya.
Hingga di mana, Alea berjalan ke lorong dan menepi di atap balkon. Pemandangan itu mirip dengan sebuah villa yang menjulang yang mengarah ke arah sungai dan paviliun kecil terlihat jelas. Alea menangis dan menyendiri menatapi dirinya yang kini lelah menghadapi kenyataan pahit.
"Kenapa. Kenapa harus aku, apa takdirku akan seperti ini?" lirihnya. Menyapu air mata dengan kilat tersedu sedu.
"Alea. Maafkan aku, aku harus melakukan ini padamu. Aku tidak menikahimu dengan pura - pura. Sekalipun kamu bekas Haris Anggara, hanya saja, aku masih bimbang. Apa papa benar menemukan gadis yang hilang saat kita telah di jodohkan dulu." lirih Theo di balik balkon.
Theo pun menghampiri Alea. Ia memberikan sapu tangan miliknya. Hingga di mana Alea menatap sinis padanya.
"Tidak perlu bersedih. Bukankah kamu bersyukur, sudah ada yang meminangmu. Menghapus kenangan burukmu dari Haris?"
"Apa maksudmu. Aku tidak mengenal semua ini. Jika bukan karena anda telah menolong saya pak. Saya belum masa idah, ini tidak di perbolehkan?"
"Benar. Tapi aku tidak akan menyentuhmu sampai kapanpun. Kecuali di masa tiga bulan itu, kamu hamil. Itu tandanya kamu hamil anak Haris. Bukan begitu Alea?"
"Tidak mungkin. Aku tidak akan hamil, mana bisa hamil karena akau tidak pernah ..." terdiam.
"Tidak pernah apa?"
__ADS_1
Tbc.