
"Kenapa, bukannya kamu dari keluarga kaya. Ah, suamimu yang kaya. Apa tidak ada lampu seperti ini?" ujar Theo, duduk menatap Alea di sofa.
"Pak, maaf diluar jalur. Sebaiknya kita bahas kerjaan saja, bapak akan mutasi kerjaan saya kemana lagi. Apakah saat ini jauh? biar saya tebak. Papua, kalimantan, atau bangkok?"
"Hoahm! good. Baca semua ini, aku memberimu waktu dua puluh menit!" ketusnya.
Alea benar kesal, tapi ia tidak bisa semena mena memaki bos barunya itu. Baginya, jika ia sampai kehilangan pekerjaan. Bagaimana bisa ia menghidupi dirinya sendiri. Bahkan, Alea berjanji akan merawat mama Riris. Terlebih ia juga ingin ke dasar perkampungan, yang konon anak mas Haris tinggal bersama ibu dari istri keduanya di rumah baru bersama nenek.
'Ah, sakit sekali rasanya. Beginikah rasanya berjuang sendirian?' batin.
Beberapa menit kemudian, Alea merasa jengah akan tulisan lembaran lembaran itu. Mungkin lampu yang buram, membuat matanya nyaman terhipnotis untuk bermalasan.
EHEUUUM .. JIKA MENGANTUK KEMBALI PULANGLAH!!
Teriakan suara khas terdengar itu, membuat Alea terbangun. Ia menatap pria seseorang di depannya tak percaya. Posisi wajahnya benar - benar menatap arah pinggang pria ketika ia duduk.
"Kenapa diam. Lihat wajah saya!"
Alea pun menghela nafas, lalu menatap wajah sang bos nya dengan menatap tajam. Hingga ia berdiri namun tetap saja tingginya lebih pendek, Alea hanya seukuran bahu pria kala itu.
"Duduklah. Saya akan to the point!"
"Baik. Lalu ada apa anda ingin menemui saya pak?"
"Haaah. Sebenarnya saya malas berurusan dengan karyawan bermasalah sepertimu Alea. Tapi pak Venzo menyakinkan jika pasti ada kesalahpahaman. Lalu apa yang akan kamu perbuat?"
"Perbuat. Tapi saya tidak bersalah .. hanya saja. Saya tak bisa menemukan buktinya. Skandal mall itu, itu masalah intern yang dilakukan istri kedua suami saya. Tapi jika karena skandal berita itu, membuat saya harus di phk. Apa boleh buat." lemas Alea, ia yakin setelah kehilangan suami, ia akan kehilangan pekerjaannya juga.
"Karena kamu bodoh. Lalu dengan kamu diam saja, apa tidak ada cara lain. Jika begitu saja, kamu bukan kehilangan pekerjaan juga tapi nama kamu diblacklist tidak bisa melamar kerja."
__ADS_1
"Lalu kenapa bapak meminta saya datang. Jika jawaban saya tidak tau, sudah pasti saya akan kehilangan pekerjaan." jelas Alea membela.
Hahahhaha .. sepertinya wanita sepertimu tidak berterimakasih. Kamu sadar, kamu bekerja dimana? tegas pria itu.
Alea terdiam, sejenak berfikir hal apa yang harus ia lakukan. Ia pun kembali menatap atasannya itu.
"Maaf. Jika saya telah membuat anda bermasalah. Saya mengerti, sudah pasti akan mengganggu dalam kinerja perusahaan. Tapi saya tidak tau harus bagaimana pak. Maafkan saya!"
Alea melemas, tiba saja pria itu melemparkan flash disk.
BRAAAAGH .. LIHATLAH!!
Alea terdiam, ia mengambil benda pipih kecil. Ia menatap dengan jelas, dengan menatap sang atasan penuh tanya?
"Itu rekaman cctv mall. Jika kamu beritakan maka semua clear!"
"Haaah. Benarkah bapak lakukan itu demi saya, terimakasih pak. Ini sangat berarti untuk saya. Saya tidak bisa diam saat ini, saya harus menjelaskan pada Mas Haris. Jika saya tidak bersalah. Dengan begitu ia tau jika Irene bukan wanita yang sangat baik."
Alea lupa, ia sakin senangnya. Ia mengerjapkan matanya. Lalu menoleh kebelakang dan kembali duduk.
"Kamu tau, apa imbalannya?"
"Haaah. Imbalannya, maksud ba- bapak apa ya?"
"Jangan gugup. Kamu tau, lihatlah ini hotel. Apa kamu berpura pura?" melirik goda.
Alea mengepal jarinya. Ia kesal, dan kembali meletakkan flashdisk menyodorkan pada sang atasan.
"Maaf. Jika tidur saya tidak bisa, lebih baik tidak perlu mencari pembelaan. Saya hanya butuh rekaman itu. Jika saya tidak bersalah, jika mas Haris sadar. Wanita yang ia nikahi adalah wanita licik. Saya menyerah jika imbalannya harus bertukar dengan kehormatan."
__ADS_1
Theo tersenyum miring, lalu melangkah hingga berdiri tepat di depan Alea.
"Siapa yang memintamu tidur di ranjang hotelku. Membuat sampah noda adalah hal busuk yang tidak aku sukai. Tapi jika kamu tidak memerlukannya. Baiklah .. kamu bisa per ..!"
"Tunggu Pak. Saya membutuhkannya, jelaskan apa imbalannya. Saya tau seorang bos seperti anda tidak ingin rugi. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Alea.
"Benarkah. Apa kamu yakin, jika kamu ingin mendengar. Itu tanda kamu telah menyetujuinya tak bisa di batalkan."
Alea begitu emosi, mendengar saja syaratnya belum. Ia belum bisa, lalu mengapa harus di anggap setuju.
"Baiklah. Apa pak?" menatap Pak Theo.
Theo pun mendekatkan wajahnya, berbisik pada Alea.
"Menjadi Istri pura pura!"
"Haah. Tapi bagaimana mungkin, itu gak akan mungkin. Saya tidak mungkin melakukannya. Lagi pula saya masih status ..,"
"Ini. Surat dari Haris suamimu. Tepatnya mantan suami kamu. Mudah mencari datamu, jadi anggap saja impas. Saya lihat kamu wanita yang tidak mengambil kesempatan, barter! dan saya tahu siapa kamu, makanya saya memilih kamu dan menolongmu."
Alea terdiam, ia menatap surat perceraian dari pengacara. Jika ia benar - benar telah resmi bercerai.
Hingga di mana Alea pun duduk lemas, lalu menatap sang atasan dengan penuh amarah. Ada rasa sedih, kesal dan hanya mampu mengeluarkan air mata begitu saja.
"Tidak perlu menangis. Pria yang kamu cintai cukup tau siapa dirimu dan istri barunya. Ia tau jika kamu tak bersalah, tapi dia tidak di pihakmu kan?"
Alea menatap Theo yang berdiri, membelakanginya dengan segelas wine. Lalu sedikit tangan yang bertolak pinggang.
"Benar, karena saya wanita mandul. Tidak sempurna, apa setiap wanita yang tidak bisa hamil akan disia siakan." lirihnya membuat alis sang bos, tidak tega.
__ADS_1
Tbc.