
Theo menatap celah lubang Apartement! Dan itu adalah Sinta dengan sebuah paperbag. Theo kembali ke hadapan Alea dan berbicara padanya dengan lembut.
"Sinta yang datang, ini jam bukan menerima tamu. Lima belas menit, temuilah!"
"Mas, soal tadi ... " terdiam, Alea kala Theo sudah masuk ke kamar, ia tahu apa yang di rasakan seorang pria menahan hasrat dan gagal. Sudah pasti wajah itu akan berubah menjadi berenuk, seperti kembaran buah melon ketika terbelah penciuman, akan pemandangan sepet, tak enak di pandang.
'Seperti itu kah wajah mas Theo, sedikit gahar dan asem sekali, apa semua pria tertahan akan seperti itu?' batin, lalu Alea menuju pintu dan membukanya.
"Tara.. Hey! akhirnya bener juga ini alamatnya, setengah mati gue cari. Minta tolong pa Erik, dih ampun deh ga mau anter apalagi kasih tau. Dasar kaki tangan pelit, sombong." gerutu Sinta.
"Udah, masuk yuks!" senyum Alea.
"Al. Sorry, tapi sungguh. Baru kali ini, gue datang ke rumah bos besar. Kalau bukan sahabat gue yang manis. Mana bisa sih gue kesini!"
Sinta terkejut akan suasana tempat tinggal baru Alea. Lalu ia tak sengaja melihat sebuah kain di balik sofa.
"Al. Itu apaan? Kayak buntelan kain mirip kacamata. Kok di situ?" Sinta menghampiri. Menaikan alis curiga pada Alea.
Hingga di mana, Alea langsung menarik dan menaruhnya di keranjang cucian kotor. Dengan senyum Alea yang sedikit mengumpat, Sinta menepuk jidat.
"Tar dulu. Gue duduk di sini, lo habis main di situ ya? Lo ga pake Bra-?" menunjuk sofa.
"Apaan sih. Sin, cucian jatuh mana ada sih. Mau tidur, biasa juga gitu kan lebih nyaman. Owh ya, tadi kamu bawa apaan?" tanya balik Alea.
Sinta memberikan kotak. Ia terlihat antusias, ketika sebuah ponselnya yang hilang kembali. Namun Sinta sadar, ia tak bisa menanyakan serius sampai waktu nya benar tepat.
__ADS_1
"Ponsel kamu nih!"
"Eeeekh. Udah ketemu ya Sin, padahal mas Theo udah beliin yang baru. Tapi thanks banget ya." kecup peluk Alea pada Sinta.
Alea pun melihat semua data dalam ponselnya. Lalu dengan sigap ia bingung akan kontak yang hilang.
"Kok banyak yang ilang. Mmmmh .. terus, ponsel aku ketemu di mana Sin?" tanya Alea.
"Lo beneran ga inget apa - apa. Al, lo beneran udah membaik?" tanya Sinta sedikit khawatir.
"Emang aku kenapa?" saling menatap.
Sinta akhirnya berbicara, jika ponsel Alea telah di temukan oleh suster. Sehingga Alea tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada sahabatnya itu.
"Sin. Tunggu bentar ya! Gue udah buatin minuman buat kamu!"
Dalam ruangan dapur, Alea sedikit menatap cermin. Ia mengaduk sebuah minuman. Alea sungguh senang, ketika sahabatnya itu benar perhatian. Hingga di mana, ia mengingat kejadian Irene yang membuat dirinya lemas setengah mati. Alea tau, jika Irene tak sengaja melakukannya, ia hanya terbakar takut dirinya mengambil Haris.
'Jelas dia sudah memiliki buah hati, kenapa harus takut aku merebutnya?' masih mode mengaduk teh.
Alea segera keluar, ia menyuguhkan beberapa minuman hangat dan cemilan. Hingga di mana hujan deras, hal itu mereka sadari ketika jendela terbuka. Alea menutupnya, ia sangat senang ketika melihat rintik hujan yang semakin deras.
Alea mencoba menutupnya, namun dengan nafas yang indah membuat dirinya segar. Alea menatap cuaca mendung itu dengan air yang turun. Alea menengadah tangannya pada percikan air hujan. Tersenyum pada langit dengan penuh harapan.
'Langit. Kamu tau, hatiku mendung seperti warna awan yang gelap. Rintikan air hujan yang turun. Sangat mirip dengan suara hatiku yang menangis. Tolong sampaikan, aku ingin pria yang berada di sampingku tetap sabar. Sabar mencintaiku dan menunggu perasaan tanpa luka!'
__ADS_1
Sinta yang meminum teh hangat, ia menatap Alea yang sedikit aneh. Sudah pasti sahabatnya itu mengingat kesedihan kembali, hingga di mana ia menghampiri.
"Al. Hujan makin gede, ayo cepetan masuk!"
"Ya. Nih, cuma pengen sebentar liat aja." senyum Alea.
"Lo pasti inget mas Haris ya?"
Sinta menepuk punggung Alea. Berusaha menyabarkan dan meminta Alea untuk melupakannya.
"Lo ada perjanjian apa sih. Sampe selama ini masih aja ga bisa move on?"
"Sin. Gue mau banget hilangin nama mas Haris. Lo tau, kita bersama dalam satu atap rumah besar. Sering ketemu selama tiga tahun, tapi andai aja dia ga manfaatin gue. Gak akan sesulit ini kan?"
"Its ok. Perlahan gue harap lo jangan pernah beri harapan. Gue cuma takut, lo ketipu lagi sama Haris. Menurut insting gue, dia ga layak dan ga baik!"
"Iy, gue tahu itu. Dan gue udah ga senyaman dulu, yang jelas gue bingung sama perasaan gue. Kalau mas Theo pergi, rasanya gue kehilagan dan takut. Sedih, gue kenapa setakut ini ya." balas Alea.
"Gue pamit dulu ya! Gue cuma mau bisikin lo jangan gengsi, sejujurnya ketakutan lo itu udah nyaman, dan yakin jatuh cinta sama pak bos."
Alea terdiam, benarkah ia sudah jatuh cinta tapi tak mengakuinya saat ini.
Tbc.
Yuk mampir sambil tunggu Alea Up
__ADS_1