Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
MELAHIRKAN VS PERTENGKARAN


__ADS_3

Bersyukur bibi di rumah membawa Alea cepat ke rumah sakit. Dan menelepon keluarga majikannya. Karena saat itu, Theo keluar kota akan urusan bisnis secara mendadak.


BEBERAPA HARI KEMUDIAN.


Alea telah berada di rumah khusus. Di temani paman Brian. Juga tante Mira datang menengok. Tak banyak perubahan, tante Mira adalah orang yang masih sama seperti biasa.


Alea menunggu kedatangan Sinta, entah berapa lama lagi. Ia harus jarang bertemu dengan sahabatnya itu. Padahal tempat tinggal mereka sangat dekat hanya berbeda kompleks.


"Alea, kamu udah stok Asi belum?" tante Mira celetug menatap sinis.


"Udah kok Tant, makasih ya karena tante udah mau datang. Heem, anak tante ga ikut?" senyum Alea.


"Ga usah di tanya, Miki anak tante itu sangat berprestasi. Secara dia wanita cantik yang super sibuk. Ga bisa di bandingkan dengan kamu yang udah beranak gini. Kalau bisa pengasuh di tambah! Biar ga repotin keluarga, di saat Theo dadakan kerja." cetusnya, membuat Alea down.


Alea hanya senyum, ia tau maksud tante dari mas Theo, memang sangat segan jika untuk berucap. Entah kapan, sikap Miki dan tante Mira baik baik saja jika menatap dan bicara padanya. Alea hanya berharap, dirinya sangat merindukan dirinya yang normal seperti biasa.


Alea ingin sekali mendampingi mas Theo. Entah mengapa ia rindu mas Theo. Padahal ia hanya pergi mengantor. Tapi ia merasa bersama mas Theo, ia merasa sedikit bahagia.


Alea menatap dua box bayi, di sana sudah ada putranya yang terlelap tidur. Daren dan Mahes. Entah mengapa, dirinya sangat mencintai kedua putranya dan gemas. Tubuh mungil mereka, membuat Alea menciumi kaki dan tangan jemari putranya.


"Al, anak bayi jangan kebanyak gendong ya. Kamu meski baru pertama jadi ibu, harus cepat pulih. Untuk itu cepat ngantor lagi, soal bayi kalian. Tante bisa rawat kok, lagi pula anak itu harus terbaisa mandiri dari bayi. Kalau di rumah terus, yang ada kamu jadi wanita lemah. Jahitan ga kering yang ada, ingat loh. Banyak pelakor," ungkap tante Mira.


Alea hanya terdiam, ia tak bisa menjawab kala dirinya berada bersama dengan sang tante. Bagi Alea, tante Mira hanya selalu menjatuhkan dan membuatnya down. Jika terus begini, Alea takut diriya terkena baby blues. Entah mengapa dirinya merasa tak nyaman, tante Mira hanya bisa mengkritik tanpa memikirkan dirinya yang baru saja menjadi ibu muda.


'Apa salahnya sih, Bisakah tante datang bukan untuk membuatku stres, tapi menolongku menjadi ibu muda yang baru sangat, pasca melahirkan dan pernah di nyatakan kritis. Haruskah aku mendengar perkataan tak enak seperti itu?' batin Alea, ingin sekali ia bicara tapi tak bisa.


'Mas, baru beberapa jam di tinggal. Aku sudah merindukanmu. Cepat pulang kamu mas!' batin Alea saat itu menatap langit, yang menembus dari jendela kamar.


***


BEDA TEMPAT!!

__ADS_1


Berbeda hal dengan Sinta, ia tak percaya kala dirinya masih di libatkan akan tatapan Erik dan Vero yang kembali meminta maaf dan mencoba membuat dirinya membuka satu video indah yang di kirimkan Vero, yaitu sebuah bucket. Kala Sinta menghirup benda itu, ia menatap video satu lagi, terlihat jelas kala Erik meminta dirinya untuk memilihnya.


Hal itu membuat tatapan dirinya semakin bingung, menjadi orangtua tunggal itu tidaklah mudah. Sama hal menjadi seorang ibu, Ia tak sanggup jika dirinya harus berkomitmen. Sinta saat ini menuju ruang toilet.


Selama beberapa menit, ia kembali mencoba memakai tespek. Beberapa saat tubuhnya gemetar dan mencoba untuk tetap tenang. Tapi tetap saja, ia kembali menatap hasil tespek dan hasilnya garis dua berubah jadi garis satu, aneh atau Sinta yang salah lihat kala itu mengeceknya.


Tetapi entah mengapa Sinta menatap cermin, ia menatap dirinya sering pusing dan mual selama beberapa saat wajahnya yang semakin pucat, matanya semakin meremang dan ia kembali duduk di atas closet. Mencoba diam sejenak dan kembali rileks, agar ia bisa kembali memakai polesan make up untuk terlihat baik baik saja.


'Sebenarnya aku kenapa sih? Heum, semoga saja efek lelah diriku seperti ini.'


Hingga setelah pulang bekerja, Sinta kembali pergi tanpa arah. Pikirannya kalut dan semakin kacau. Meratapi hidup yang tak jelas, ingin sekali ia menyusul Black. Baginya, dia pria yang sangat membuatnya bangga meski sikap acuhnya, ia banyak melihat ketulusan dan perjuangan menjaga dirinya. Hingga kini, ia turun dari mobil dan berjalan perlahan menatap sebuah ombak hingga menepi, berdiri di tengah lautan.


Sinta kini tersungkur di hamparan air laut lalu menangis tersedu sedu. Menumpahkan segala rasa sakitnya yang sudah membekapnya tanpa ampun. Tak peduli meskipun puluhan pasang mata menatap ke arahnya. Sementara sang pemuda lain itu hanya melihatnya dari jauh dengan tatapan iba. Entah kenapa hatinya ikut teriris melihat kesedihan Sinta.


"Sinta, AWASS!!" teriak pria bertubuh jangkung itu saat melihat gulungan air berjalan cepat ke arahnya.


Deburan ombak yang lumayan tinggi itu menghantam tubuh Sinta hingga wanita itu terpental ke belakang sejauh beberapa meter.


Tubuhnya terbanting ke tanah saat gulungan ombak itu kembali ke lautan lepas.


Dengan cepat pria misterius itu berlari ke arah Sinta, disusul beberapa orang pengunjung yang menjadi saksi insiden itu.


"Kamu tidak apa apa?” tanya pemuda itu panik.


"Sakiit," rintih Sinta sambil memegangi bagian kakinya.


Dengan dibantu seorang ibu ibu pengunjung, Sinta bangun dari posisinya. Kini wanita paruh baya itu duduk berselonjor sambil memegangi pinggang dan bokongnya yang sangat sakit karena beradu dengan kerasnya pasir.


"Kamu perlu bantuan medis?" tanya sang pemuda misterius itu. Akan tetapi Sinta menggeleng.


"Nggak usah. Saya hanya sakit ringan saja,” tolak Sinta sambil terus memegangi bagian tubuh dan kakinya yang terasa nyeri. Sinta meringis kesakitan.

__ADS_1


“Sinta… kamu jangan keras kepala! Biar dipanggilkan tim kesehatan?!” bujuk pria itu. Sinta tetap menggeleng.


“Saya tidak apa-apa. Kalo memang saya butuh bantuan, pasti saya akan meminta,” ungkapnya menahan sakit.


“Ya sudah kalau begitu,” sahut sang pemuda.


“Terima kasih banyak atas perhatiannya, Bapak-bapak, dan Ibu-ibu,” ucap Sinta kepada beberapa orang yang mengerumuninya.


Mereka mengangguk lalu membubarkan diri dari tempat itu. Sinta memijat kakinya pelan.


“Ada yang bisa kubantu gak?” tanya pemuda itu.


“Tidak ada,” sahutnya dengan mata berkaca-kaca.


Sinta membuang pandangan ke arah kiri agar pemuda itu tidak lagi bisa menangkap kesedihannya. Hati Sinta begitu perih menyadari kenyataan yang baru saja dia hadapi.


Hatinya sakit karena meratapi dirinya yang tak seperti dulu. Ia merasa haus cinta membuat dirinya semakin jauh tanpa arah. Hidup tak tertata membuat dirinya kembali frustasi, ia tak mungkin menganggu kehidupan Alea yang saat ini masih sibuk dengan bayi bayi mungilnya.


“Bajumu basah. Kamu harus segera kembali ke hotel sekarang, Sinta!”


“Saya ingin di sini dulu melihat sunset, Kamu pergilah tidak perlu peduli lagi padaku!" lirih Sinta.


Pemuda itu menghela napas dalam. “Aku temani,Ya? anggap kamu tak pernah mengenalku saja saat aku temani!” sahutnya.


Sinta menatap Vero, ia berusaha melupakan dan berusaha apa yang ia alami adalah tak pernah terjadi. Mencoba menghapus agar seluruh hidupnya bisa kembali damai.


Namun saat mereka duduk menatap langit yang mendung, tiba saja seseorang dengan suara lantang membuat Sinta menoleh dan membelalakan mata yang membuatnya tak asing.


"Sedang apa kalian, di belakangku seperti ini?" suara khas tatapan mematikan. Membuat Sinta malas untuk menanggapi.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2