
Alea kini berada dalam taksi. Matanya membulat sempurna kesal, karena dirinya harus bertemu Irene. Wanita yang ia harus hindari, dari berbagai banyaknya kepenatan. Alea sadar, jika menjauh dari Haris. Adalah hal yang tepat.
"Mungkin aku harusnya tak bertemu, agar Irene tau. Jika aku tidak mengejar mas Haris. Meski dalam batinku, aku masih selalu mengingat dan masih menempel rasa sayang itu, di sini. Tapi kesabaran dan adanya mas Theo, membuat aku takut kehilangan." benak Alea.
[ Al, gue otw rumah sakit ya! Link 📍 xxx ] pesan Sinta.
'Sinta kok ke alamat ini ya. Apa memang mama Riris perhari ini udah di pindahin? Kenapa mas Theo ga bilang, kalau Haris jenguk dan bawa mamanya berobat." batin Alea penuh tanya.
Karena setelah akhir perdebatan, mas Theo bicara kalau Haris ingin merawat ibunya di rumah sakit yang ia tuju. Theo belum sempat mengurus karena ia sedang hadir rapat penting.
Alea pun mencoba menghubungi suaminya dan setelahnya Sinta. Tapi tak juga di angkat olehnya. Alhasil, sesuai pesan ia meminta supir ke lokasi yang di tunjukan.
Alea menuju rumah sakit, tanpa memperhatikan apakah itu benar, itu pesan dari Sinta. Sehingga seiringnya berjalan, Alea tetap mengikuti langkah sinar mobil yang melintas berlawanan. Ia menatap dan mencoba menghafal jalan, agar kelak ia tak tersesat.
Namun setelah beberapa saat, Alea tak sadar Jika supir taksi telah memberitaunya. Jika telah sampai tujuan.
"Ini ya pak. Kita sudah sampai?"
"Ya, benar bu. Ini tempat lokasi rumah sakitnya tapi jika ibu penasaran. Tanya security aja. Yang saya tau, rumah sakit ini mempunyai blok dua. Di depan, di balik rumah sakit ini masih satu Pt!"
"Baiklah. Terimakasih ya pak." senyum Alea.
__ADS_1
Alea turun dari taksi, setelah mengeluarkan beberapa lembar uang kertas. Hingga di mana, ia membawa dua paperbag dan berjalan. Tetapi Alea menatap jam, waktu yang hampir sore dan akan menjelang magrib. Ia harus cepat kembali pulang. Karena mas Theo, pasti akan ada di rumah sebelum pukul sembilan.
Tak lama, dering ponsel Alea berbunyi. Itu adalah, pesan dari nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Mas Theo. Apaaa? Jadi mas Theo akan lambat pulang. Memang acara ceremony dalam klien bisa dadakan. Atau memang mas Theo juga baru tahu. Aaakh, sudahlah. Nanti saja setelah aku sampai, aku akan bertanya pada Mas Theo soal rumah sakit mama Riris yang katanya Haris sudah memindahkan paksa." benak Alea.
HINGGA TAK TERASA.
Alea pun menuju rumah sakit tua, di mana memang bangunan masih sangat alami zaman dahulu. Hanya dengan beberapa kali cat berwarna cream dan agak kusam, tak seperti rumah sakit biasanya.
Tak lama, setelah Alea berhasil menanyakan data tersebut. Alea cukup kesal, karena ia tak menemui rumah sakit yang ia cari dengan nama pasien Riris Anggara.
"Mohon maaf bu. Tidak ada nama pasien itu, lagi pula, ini rumah sakit untuk gangguan mental. Mungkin di belakang rumah sakit kami ada. Karena data kami berbeda, tak bisa mengecek dalam sistem."
TEGA SEKALI KAMU HARIS!!
Alea keluar dengan campur aduk emosi, ia tak bisa menemukan mama Riris, memang semalam ia bicara akan datang untuk mengecek tetapi ditemani Sinta.
Lalu Alea, mencoba menghubungi Sinta beberapakali. Tapi tak bisa tersambung.
Hingga di mana, ia mencoba kembali menghubungi Sinta dan mengirim pesan. Akan tetapi begitu terkejut, Alea baru sadar jika itu bukan nomor Sinta, nomor digit yang salah. Alea mencoba mengirim pesan tadi yang mengirimnya pesan, terus saja gagal.
__ADS_1
"Apaa, kok bisa kaya gini sih. Apa aku di hacker. Jangan jangan ini kerjaan Irene." batin Alea kesal.
Alea kembali memesan taksi. Tapi ketika beberapa menit ia mencoba menunggu, seseorang dari belakang membekap Alea.
Alea cukup terkaget, matanya membulat mencoba melirik ke arah siapa yang membekap dan menahan kedua tangannya. Tapi aroma pekat yang masuk ke dalam hidung, membuat nafasnya terhenti.
"Aaaaaaaa .. Mas Theo, tolooong akuuu!!!" teriak dalam gemuruh batinnya.
Hingga tak sadar, pingsan dan lemas. Seseorang yang membekap membawa Alea masuk kedalam mobil tanpa sadar, Alea menjatuhkan sebuah ponselnya dan begitu saja pergi.
"Baiklah. Lo semua kerjanya bagus. Nih .. uang bayaran kalian. Inget tutup mulut!" titah irene yang menutup masker ketika memerintahkan pada dua orang pria bayaran.
"Siap bos!"
Irene masuk kedalam mobil, ia cukup puas kala mendengar keadaan Alea yang mungkin akan hancur sehancurnya. Hingga di mana, ia menghubungi Haris dan segera cepat menemui suaminya itu.
"Hallo, ya honey. Aku sebentar lagi sampai, bagaimana ceremony acaranya lancar?" tanya Irene pada Haris.
Ia sungguh sangat senang, kala rencananya berhasil. Meski Haris tak mengetahui, ia mencoba tertawa lebar. Tak sanggup untuk mendengar kabar keadaan Alea berikutnya.
'Baiklah, tinggal wanita tua itu sekarang. Alea Trihapsari, siapa suruh kamu melawan diriku. Setelah memanipulasi data, aku bisa melenyapkan kamu dan Riris si mertua ga berguna itu kan?' batin Irene.
__ADS_1
Irene melempar tubuh Alea ke jurang! Dengan mata yang tertutup dan membungkus setengah badannya dengan karung.
Tbc.