
Theo tak menyangka, jika Alea akan kritis. Ia juga bodoh tak mengetahui istrinya, akan punya trauma dan phobia dari ketakutannya.
"Bagaimana dokter bilang?" tanyanya.
"Alea dalam perawatan. Kondisinya saat ini, dan sekarang cukup stabil, hanya menunggu siuman saja pak."
"Apa ada yang kamu curigai Sinta?" tatapan Theo menyamping.
Sedikit bingung, lalu mencoba berfikir banyak untuk menemukan jawaban yang tepat.
"Belum, ponsel Alea juga hilang. Saya tidak bisa mengeceknya."
Theo mengepal jari, ia mencoba berbalik badan dan memejamkan mata. Sekedar menahan tangisan amarah yang ingin tumpah.
Mengetahui hal itu, Sinta mendapat lirikan dari Erik. Hingga di mana Sinta pamit, dan mengekor oleh Erik yang menunggu di luar. Sehingga dalam ruangan itu hanya ada Alea dan Theo.
'Alea. Maaf jika beberapa hari, aku tak bisa mendampingimu. Sadarlah, aku janji tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian. Apa kamu mendengarku saat ini. Jangan salah sangka, kita ditakdirkan bersama, hanya saja aku terlambat. Andai kamu juga bisa paham, tidak mudah bagiku mencintaimu, tapi keterlibatan keluarga kita di masa lalu, yang keruh. Meski aku sadar.. Perlahan kamu akan tahu kebenarannya itu pasti.. ' batin.
Theo mengirim beberapa nomor intel. Ia ingin mencari dengan bukti yang kongkrit, sehingga ia bisa membalaskan siapa yang tega melakukannya pada istrinya.
Tanpa sadar, Theo menatap jari manis Alea bergerak. Perlahan ia menatap pergerakan itu, lalu menatap wajah Alea yang sedikit membuka mata. Bibirnya bergetar sedikit membuka, sehingga Theo memencet tombol agar suster dan dokter kembali mengeceknya.
Hingga beberapa saat kemudian.
Dokter datang dan mengecek. Detak jantung, nadi dan mata penglihatan di tempelkan alat sinar cahaya senter. Selama berpuluh menit, Alea dalam pemeriksaan. Begitu pun Theo masih setia mendampingi, meski ia menahan nyeri ditubuhnya tak bisa berdiri terlalu lama.
"Syukurlah. Keadaan pasien telah membaik. Tetapi saya harap, untuk tidak membuat pertanyaan yang berat. Seperti kejadian yang menimpanya. Biarkan pasien yang mengatakannya dengan kondisi zona nyaman!"
"Baik. Terimakasih ya dok."
Wajah yang pucat, Alea menatap seluruh langit. Hingga di mana, ia mendapati wajah pria yang setia selalu baik padanya. Meski pandangan sedikit kabur, Alea tau dengan suara serak pria. Ia paham siapa pemiliknya.
__ADS_1
"M-mas Theo. Aku kenapa?"
"Syukurlah. Kamu udah sadar, kamu hanya pingsan Alea. Bagaimana sekarang. Masih sakit?"
"Pi-pingsan. Memang aku kenapa Mas?" Alea menoleh menatap wajah Theo dengan gugup dan lemas.
"Jangan di pikirkan. Aku akan menemanimu saat ini. Setelah ini, aku akan menyuapimu dengan sup hangat ayam kampung dengan jahe. Ini bagus agar kamu bisa pulih lagi."
Alea cukup tersenyum, saat ini. Memang ia sedang tak bisa memikirkan kenapa ia tiba di rumah sakit. Hal itu pun, membuat Alea cukup sakit merasakan kepalanya, memegang kepalanya sedikit nyeri.
Perlahan, Theo memberikan air putih. Lalu menyuapkan sup, Alea dengan cukup senyum ia melahapnya dengan pelan.
"Hati - hati. Ini cukup panas!"
"Mas. Aku ga tau, kalau tidak ada kamu. Aku harus bagaimana. Jujur aku sepi, aku sendirian kalau ga ada kamu mas." senyum Alea.
Theo tak bisa jujur, ia tak bisa berkata lagi. Dengan istrinya bicara ngelantur seperti ini, meski membuat dirinya sangat yakin atau senang ketika mendengarnya.
Alea senyum mengiyakan, tanpa sadar ia meminta Sinta duduk dan bercerita. Alea lalu duduk sedikit menegak karena punggungnya sedikit pegal. Sinta pun membantu memutar posisi duduk Alea saat ini.
"Syukurlah lo sadar, Al. Gue seneng, owh ya. Cepet sembuh, kita cuci mata lagi!" goda Sinta.
Eeeehm .. ! Deheuman seseorang.
"Kamu nih Sin. Owh ya, aku kenapa ada di sini. Kata Mas Theo aku pingsan. Ada apa emangnya?"
Sinta melongo, ia menatap Pak Theo dan Pak Erik yang memberikan kode mata. Hingga di mana Sinta mendengus nafas dalam - dalam.
"Lo kecapean. Pasti lo belum sarapan ya?"
"Capek. Heeummph! belum sarapan, kayaknya enggak juga deh. Tapi udahlah, aku seneng kamu di sini juga."
__ADS_1
Theo menerima panggilan, ia keluar dan Erik pun mengikutinya. Sementara Sinta hanya menggeleng ketika dua pria sibuk itu pamit. Sinta tak pernah menyangka jika ia akan dekat dengan dua pria bos yang kuat di kantornya.
Meski terlihat baik, tapi jelas saja. Jika di kantor ia akan terlihat seram dan jutek. Layaknya profesional karyawan dan atasan. Berbeda jika menyangkut di luar ketika bersama Alea.
'Heuuumph. Al, lo beruntung kali ini. Tapi kenapa gue insecure ya. Emang semenarik apa sih jatuh cinta, percintaan lo sama dua pria hebat?' batin Sinta.
"Ta. Kok aku yang sakit, kamu yang bengong?" tanya Alea.
"Gpp, antusias seneng aja. Lo siuman, ga syok lagi gue." alibi.
"Haha, dasar."
Theo telah selesai menerima panggilan. Lalu ia memerintahkan pada Erik untuk meminta Leo sang sepupu. Memancing Haris untuk bertemu di suatu tempat.
"Erik. Jangan sampai buat kesalahan. Jika dia yang melakukannya. Pastikan menghajarnya habis habisan."
"Baik. Ta-tapi bos, pikirkan kesehatan anda. Sebaiknya tidak perlu dengan kekerasan! Bagaimana, rontgen ulang sejenak!" khawatir Erik, dimana pengobatan bosnya, baru 40% dilakukan di Jerman.
Erik yang tiba saja mengeluarkan petuah. Ia malah mendapat sorot mata yang tajam dengan jari yang runcing, menyentuh dasinya.
"Aku bilang. Lakukan sekarang Erik!"
Tanpa ba - bi - bu. Erik langsung pergi begitu saja. Mematuhi perintah dari sang atasan. Tidak habis pikir, apa bos kejam berubah drastis kala menyangkut belahan jiwanya terluka. Tanpa memikirkan kesehatannya juga, yang perlu di obati.
'Jika kau terjadi sesuatu bos, maka nasibku bukan saja kehilangan. Akan tetapi menambah pengangguran, beban dinegara ini.' batin Erik bergerutu.
Tbc.
Mampir lagi yuks, sambil tunggu Up.
__ADS_1