
"Al, udahlah sudahi saja mama Riris. Bawa aja dia ke panti jompo, atau enggak kamu bisa bilang sama si Haris Anggara kamu itu, sudah cukup buat terus bikin penat. Setelah talak, beban itu bukan harus kamu pikul sendirian."
"Sin, aku memang inginkan begitu. Tapi istri mas Haris, setidaknya harus sadar. Ada ibu kandungnya yang masih terbaring, aku kaya gini bukan sok baik. Tapi balas budi, mama Riris pernah adposi aku, angkat aku. Aku ga pernah ngerasain kasih sayang selain mereka."
"So-Sory Al! Aku cuma gemes aja. Ada ya laki tega ama ibu kandung sendiri. Biaya semuanya di bebani ke kamu. Aku sumpahin si Haris itu bangkrut ditinggal istri muda, anaknya mati."
"Sin, jangan jahat jahat dong bicaranya. Anaknya ga bersalah juga kan." sedih menatap.
"Ya, maaf! Pokoknya kamu harus pikir dengan hati nurani kamu, jangan sampe kamu balikan lagi sama mantan yang udah sia sia in kamu itu. Inget Al, sekali dilukai dia akan terus menyakiti. Baik boleh, bodoh janganlah Al. Ga rela aku liat kamu makin kurus, nambah beban banget."
Perbincangan mereka di akhiri makan bersama. Sinta juga mengantar Alea pulang ke rumahnya. Sehingga mereka berpisah dengan suasana hangat layaknya sahabat yang care. Tapi Alea hanya bingung, ia juga tidak mau terus menerus meneror mas Haris yang sudah punya keluarga baru.
"Mas, aku akan hapus kenangan kita. Semua foto tentang kita, akan aku bakar tak bersisa. Meski dihati ini, masih tersimpan cinta yang tulus, tapi aku ikhlas karena kamu bahagia. Aku sempat melihat anak kecil yang dipanggil oleh Irene dan kamu memeluknya. Andaikan aku tidak mandul, aku mungkin yang ada di posisi itu."
Pasalnya setelah Sinta mengantar Alea ke rumah lama, Alea melihat seisi keluarga mantan suaminya bermain di halaman rumah. Terlebih Sinta kembali menjalankan mobil, dan membawa ke cafe dengan banyak bercerita agar hati, pikiran Alea terbuka.
Sinta menasehati Alea, tapi tetap saja tidak mudah mengakhiri selama lima belas tahun mengenal mantan suaminya, dan pernikahan ke delapan tahun harus berpisah ditalak tiga dengan hinaan dirinya yang mandul, padahal menurut Sinta. Sahabatnya itu hanya belum dikasih rejeki saja.
__ADS_1
'Benar, bahkan meski aku belum mengecek kandunganku, diagnosa mandul. Sudah delapan tahun aku berumah tangga, tidak ada tanda tanda aku hamil. Pantas saja tahun tahun terakhir mas Haris berbeda. Ternyata ia bukan penat karena tuntutan pekerjaan, melainkan tekanan istri muda yang telah melahirkan memintanya menceraikan istri pertama.'
Alea menutup jendela, ia tinggal di rumah kecil tak jauh dari kediaman Sinta. Mungkin hanya berbeda cluster saja, dan hanya karena inilah Alea Trihapsari bisa mengontrak untuknya seorang diri setelah resmi bercerai.
ESOK HARINYA.
Dalam beberapa jam perjalanan, Alea tiba di sebuah paviliun. Alea tak menyangka, halaman yang luas seperti perkebunan teh. Ia menatap sisi langkahnya, ia masih mengekor di mana langkah Theo yang lebih dulu.
Sementara menatap sisi dan arah belakang, meski jarak sekitar lima meter. Jelas pengawal mengiringi dari belakang.
"Sebenarnya kenapa dia mau bantu aku? Ya, jelas saja membantu membersihkan nama perusahaannya. Karena saat itu saya berada di bawahnya. Tapi menikah pura - pura, kenapa harus aku. Apa tidak ada wanita lain?" benak Alea.
Hingga tiba, ia melangkah. Menaiki tangga seperti kayu. Tapi jelas itu terbuat dari marmer yang kokoh. Alea di buat tersipu, pria yang terlihat bapak - bapak ini membuat ia terpana. Setiap design rumah yang tak pernah ia bayangkan, ini baru pertama kalinya ia melihat.
"Masuklah. Jangan berdiri, diam saja di sana!" titah Theo.
"Uups, ya. Saya akan masuk, tapi bisakan saya langsung istirahat?"
__ADS_1
Theo menarik tangan Alea, jelas Alea sangat malu. Sehingga ia duduk dan menatap meja makan yang penuh dengan hidangan paling lengkap.
"Jelaskan dulu, apa hubungan anda dengan Haris Anggara. Kenapa nama kalian sama?" tanya Alea.
"Hanya kebetulan saja, marga. Kau tau arti sebuah Marga kan?" bisik Theo.
Alea terdiam tak mau bertanya lagi, jawabannya pasti sama. Setelah itu nafasnya berulangkali tersendat. Tangannya gugup dan gemetar tak karuan.
"Ini hanya pernikahan palsu, agar aku tidak ditanya kapan aku menikah, menurutku pernikahan itu hanya sia sia. Bahagia sekejap, jika bosan sepertinya dihempaskan."
"Bagaimana bisa, justru karena pura pura. Dan aku ga pernah berbohong, kalau terbongkar fatal gimana. Kalau aku digantung gimana oleh Tuan Ben."
"Berlebihan, yang jelas hukumannya jika ketauan. Akan di hukum satu kamar denganku." cetusnya dan meninggalkan Alea mematung.
Theo sendiri merasa lucu, apalagi melihat ekspresi polosnya Alea saat itu. Sehingga tangannya di tarik begitu saja, Theo pun memegang erat tangan Alea dan melingkarkan di telapak tangannya menyatu.
"Aku bantu berjalan!" senyum Theo, melangkah.
__ADS_1
Tbc.