Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
SANGAT KEJI


__ADS_3

Paman Brian, ia tahu jika Alea tidak disukai oleh adik dan keponakannya. Maka dari itu ia memberikan Alea berkas, untuk ia esok pergi dengan Reno, terkait kasus Theo Anggara dan membayar pengacara terkuat di tanah air.


Esok Harinya.


Alea yang telah penat, ia kembali memberikan sebuah bukti pada pengacara. Untuk bisa menemukan Irene dan segalanya yang terselebung orang di belakangnya.


"Pak Robi, saya minta semua di tuntaskan. Saya ingin keadilan, bagaimana bisa abu suami saya berbeda dengan hasil dna. Saya mohon kejelasan!"


"Baik bu. Saya segera memproses seleb irene, atas kejahatan di dua konflik. Saya akan hubungi ibu untuk perkembangan selanjutnya!"


"Dua ratus juta! Ini untuk transport. Saya lelah, akan kepolisian yang delay!" ujar Alea, memberikan uang empat gepok.


Setelah kepergian pengacara. Alea cukup bisa tenang. Sebuah bukti Irene yang berlaku curang dalam video Zona Steel. Alea kini menuntutnya, atas ancaman Irene yang telah terlalu parah jika ia diamkan.


"Erik, kapan kita putar video rekaman Irene yang menjijikan itu? Kasus kecelakaan suamiku, itu jelas orang suruhan Irene."


"Setelah dashboard di temukan, kemungkinan malam ini benda itu di sembunyikan Irene. Kita akan buat Irene mendapat balasan setimpal."


Alea pun sedikit merasa tenang, lagi lagi ia harus merasa kecewa. Jika semua terungkap, ada kemungkinan mas Theo memang telah tiada.


"Mas, aku benar benar bingung. Mungkin benar, aku harus merelakanmu. Selama ini, aku mencarimu tapi tak ada titik terang." benak Alea.


Hingga di mana, tiba saja Alea yang pergi ke ruangan kantor berbeda dan terpisah dengan Erik. Ia harus segera merapihkan segala berkas yang benar saja sebuah catatan mencurigakan oleh karyawan mas Theo.


"Apa ini, data Puput dan Putri. Ada apa dengannya. Kenapa bisa mereka menjalin satu panggilan dan chat sesering mungkin pada Irene."


Erik memang mencari info dari seluruh orang yang pernah jahat, membuat Alea celaka. Hingga di mana semua mulai terungkap perlahan demi perlahan. Bekerjasama dengan sebuah profider. Cukup mudah bagi Erik meminta dan melakukannya.


BRAAAGH!! SUARA BENDA JATUH.


Alea menoleh, mencari sumber suara jatuh. Hingga di mana, ia mencoba mencari tau.


"Hello .. siapa di sana?" teriak Alea, bergema.


Alea berkali kali mencari tau, tetap saja. Ia tak menemukan sebuah benda yang mencurigakan bahkan jatuh. Hingga di mana saat Alea berjalan, ia melihat jendela yang terbuka lebar.


Jendela itu gak biasanya terbuka? Apa Erik yang sengaja membuka. Tapi untuk apa, Alea segera mencari tau. Karena hari libur yang membuat Alea banyak menyelesaikan seluruh masalah.


Ia tak ingin diam, Alea tetap harus mencari tau apa yang terjadi di balik motif Irene. Ia sadar, jika motif Irene yang berlebihan adalah bukan sekedar dendam di masa lalu karena telah menikah dengan Haris.

__ADS_1


Jika Irene kesal karena aku menikah dengan mas Haris. Tapi semua itu, bukankah aneh jika sikap Irene berlebihan padaku, setelah aku bahagia dengan pernikahan keduaku.


Alea segera, melihat ke arah jendela. Entah dasar apa, ia ingin tau. Namun begitu terkejut kala melihat titik darah dan seseorang yang terlihat terluka.


"Pak, anda siapa di sana?" panik Alea, mencoba menghampiri.


Alea mencari kunci cadangan, hingga di mana ia berputar mencari kunci cadangan. Jendela dari sudut arah dapur, terdapat pintu yang keluar ke arah balkon untuk mencari jalan keluar atau darurat. Sehingga pintu itu tak pernah terbuka.


"Aahhk!! ya ini dia. Kuncinya." batin.


Tak lama, Alea segera berlalu. Lalu membuka pintu itu, namun tak ada orang yang ia lihat. Alea berteriak, memanggil pria dari balik punggung tapi tetap saja tak ada. Hingga di mana, Alea mencoba menutup pintu. Malah suara rintihan kesakitan.


Arrguuuhhhh!! Toolong!! nada rintih kecil.


Alea terdiam, ia kembali membuka pintu itu. Lalu dengan perlahan ia melepas sepatu yang ia kenakan. Karena sebuah lantai ruangan rahasia yang sangat licin.


"Hello. Siapa di sana?"


Alea sedikit ngeri, kala menatap punggung baju hitam dengan sebuah tangan diperban dan luka merah. Ada rasa mual dan sedikit bau, kala Alea melihat dirinya dari samping. Sehingga Alea mencoba menutup mulut dan hidungnya dengan penutup masker.


"Pak. Bapak kenapa, kenapa bisa terluka. Apa bapak orang teknisi?" karena Alea pikir ia adalah karyawan di ruang bawah bagian mesin yang terluka.


"Maaas. Mas Theo, ini benar kamu mas?" teriak Alea, dengan luka bakar masih dikenali, tapi satu tangan itu tak terlihat.


Aaaaaaakhh!! Teriak Histeris.


TOLOOOOOOONG!!!! TERIAKAN ALEA MENGGEMA.


Teriakan Alea begitu histeris, melihat wajah yang memar dan merah di kelopak mata kiri dan tangan yang di perban terlihat tidak sempurna.


"Mas, kenapa kamu seperti ini. Aku akan meminta pertolongan. Kamu bertahanlah mas!" menepuk wajah dan menempelkan wajahnya pada pria yang sangat ia cintai. Alea berusaha memeluk dan meminta Theo bertahan.


Alea sedikit ingin berlari, namun tetap saja ia sedikit pelan, karena dirinya yang hamil membuat Alea tak bisa kencang dalam berjalan.


TOLOOOONG ... !!


TERIAKAN ALEA KEMBALI DALAM RUANGAN.


Alea memencet tombol merah, hingga beberapa menit dua security datang.

__ADS_1


"Bu, ada apa bu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Panggil Ambulance, kamu Supri tolong bantu pak bos di balik pintu dapur. Kamu jalan sedikit ada seseorang yang duduk, tolong bantu saya!"


"Maksud ibu ..?"


"Cepaaat!!!" ketus Alea wajah panik dan marah, karena bukan saatnya menjelaskan.


"Cepat pergiii ... cari bantuan jangan bertanya!!" teriak Alea. Nada Alea yang panik dan cemas naik satu oktaf. Membuat dua security terbirit berlari, hingga sampai salah arah.


Alea gemetar menghubungi Erik, hingga di mana dengan cepat Erik berlari cepat dari gedung sebelah. Tubuh Alea kini bergetar, kala dirinya melihat apa yang benar benar mengerikan.


"Sungguh kejam, kalian tidak punya hati nurani. Begitu membenciku, kenapa harus mas Theo mengalami seperti ini!"


Theo sedikit sadar, ketika Alea berteriak histeris dan menangis. Apalagi banyak berucap kata yang menyakitkan membuat hatinya sakit mendengar.


[ Ini bukan salahmu, Alea sayang! ] lirih kecil Theo dan menutup mata. Pingsan, karena kekurangan oksigen dan darah.


Erik yang tiba terkejut, ia segera menatap hal yang tak percaya. Entah harus marah akan perlakuan yang tega pada bosnya itu. Tapi mengingat kebaikan Theo pimpinan perusahaan kembali adalah hal bagus.


Belum lagi rasa bersalahnya pada Tuan Brian, dan Anggara Ia akan di maafkan, dan memberikannya kesempatan untuk menebus dirinya yang tak becus menjaga putra berkuasa.


***


DI RUMAH SAKIT.


Alea dan Erik mendorong kursi roda pasein untuk sampai di ruang Ugd. Hal itu membuat banyak pertanyaan. Mengapa mas Theo bisa ada di balkon, atau sebenarnya suaminya telah di sekap dan di perlakukan keji oleh seseorang. Dan abu terbakar orang yang menolong sehingga alibi kasus berkelit.


"Mas, bertahanlah demi aku dan anak kita!" tangis Alea histeris, masih mode menggenggam tangan dan bahu suaminya, saat ikut mendorong ranjang rumah sakit.


Hingga Theo masuk kedalam ruang Ugd dan segera di periksa. Alea menatap Erik dan memerintahkan sesuatu.


"Erik, jangan beritau keberadaan mas Theo saat ini, tetap cari semua informasi dan ruang cctv di seluruh ruangan. Beri beberapa pengawal untuk menajaga mas Theo jika ia pindah ke ruang vvip!"


Erik segera berlalu, namun dokter tiba saja keluar membawa wajah sedih tak ingin di bayangkan.


"Ada apa dok. Bagaimana dengan suami saya?" tatap Alea panik


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2