Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
BERULAH TERUS


__ADS_3

"Sin, gak bisa kaya gini. Lo ga bisa bicara sepihak kala Erik benar benar seperti itu."


"Trus, Al gue harus apa. Lo tau kan, gue juga mau punya suami yang benar benar komitmen untuk setia. Meski gue sadar, gue bukan wanita baik yang gaya menjalin suatu hubungan penuh lurus."


"Sin, gak gitu."


Alea meminta maaf, lalu memeluk Sinta. Kala benar, saat ini mereka memang sedang mempunyai waktu dan bertukar masalah. Alea memang tau akan cinta Sinta ketika saling jatuh kelubang asmara. Tapi ia menatap Erik benar benar terlihat serius.


"Al, gue harus apa?"


"Sinta, gimana dengan Vero. Apa dia kembali hubungi lo?"


Sinta menggeleng, lalu ia merasa sedih dan menyesal karena telah terlihat seperti wanita murahan. Sinta menjelaskan kala dirinya jijik dengan Erik. Erik yang sering menuntaskan dengan wanita lain, ia tak habis pikir kala ia kembali mengantar berkas. Namun Erik membawanya keruang gudang, dan melakukan itu dengan sangat membuat ia tak bisa berontak. Bukan karena ia merasakan ikut senang, tapi tangan yang di ikat, membuat lengan membekas, sampai ia harus memakai baju ketat berlengan panjang. Bagusnya saat itu tak terjadi sesuatu yang lebih.


Alea mendengarkan kala Sinta menjelaskan tentang Erik. Namun tak bisa di salahkan, jika Sinta juga ingin mempunyai seorang ayah dari pria yang baik kelak untuk anaknya.


Vero memang sangat terlihat sopan, dengan seorang pria yang tumbuh tanpa seorang ayah. Ia memiliki ibu yang berkuasa, apa Sinta tau jika klien dari Gx adalah Reta salah satu rekan bisnis mas Theo. Meski jabatan hanya seorang manager, dan Vero hanya memiliki usaha minuman dan coffe shop. Tapi ia cukup terkenal, di kalangan pengusaha. Tapi Vero dan Sinta melakukan hal terlarang, setelahnya Vero bicara jika malam itu hanya biasa saja, tak ada cinta dan serius hanya saling ingin.


Deuugh! Hancur hati Sinta, kala ia membenci Erik menyukai Vero, tapi diabaikan Vero. Hingga Sinta makin membenci Erik, karena ia sadar Erik lah yang setia, tapi Sinta menghindar karena malu dirinya yang sudah bermalam dengan Vero, membuat Sinta terlihat dibenci Erik.


"Al, kok lo bengong sih. Denger ga sih gue ngomong?"


"Haah, ia benar. Gue cuma bingung, besok kan gue check up ke dokter Hera. Lo ikut juga dan periksa ya?"


"Al, gue yakin ga hamil kok."


"Tapi lo bilang belum datang bulan semenjak kejadian itu kan? Udah beli tespek?" tajam Alea menatap ingin tau.


"Gue, gue udah beli. Tapi takut Al, lagian gue cuma telat sebulan. Gue yakin, bentar lagi juga gue bakal datang bulan. Mending kita minum soda yuks Al?" tawa Sinta merekah.


"Sin, lo ajak gue dengan minuman kaya gitu. Dengan perut gue buncit gede gini. Terus kalau lo beneran isi gimana, lo mau gugurin?"

__ADS_1


Sinta terdiam, ia sebenarnya bingung akan kenyataan jika ia hamil. Vero yang ia dapati seperti sosok Black mirip mantannya dulu, harus pergi ke amsterdam tanpa bicara satu patah katapun. Karena sebuah lift yang saat mengambil mantel dan menatap Erik, Vero menjadi salah paham.


"Al, gue punya masalah dengan Vero. Sebaiknya gue harus apa, gue temuin diri Black dalam diri Vero, Al." memohon titik masalahnya.


"Sin, cerita sama gue. Semuanya!! gue tau lo. Dan lo tau gue kaya gimana kan?" memeluk.


Sinta menceritakan soal Vero yang menjemput di loby parkir belakang. Tak sengaja kala itu Erik memang mengejarnya dan masuk kedalam lift. Lalu melihat pertengkaran mereka, mantel jatuh ia mengambil, lalu Erik memegang tangannya. Seolah yang terlihat Vero adalah mereka sedang menjalin suatu hubungan serius.


"Menurut lo, apa Vero merasa gue khianati dia?"


"Sin, gimana pun lo harus temui Vero. Biar semua jelas, mau di bawa kemana. Menurut semua yang lo jelasin." Alea sedikit terdiam dan menghela nafas.


Sinta semakin mendekatkan wajahnya, bertanya ada apa dengan wajah Alea yang cemas.


"Kenapa Al. Jawab gue jangan bikin penasaran?"


"Gue ga yakin Vero bakal kembali, mungkin dia nenangin diri buat lupain semua. Dan kalau pria semacam itu, gue takut lo bakal kecewa kalau tetap lanjutin hubungan lo ke serius."


Sinta tau, apa yang ada dalam raut wajah Alea ketika menyembunyikan sesuatu. Hingga di mana, ia mencoba menanyakan dengan lembut.


"Sin, Vero sangat lembut namun menurut gue hatinya mudah labil, gak bisa menyelesaikan suatu masalah dengan bijak. Hanya bisa menghindar dan melupakan ga baik dan sehat buat lo yang terus ingin melanjutkan pernikahan. Karena mas Theo dan Vero pernah mencintai wanita yang sama kala di jaman abu abu."


"Maksud lo Al?"


"Maksud gue, karena wanita itu sakit, dan wanita itu cinta dengan mas Theo. Merasa saling mencinta dan dia hanya sepihak, ia lebih pergi sampai waktu yang cukup lama."


Mendengar hal itu, Sinta tak percaya. Lagi lagi ia mencintai sosok yang ia sukai seperti Black. Tapi berakhir dengan di tinggalkan. Alea hanya bisa memeluk dan menyabarkan Sinta saat ini. Lalu menoleh dan meminta asisten membawakan jus untuknya dan Sinta.


"Bi, panggil bapak ya. Sekalian, masih ada di ruang tamu dengan Erik kan?" tanya Alea.


"Bapak, dengan pak Erik udah pergi dari tadi Nyah. Satu jam lalu, udah gak ada." jelas asisten rumah itu.

__ADS_1


"Apa, pergi. Kemana bi, bapak bilang gak?"


Pembantu rumah itu menggeleng, ia gugup lalu permisi tak ingin membuat Nyonya berpikir aneh, kala ia mendengar tadi saat menaruh teh. Meminta Erik mengantarnya ke sebuah club.


"Permisi nyah, saya akan segera antar jus nya!"


Asisten itu, tak bisa menjawab apa yang ia dengar. Ia tau, jika majikannya sedang hamil besar. Tak boleh mendengar hal aneh dan beresiko stres. Tapi ia juga stres jika tak bicara tuannya pergi ke sebuah Club. Apalagi kesehatan majikan pria itu belum stabil dalam kesehatan akibat kecelakaan parah. Alhasil bibi itu bercerita sembunyi pada majikannya, atas apa yang ia dengar beberapa jam lalu.


***


DI CLUB.


"Bos, Eehm. Pak Theo hentikan, anda tidak boleh minum sebanyak ini!" Erik menghentikan gelas yang akan di teguk.


"Hahaa, santai saja. Tinggal bilang kita rapat penting dadakan. Atau apalah, kamu lebih takut bos wanita di banding aku memecatmu Erik?"


Gleuuuk!!


"Bos, kesehatan anda tidak baik. Apa yang harus saya lakukan jika Nyonya bertanya?"


Uhuuuuk. Uhuuuk!! Theo terdiam meminta Erik menuangkan segelas, lalu meminta Erik untuk minum juga. Tapi Erik menolak, kala dirinya harus menyetir. Namun tiba saja, benda pipih dari saku jasnya terlihat nama dengan dering sebuah nama Bu bos.


"Astaga, apa yang harus aku jawab ini?" menjauh dan menerima panggilan.


Meski Erik mengabaikan panggilan, tapi ia akan lebih takut jika Alea, istri dari bosnya itu teriak dan murka. Baginya wanita, orangtua dan ibu hamil adalah hal menakutkan jika berbicara.


ERIK BAWA PULANG BAPAK!! JIKA TIDAK, AKAN AKU TUTUP CLUB ITU, DAN KU POTONG BAGIAN SENSITIF KALIAN!


20 MENIT CEPAT BAWA BAPAK SAMPAI. JIKA TIDAK ... !!! TERIAK ALEA DALAM PONSEL.


"Ya, bu kami sedang di jalan." ketakutan Erik, membalas pesan suara.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2