Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
KENAPA SANGAT SEDIH


__ADS_3

"Papa, itu Ante yang baik. Bukankah itu Ante yang pelnah berdiri di gerbang lumah ya?" sedikit cadel.


"Damian! Tante yang mana sayang?"


"Itcuuu."


Alea terdiam, meski Sinta meminta tetap lanjut. Akan tetapi bagaimana bisa, sementara anak kecil itu berdiri meraih tangan Alea.


"Ante, ante yang kemalin ke lumah Damian kan?" senyum anak laki laki.


Wajah anak ini sangat tampan, belum lagi lesung pipi yang mirip dengan Haris. Tentu saja, dia adalah anak Haris dengan istri kedua. Andai saat itu ia tidak keguguran, betapa bahagianya rumah tangganya akan selalu adem ayem tanpa orang ketiga.


"Kamu pasti salah sayang! Mungkin hanya mirip. Eeuum! Atau memang iya, tapi tante sedikit ingat kalau tante salah rumah. Harusnya di rumah sebelah rumah kamu ganteng." jelas Alea, ia sedikit menunduk, bersejajar pada tatapan anak itu.


"Alea! Kamu disini, maaf soal Damian! Kamu mau kemana?"


"Aku sedang ketemuan dengan temen. Dia teman aku Sinta mas. Kalau begitu aku permisi."


"Tunggu Al! Maaf aku belum pernah bicara maaf hingga saat ini." ujar Haris menatap penuh.


"Heuuumph!" Alea melanjutkan melangkah.


Akan tetapi Haris meminta putranya mendengarkan music, duduk di meja sambil menunggu pesanan datang.


"Damian, tunggu disini ya! Itu teman papa, papa mau bicara sebentar ok!" dianggukan anak kecil.


"Alea,.. " teriak Haris, Sinta yang paham ia segera menyingkir.


Gue tunggu di mobil ya Al! Ujar Sinta, meraih handbag Alea.


"Kenapa mas, kamu harusnya temani putramu."


"Aku mau kasihin ini, ini sapu tangan buatan kamu tentang kita dulu, andai kita punya anak dan kamu mau berhenti bekerja dan kamu ikut denganku, tidak melanjutkan kuliah serta terus berobat. Mungkin aku tidak melakukan seperti ini." jelas Haris memberikan sapu tangan.

__ADS_1


Wuuah. "Mas Haris Anggara, kamu tau tidak, kenapa aku berjuang mati matian dengan karier dan kehidupanku yang sedang aku jalani?" sentag merah mata Alea menahan air mata.


"Enggak! Kenapa memangnya?" tanya Haris.


"Agar aku ditinggalkan olehmu, entah dengan wanita lain, atau kesedihan yang mendalam. Aku bisa berjuang menguatkan diri. Bukan bunuh diri."


"Apa..?"


"Satu lagi, selamat berbahagia mas. Andai aku tidak keguguranpun, dan anak kita yang pertama tidak meninggal setelah lahir dua jam. Mungkin kamu akan sama menorehkan luka. Jadi jangan lagi tinggalkan Damian, dan meminta maaf! Jika aku datang padamu, itu hanya karena ibumu. Mama Riris yang saat ini sedang di singapore." senyum Alea, menyembunyikan kesakitan.


Haris terdiam, saat Alea pergi. Dengan pikiran yang kacau. Ia kembali dan senyum pada anaknya saat itu yang sedang tertawa asik. Lalu mengajak putranya pulang, setelah pesanan makanan siap. Sebab Haris juga akan langsung ke kantor.


Alea pun di peluk oleh Sinta, Alea menunggu di dalam mobil sampai Theo memberi kabar, datang menjemputnya. Terlihat juga mas Haris masuk mengendarai mobilnya, dengan wajah bahagia terlihat pada anak laki laki itu.


"Kita cari cafe lain ya Al?"


"Thanks Sin, aku ikut kamu aja."


***


Sore Harinya. Theo menghampiri Haris. Ia memang sedang dalam rapat pertemuan, hingga di mana selesai meeting. Ia meminta Haris untuk meluangkan waktu.


"Bung. Tidak seharusnya, kita ada dalam kerjasama yang saling bersaing. Rasanya, menggali lubang kuburan untuk dirimu bukan?" ucap Theo.


"Apa maksudmu?" tanya Haris.


"Sudahlah. Jangan berlaku bodoh, bukankah hal berita palsu yang menimpa Alea. Kamu telah tau, atau sama merencanakannya?"


"Apa maksudmu bung. Saya ga ngerti."


Theo pun menarik jas Haris. Hingga di mana para asisten mereka yaitu Erik dan Reno menghampiri. Tapi tatapan bos mereka tajam, tanda kode tidak ikut campur.


"lepas Bung!" titah Haris.

__ADS_1


"Baik. Haaah .. mengotori tangan sendiri, membuat waktu sia - sia. Tapi ingat, jika kau kembali mengotori segala cara untuk menjatuhkan perusahaanku, dengan keberadaan dan Alea yang menjadi korban. Bukankah itu rencana bagianmu?" tatap Theo dengan tajam.


"Aku memang tau, tapi aku tidak ada hubungan dari bagian rencana itu. Jadi lepas omong kosongmu!"


Haris berdiri, dan meninggalkan ruangan itu. Tanpa perduli, jika Theo semakin kesal. Ia meminta Erik untuk mencari tau, apa tiga preman yang pernah ingin menodai Alea. Adalah hal rencana Haris yang ingin menjatuhkannya.


"Baik Bos. Tapi mereka masih bungkam. Yang kedua masih tak bisa bicara karena tinjuan itu." jelas Erik.


Theo ingat, memang ia meninju tenggorokan kedua pria yang hampir melukai Alea. Ia tidak tau bagaimana jika Alea sampai ternodai.


Bahkan ia masih curiga, jika Haris ada di balik dalang dari otak rencana kotor.


Theo tau siapa Haris, dia akan melakukan segala cara untuk menjatuhkan perusahaan dan mentalnya saat ini.


"Erik. Apa Haris sudah tau tentang siapa Alea?"


"Untuk saat ini. Masih belum tau, saya telah mengubah data dari panti. Kebetulan bapak asuh Alea mau bekerja sama. Sehingga sewaktu waktu Haris curiga, dia tidak akan menyesal dan merebut hati Alea. Demi kepentingan nya lagi."


Theo tersenyum, lalu ia meminta pulang lebih awal. Ia pun, menatap pesan. Jika Alea akan segera pulang. Dan menunggunya di halte biasa dekat kantor.


"Thanks ya Al. See you."


"Yes, see you juga Sinta sayang."


Sinta pamit, hingga di mana Alea kembali pergi ke kasir. Tanpa curiga, Sinta telah menjauh pergi dari loby utama. Namun Alea kembali ke tempat furniture untuk menyelesaikan tagihan.


Ia mengambil struk, dan menandatangani paket yang akan ia bawa untuk surprise Theo. Meski dalam waktu empat jam, proses nya akan memakan waktu tiba di rumah di waktu malam.


"Biasanya aku berbelanja furniture untuk mas Haris, tapi kali ini setelah apa yang aku lihat bertemu mas Haris. Rasanya aku ingin shoping untuk mas Theo. Anggap saja, tadi tidak bertemu." lirih Alea, bentuk perhatiiannya yang sedih.


Pasalnya ia selalu membuat kejutan untuk mas Haris, akan tetapi saat ini ia anggap Theo suami pura puranya itu, adalah teman hidup aslinya.


'Haah! Sedih, aku yakin ada banyak perempuan di luar sana, yang belum dikarunia keturunan. Bukan berarti mandul kan?' batin Alea meremas ujung bawah kemejanya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2