Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti
HARI KE DUA


__ADS_3

Alea tertegun, apakah suaminya ada masalah atau menghubungi, soal kasus Irene dan Haris yang saat ini ramai di media sosial.


Sehingga Alea meraih ponselnya, niat hati ingin video call Sinta, dijam siang kerjanya.


Jujur ia bahagia liburan kali ini, tapi jika di tinggal sendirian sudah pasti Alea akan mengacau sahabatnya itu agar tergoda mau menikah. Konon Sinta anti menikah, melihat Alea yang sering gagal, jujur Sinta takut menikah.


BERBEDA HAL DI RUANGAN LAIN.


Sinta mengirim berkas lembur hari ini keruangan Erik. Lalu masih menatap Erik yang sok sibuk, tatapan tak jelas tanpa menatapnya jika ia datang. Ia berlaga sok bos, saat di ruangan pak Theo.


"Dih, udah kaya big bos aja loh." sindir Sinta.


Tapi Erik masih menatap laptop dan mencoret sesuatu pada bolpen di map hitamnya.


"Eeh. Gue nanya, gue nyindir. Lo ga peka amat sih, bilang makasih kek. Nih gue udah selesai." ketus Sinta.


Erik pun menoleh, lalu menarik nafas dengan amat kesal saat ini. Sebelumnya ia baik baik saja, tapi ketika Sinta datang di pindahkan mengganti tugas Alea. Ia cukup sulit untuk memahami karyawan yang bernama Sinta.


"Jika sudah keluarlah. Saya masih banyak pekerjaan Sinta. Jika keluar tutuplah pintunya lagi!" ketus datar Erik.


"Oke .. gue bakal tutup. Tapi, gue boleh minta satu pertanyaaan gak?" mendekat Sinta.


"Keluar. Saya bilang keluaaar Sinta!! saya tidak ingin karyawan lain. Melihat kita dekat dan berpikir buruk!" teriak Erik.


Tatapan itu membuat Sinta terkejut, pasalnya pria yang benar membuatnya kesal. Kala tatapan serius itu keluar, ia sungguh terpesona dan dengan menutup matanya. Ia berlalu dan keluar, berusaha tak menampakan menyukai ketertarikan pria di depannya dengan nada kesal.


"Oke. Gue keluar, puas lo!" Braaaagh.

__ADS_1


Menendang kaki meja. Sehingga Erik hanya menunduk kembali dan fokus, setelah melihat aksi Sinta yang seperti preman. Andai dia bukan teman baik, istri dari bosnya itu mungkin sudah melayangkan perintah surat SP.


"Nona Alea dan Sinta mereka berkawan sahabat. Tapi berbeda sekali dia, sungguh wanita penuh arogan dan emosi." lirih Erik.


***


Villa


Berbeda hal. Di kegiatan liburan Alea dan Theo.


Alea cukup ingin tau, bagaimana pria yang membawanya ini berlibur untuk berkeliling, sesaat mendapat balasan jika Sinta sedang sibuk dan lembur. Maka Alea memilih berkeliling keliling bersama Theo.


Sehingga ia membangunkan Theo dengan sebuah bulu merak yang terhias di meja ruang tamu.


Ssssst!! Zzzzz !! Suara dengkuran jelas.


"Heuumph. Dengan cara apa, aku sudah membuat mas dengan lembut. Mencium pipi mas, tapi mas Theo ga bangun juga." senyum paksa Alea.


"Kamu ingin apa, mau lagi ya?" lirik goda Theo.


"Mas, kamu gitu deh. Katanya mau keliling, ajak aku ke nusa Briliant. Tapi kalau cuma seharian di kamar, gimana bisa di anggap liburan? mas baru ajak aku kedepan aja loh."


Theo menyandarkan dirinya, ketika matanya masih mengantuk. Alea memberikan satu gelas panjang bening, air minum. Ia meneguknya dan berterimakasih, lalu meregangkan ototnya ketika bangun pagi.


Theo berdiri, menampaki lantai dan berolahraga di tempat. Sesuatu terlihat jelas, Alea sangat syok kala melihat sesuatu di bawah pusara suaminya yang ikut bangun.


"Mas, kamu olahraga seperti ini di depanku. Bagaimana kelak, kalau kamu juga di fitnes ruangan terbuka?" tatap Alea.

__ADS_1


"Kenapa. Pria memang seperti ini sayang, jangan jadi masalah. Oke!" goda Theo.


"Mas. Kamu jahat, bisa - bisanya kamu enteng bicara kaya gitu." nada kesal Ala.


Alea memukul suatu benda yang bangun jelas. Dengan sebuah bantal, dan berlalu pergi. Hingga di mana, aksi Theo yang senyum mengejar kilat aksi Alea yang marah.


Hingga di mana, ia menarik tubuh dan memeluk Alea.


"Eehm. Mas, jangan menggesek gesek. Kamu belum mandi. Ayo cepat mandi!" menggeser tubuh.


"Jangan marah. Mas juga ga tau kenapa, kalau dekat kamu. Kamu seperti magnet, buat mas berdiri dan on. Kamu mau menidurkannya?!"


Alea menatap wajah Theo. lalu mencengkram halus wajah dan mencubit hidung suaminya.


"Enggak. Kamu mandi dulu mas, ayo. Kita sarapan habis ini!" lirik Alea.


Tanpa ba bi bu. Theo memasang wajah sedih, memanyunkan bibirnya dan berkata.


"Kasihan sekali, junior ini telah bangun. Tapi tuan empunya tak bisa berbuat apa apa untuk memberi sarapan. Lagi pula menolak itu tidak baik bagi seorang istri. Kamu tau sayang kenapa ..?"


"Mas. Mandi dulu ya!" senyum Alea.


Dengan kilat, Theo membopong Alea dengan paksa. Ia masuk dan menutup rapat pintu kamar mandi. Membuka seluruh tak usah ditanya ...!!


"Mas, kamu nakal. Aku sudah mandi basah lagi, kamu tau. Kalau aku ... Heuuumph."


Alea membulat sempurna, kala masih bicara. Tapi ranumnya telah di tutup.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2