
Malam ini, Sinta telah duduk di taman. Ia menghampiri berbagai sebuah restoran yang mirip seperti club. Dengan melihat bangunan besar di penjuru kota Amsterdam. Ia menunggu kedatangan Vero yang tak lain, menunggu hubungannya ingin di bawa pergi ke mana.
Dengan berat hati, sudah empat jam ia menunggu tak ada batang hidung pun yang muncul. Sinta benar benar kesal, mengapa ia kenal dengan Vero yang seperti anak kecil saat merajuk. Ia tak dewasa, dan juga memikirkan dirinya yang telah jauh.
JLEGEEER !!! HUJAN RINTIK TURUN SEMAKIN LEBAT.
Sinta menatap dagunya kala sebuah payung hitam, telah memayungi membuat kepala rambut tak jatuh terkena air hujan. Belum lagi sebuah mantel, Erik datang dengan kilat meminta Sinta untuk pulang. Meski tak ingin, awalnya Sinta ingin tetap menunggu Vero.
Sinta akhirnya dengan berat hati, harus meletakkan surat dengan sebuah tulisan di bangku panjang. Dengan tulisan untuk Vero, dengan berat hati ia segera berdiri dan menerima rangkulan Erik, yang tak mana ia juga sempat bersin bersin kala cuaca semakin ekstrim.
Sinta tak menyangka, jika nasibnya harus begini. Ia ingin sekali berbicara dengan menatap wajah, meminta maaf dan meski hubungan mereka harus putus di tengah jalan. Sinta sadar, ia putus asa dan mau tidak mau hanya Erik kini yang harus terima. Tidak ada lagi, kebahagiaan untuk berkomitmen selain menerima Erik.
"Pria itu tidak akan mau menemuimu, sudah berapa kali aku bilang padamu. Jangan buang waktumu!"
"Tapi, aku hanya mencoba. Mama Reta seorang wanita dan ibu. Aku harus bagaimana Erik? Setidaknya aku bisa menjelaskan dan bertatap apa yang harus aku terima."
"Sudahlah, ayo masuk! Di luar sangat dingin!"
HAAACIH ..HAAACIH!!
Erik membantu memberikan mantel, dengan berat hati Sinta menerima balutan mantel berbulu itu dengan senyum dan lembut. Ada rasa kesedihan mendalam, kala Sinta tak bisa memutuskan untuk bertemu. Ia begitu sakit, merasakan sesak kala ia merasa cinta tapi di acuhkan.
Kenapa setiap aku mencintai dalam, pria selalu membuatku sakit? Apa aku di takdirkan tak bisa untuk mencintai dan saling mencintai seperti pasangan umumnya. Benak Sinta menunduk dan bersandar menghadap kaca. Kala dirinya hanya diam tak ingin menoleh ke arah tatapan Erik saat mobil itu melaju.
"Bandara sekarang pak!" hembusan teriakan Erik yang meminta supir untuk cepat mengantarnya. Tapi raut wajah Sinta, tetap saja tak bergeming sepatah kata pun.
"Aku tau, aku bukan tipemu. Tapi aku pria yang bertanggung jawab dan bekomitmen untuk setia tak melukaimu Sinta." deru batin Erik menatap Sinta.
__ADS_1
Sementara dari ujung, Vero dengan balutan jas hujan hitam. Ia kembali menatap taman yang telah di janjikan. Ia begitu berkaca kaca akan kesedihan, ia harus membuka lipatan surat itu dengan kekecewaan.
"I'm sorry Sinta. I did all this to you," saya minta maaf padamu Sinta telah melakukan semua padamu. Vero harus menelan pahit, kala dirinya harus melepas Sinta tanpa pertemuan kembali. Vero belum siap sebagai calon ayah dan berkomitmen, meski ia punya rasa.
'Gue tau, apa yang terbaik buat lo. Dari itu gue minta Erik buat tanggung jawab sama lo, gue salah udah melukai dan membuat bekas di tanda hati dan mungkin sakit, tapi gue akan hilang dari hadapan lo Sinta. Ga perlu lagi kita bertemu dengan tatapan penuh arti dan senyuman, cukup orang asing sama seperti awal tak mengenal'
Vero mengambil kertas dari bangku dengan sengaja. Ia segera membawanya kedalam saku jas tak akan terkena air. Melihat mobil hitam yang di tumpangi Sinta dan Erik sudah semakin jauh. Jauh dari lubuk hatinya, sangat sakit kala dirinya harus melepas Sinta. Ia harus bertukar perasaan, kala melihat Erik yang ia tau adalah sang kakak berbeda ibu. Meski kini sang ayah telah tiada.
'Gue harap lo benar benar bisa membahagiakan Sinta kak!' Vero melangkah pergi, karena sampai saat ini Sinta tidak tahu tentang keluarga Vero dan Erik masih satu darah.
***
BERBEDA HAL DENGAN ALEA.
Alea tengah masih mode merajuk, kejadian mas Theo membuat ia sakit dan sesak. Ia sengaja duduk di teras rumah menunggu mas Theo pulang dari kantor. Tubuh Alea semakin lelah, ia sudah tak bisa lagi ke kantor karena sudah hamil besar. Ia juga tak perlu khawatir kala dirinya tak ada di samping mas Theo. Ada Reno yang mendampingi ketika Erik tak ada.
CEKLEG!!
"Mas Haris, gila kamu bisa sampai kesini? Pergi mas!" Alea menutup gerbang, namun cekatan tangan itu kembali menahan.
"Aku minta waktu sebentar saja. Please Alea!"
"Mas, kamu pria picik gila yang aku temui. Untuk apa kamu datang lagi dan bisa bisanya kamu melangkah kerumahku yang baru?"
"Tidak penting, aku mudah mencarimu meski beribu alamat kamu pindah Alea. Alea maukah kamu menemani teman hidupku, meski rintangan tiba aku berusaha berusaha selalu disisimu. Tolong pertimbangkan! tinggalkan Theo yang cacat itu! Suamimu itu akalnya sedikit hilang, bahkan salah satu tangannya palsu."
"Cukup! Pergi dari sini Haris!"
__ADS_1
Alea diam termenung apa ini nyata?? ia pun diam seribu basa tak menjawab. Merasa kesal akan dirinnya saat ini menatap pria tak tau diri.
Aku tau, masalahmu sulit dan masih menata hati, tapi aku akan berlapang hati, asalkan kamu bersedia selalu bersamaku dan menemani. Jadilah teman hidupku, kita bisa bersama sama Al. Theo selamanya akan gila, tangan plastik itu, apa kamu tega melihat anak anak nanti melihat ayahnya tak sempurna?"
Alea hanya diam. Seolah ingin menolak tak sanggup, menerima pun takut itulah dipikirannya. Hatinya sangat marah akan perkataan mas Haris menusuk.
Haris tau, wajah Alea ingin mengatakan sesuatu. "Jika kamu diam apa kamu menerimanya?" ungkap Haris.
Plaaagh!! menjijikan kamu Mas, enyahlah jangan pernah kamu datang tepat di wajahku lagi!!
Alea berjalan meninggalkan gerbang, ia berusaha ingin segera masuk kedalam rumah. Tapi nahas, Haris menarik tangannya seolah tak terima akan sikap Alea.
"Kamu ga bisa kaya gini sama aku, Alea ingat sejak dulu kamu banyak di bantu oleh siapa. KELUARGAKU ALEA?" teriak marah Haris.
"Tidak, pergi kamu Haris!!"
Teriakan Alea membuat dirinya semakin menahan kesakitan. Hingga di mana ia mencoba menahan dan melangkah tangga bebatuan.
Aauwwh!! sakit mendalam kala kakinya terbentur. Tak sengaja Haris membuat kaki Alea terluka, hingga di mana sebuah cairan begitu saja merembes dari pangkal paha yang terlihat kebawah mata kaki.
Sakiit!! Sakiit, Aaaaaakhwh!! bibi .... !!! teriak Alea menahan satu tangan ke sebuah dinding batu tanaman hias. Sementara satu tangan menahan area sensitif karena ia memakai dress balutan seperti daster bermotif berwarna Cream.
Haris yang panik, ia tau Alea akan melahirkan, berniat mendiamkan tanpa membantu. Tapi kala Alea berteriak dan pagar yang terbuka. Seluruh warga datang termasuk bibi dari pasar datang melihatnya.
NYONYAA .. YA AMPUN, TOLONG NYONYA SAYA , NYONYA SAYA MAU MELAHIRKAN!!!
Tbc.
__ADS_1