
'Kamu terlahir, sudah di gariskan untuk kita bersama. Jadi, jangan lagi lari dari kehidupanku. Aku salah yang menemukanmu terlambat. Hingga Haris lebih dulu ada di hatimu Alea.'
Alea melangkah akan rasa malunya. Ponsel dalam genggamannya, ia menatap dokter Celine menghubunginya. Ia pun menjauh dari keramaian, di tepi bunga besar. Alea menerima panggilan.
"Hallo."
"Ya, Apa Dok. Haah, baiklah. Mungkin saya akan lambat datang. Saya akan ke rumah sakit hari ini. Terimakasih dokter Celine, sudah menghubungi saya."
Alea ingin bersedih, namun ketika langkah Bi ila. Asisten di rumah menghampirnya, ia mengerjapkan mata.
Berusaha menyembunyikan kesedihan dan air mata yang jatuh saat ini. Alea tersenyum kala menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
"Nona. Penghulu dan Tuan Besar telah datang."
"Baiklah. Saya akan segera datang."
Cukup memakan waktu dua puluh menit, hingga Alea tiba di depan tamu penting, kerabat dan Papa Ben. Mereka menatap Alea sangat terkejut, kecantikan putri pewaris memang adanya. Hanya saja, Alea yang malang belum tau siapa identitasnya.
'Aku akan melindungimu Alea. Aku menikahimu bukan karena pura - pura. Menjadikan dirimu istri sesaat bagiku, hanya bualan dan omong kosong. Berharap dalam waktu sesingkat itu, kamu benar - benar bisa tau siapa pria yang harus kamu pertahankan. Lupakan Haris Anggara, cintai aku!' batin Theo.
Alea mendapat sambutan tangan oleh Theo. Dengan raut wajah terlihat bahagia. Alea sungguh benar - benar bingung, ia menatap wajah pria yang menikahinya sangat bahagia.
Layaknya pengantin yang serius menjalani kehidupan baru, tapi dari pikiran Alea saat ini. Pernikahan sebahagia apapun, akan berakhir sama dengan Haris kedua. Yang akan membuat dirinya semakin rapuh.
"Alea. Kuatkan pondasimu, agar kamu tidak mudah jatuh cinta. Cukup Haris pria yang membuat luka. Jangan biarkan kebaikan Theo membuat kamu terbiasa bergantung, mengharapkan di cintai adalah hal terpahit." batin Alea. Senyum palsu yang memandang seluruh yang hadir.
ALEA YANG MENARIK NAFAS, IA TERSENYUM MELIRIK SELURUH YANG HADIR DENGAN MENYAMBUT SENYUM.
"Tersenyumlah. Apa kamu percaya aku menikahimu pura - pura." bisik Theo.
__ADS_1
"Apapun itu. Jawaban yang paling real adalah perkataanmu yang pertama. Jangan lagi membodohiku, ingat janjimu. Setelah kita menikah aku bebas seperti biasa. Bukankah kita sudah saling membantu?" tatap bisik Alea.
"Benarkah. Ku rasa kamu salah mendengar Alea." Alea menohok menatap Theo yang tersenyum miring.
HEUUUUUM ... HEUUUUUM.
Suara deheuman dari papa Mertua. Alea pun kembali menatap sang penghulu.
Hingga di mana Alea menatap jelas, Theo menjabat tangan saksi. Namun wali Alea adalah wali yang pernah merawatnya di panti.
"SAYA NIKAH KAN .... "
ACARA IJAB KABUL PUN BERLANGSUNG SELAMA KURANG DARI SETENGAH JAM.
Acara pun berakhir, hingga di mana penghulu pergi. Dan tamu yang datang saling berjabat berharga untuknya.
"Pa Ajik. Terimakasih telah hadir!" ucap Alea.
Terimakasih. Alea memeluk pria paruh baya yang sangat berarti. Hingga di mana, Alea meminta pak Ajik untuk tinggal. Namun menolak karena masih banyak urusan.
***
Menjelang sore. Alea ingin sekali melepas gaunnya. Namun, ia melirik tak ada satu pun asisten yang tidak sibuk. Ia ingin sekali melepas kaitan yang tersangkut, namun terkejut saat Theo datang.
Theo tepat di belakangnya, Alea menatap dari cermin dengan terkejut.
"Kamu, mau apa?"
"Aku. Ini kamar pengantin bukan? Bukankah kita seharusnya."
__ADS_1
"Jangaan sentuuh! Ingat barter tolong menolong kita hanya sampai di ijab kabul!"
Heuumh, Theo menyungging senyuman, ia menarik gaun Alea. Meski Alea berteriak, lalu ia terdiam kala kaitan itu di lepas dengan sekejap.
"Jika butuh bantuan. Kenapa tidak telepon?"
"A-aku. Tadi hanya, hanya butuh asisten. Bukan kamu." ketus Alea.
"Tapi saat ini aku butuh kamu!"
Alea pun memutar tubuhnya, berusaha menjaga jarak. Tapi cekatan Theo menarik tubuh Alea. Hingga di mana, Alea meminta permintaan.
"Jangan lakukan itu. Aku mohon!"
"Kenapa, bukankah kamu telah terbiasa dan tak akan sakit jika aku ... ?"
"Cukup Theo. Aku belum pernah di sentuhnya lagi selama, karena .. "
"Karena, karena apa?" bisik Theo. Membuat telinga Alea geli hingga di mana ia mengecup jenjang leher Alea.
"Aku telah melihatnya, kamu telah membangunkan adik ku. Mengapa kamu menolak. Nyonya Theo Anggara?"
"Theo. Perjanjian kita tidak lebih dari akad. Akan tidak adil jika kamu melakukan lebih lagi!"
Theo terdiam. Mendengar perjanjian pernikahan pura - pura. Ia sendiri sedikit kesal, ia harus menuntaskan di kamar lain seorang diri. Hingga ia kecewa, menatap Alea dan menjauh pergi begitu saja.
"Tu- tunggu. Kamu mau kemana Theo. Aku belum ..?"
Belum sempat Alea meminta ijin. Ia ingin kerumah sakit, tapi apalah daya. Ia memutar cara untuk pergi dari villa kediaman Theo.
__ADS_1
'Aku harus bagaimana? Tidak ada satupun taksi yang mau melewati villa ini. Apa aku harus berjalan keluar diam - diam ke rumah sakit.' Benak Alea.
Tbc.