
Setelah bertemu dokter Frans, Alea menghubungi Sinta, berharap ia mau menemaninya ke rumah sakit. Ia dengar keadaan mama Riris telah membaik. Bahkan perjumpaannya kali ini bersama dokter Frans adalah meminta detail alamat suster yang di curigai membantu Irene agar pasien lumpuh.
Tak mendapati lama, mas Theo memberi pesan ia akan datang bersama Venzo ke rumah sakit setelah meeting, itupun saat ia mendengar Sinta mendapat telepon dari istrinya.
Beberapa Jam Kemudian.
Sinta menenangkan mama Riris. Ia juga mulai menenangkan kala kasus Irene yang menjebak Alea dan sabotase di gedung zona Steel. Hingga di mana, Sinta meminta mama Riris untuk tenang, kala terjadi kemungkinan yang terburuk.
"Sinta. Mama ga akan tenang, kalau Haris kondisi seperti ini. Tapi dia akan masuk jeruji besi. Gimana soal karier dan masa depan Haris nak? Mama tidur sudah sangat lama, sehingga tidak tahu Alea bukan lagi istri Haris."
"Mama yang sabar ya, Alea ga bisa berbuat apa apa, tapi Alea mengusahakan. Agar Haris tetap tak terlibat, hanya saja. Soal pengguyuran darah. Mama tau kan? kalau Alea phobia itu. Hingga saat itu Alea masuk rumah sakit, tapi semua ini di tangani oleh Theo. Bukankah Theo anak mama juga ?"
Sinta menatap, mama Riris senyum kecil. Wajah sedihnya kembali beraurai air mata. Hal itu di sadari oleh Venzo yang tak jauh melihat aksi dua wanita yang saling bercerita di masa lalu. Tapi ia sebagai pria, hanya bisa mendengar dan mencoba untuk mendampingi Sinta sesuai janjinya.
"Yah, kenapa melihat wanita menangis. Aku seperti ingin ikut juga?" batin Venzo, yang di sampingnya ada Theo dibalik pintu.
Mama Riris sangat kecewa pada Irene, menantunya Alea yang berharap di sayangi mati matian oleh anaknya. Tapi balasannya adalah bermain api di belakang Haris, bahkan semua aset telah di ganti namanya dan di jual sepihak.
"Dasar tidak tau diri, apa yang ada di pikiran Irene, kenapa ia harus bertemu dengan anak mama. Jika seperti ini, sungguh memalukan dan Theo dia tetap anak mama, meski bukan lahir dari mama. Mama bukanlah ibu sambung yang baik."
Sinta memeluk mama Riris, ia begitu bingung harus ada di posisi siapa. Jika di Alea ia benar semakin sakit melihat mama Riris. Jika di posisi mama Riris tidak adil bagi Alea dan ia juga amat kesal dan dendam pada Irene yang pernah mengambil nama aslinya saat dulu, ia benar memaafkan. Tapi melupakan itu sulit, hingga ia benar benar rapuh kala dirinya harus menjadi nama Sinta yang aslinya adalah nama ines, bahkan kehidupannya jauh menderita dan memilukan jika tak bertemu mama Riris.
Mereka pun bergantian membantu Riris setelah sadar dari komanya. Dan Alea pamit keluar setelah mama Riris dijaga oleh Sinta dan Venzo. Karena saat ini terlihat suster sewaan mas Theo akan menjaga mama Riris 24jam.
BERBEDA HAL DENGAN ALEA.
__ADS_1
Alea kini berada di taman, ia menatap punggung mas Theo yang semakin gelisah. Entah ia marah, karena mendengar nama Haris. Atau masa lalunya yang lebih dulu mengenal keluarga Anggara.
"Mas, jika aku salah. Aku minta maaf ya!"
"Heuumph, sayang. Mas hanya kecewa pada diri mas. Seharusnya mas menemukan kamu lebih dulu, mas merasa canggung antara hubungan kalian dengan keluarga Riris."
"Maksud mas, meragukan aku dan Sinta. Tapi kenapa?"
"Mas sedang menangani kasus Haris, tapi ada yang janggal. Mas minta kamu tak dekat dulu dengan mereka, karena mas yakin ada sesuatu yang lebih fatal."
"Mas, aku paham. Tidak mudah bagimu menatap istri muda dari papamu. Bagaimanapun kisah mereka, aku paham kamu merasa membencinya bukan."
"Mas sudah lama membenci diri mas, rasanya berada dalam asuhan istri muda sejak kecil, bahkan mamaku yang sakit bersedih mendapati papa telah menikah lagi."
Theo menatap Alea yang terdiam, ia cukup tau perasaaan Alea kecewa. Setelah kini menjadi istrinya. Ia harus membatasi siapapun yang berada di dekatnya.
"Maafkan mas Alea, semua demi keselamatanmu kelak!" lirihnya memeluk Alea.
"Mas, sudahlah. Bukankah kita hari ini ingin mencari toko? Lagi pula, mas adalah segalanya yang akan terus aku turuti perintah demi menjadi istri terbaik mas."
"Ah, ya. Benar sekali, toko kue yang pernah kamu dan Sinta inginkan ya?" senyumnya.
"Heuumph, sebenarnya Sinta mas yang ingin. Tapi karena aku juga suka dan senang mengoven dan merias berbagai model kue. Aku dan Sinta mempunyai impian, tapi kamu kan tau. Aku ahli di kantor kan. Gimana kalau aku tetap bekerja di kantor mas?"
"Sayang, dengan kondisi kamu. Mas rasa kamu harus usaha sayang. Meski begitu, mas izinkan kamu sementara bekerja menemani mas. Tapi setelah toko selesai renov, perlahan kamu harus mencoba ya. Hanya menjadi bos!"
__ADS_1
Alea mengangguk, hingga di mana ia cukup terkejut kala ia memeluk suaminya. Ia menatap seorang pria yang berlari dan seperti habis memotretnya diam diam. Entah mengapa, Alea melepas eratan pelukan secara tiba tiba.
"Kenapa sayang?"
"Mas, aku rasa ada yang memotret kita. Apa mungkin mereka memata matai mas. Mas, aku harap mas berhati hati ya. Perasaan aku tak enak saat ini. Takut terjadi sesuatu!"
"Hei, sayang. Jangan panik, tidak ada yang terjadi pada kita. Mas yakin, itu hanya perasaan tak berarti saja. Ayo kita ke dalam! mas akan mengendarai saat ini."
Alea sedikit ragu, entah mengapa ia semakin gugup. Semakin tak karuan, kala dirinya akan pergi berdua saja bersama suami tercinta. Tapi mengingat jelas. Apa yang ia lihat bukanlah ilusinya. Alea berusaha untuk menenangkan diri, berharap perjalanannya tak ada hambatan apapun. Hingga di mana jari tangannya terbentur kayu dinding tembok dekat pintu lift saat ia membelok.
"Auuuwh."
"Sayang, hei. Kamu kenapa tangan mu berdarah?"
Theo menyesapi jari tangan Alea yang berdarah, mengisapnya dengan membuat luka itu tak mengeluarkan darah. Hingga di mana Alea sedikit pusing, ia mencoba menyeimbangi dirinya agar tetap terjaga.
Tbc.
Mohon maaf delay Up. Author sambil jaga ayah di rumah sakit.
Happy Reading All.
Yuks mampir juga ke genre cerita Author.
#PengantarBoxJutawan.
__ADS_1